
Wisnu keluar dari cafe dengan keadaan yang sangat kacau. Bayu yang mengekor di belakangnya hanya bisa menatapnya dengan miris. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain membantu mencari Radha.
"Sekarang bagaimana? Kita akan mencari kemana lagi?" Tanya Bayu sesampainya di samping mobil Wisnu.
"Coba loe susuri jalanan di sekitar kampus dan cafe. Gue cari di rumah, siapa tahu istri gue udah pulang naik taksi."
"Kenapa nggak loe coba hubungin orang rumah saja?"
"Astaga! Kenapa gue nggak kepikiran ke sana?" Wisnu segera menelpon Bunanya. Namun saat sambungan telepon terhubung dan dia menanyakan tentang keberadaan istrinya, Buna Laras malah balik mencecarnya. Karena setahu Buna Laras, Radha ikut bersama anaknya ke kampus.
Wisnu langsung mematikan sambungan teleponnya. "Aaaarrgh!" Hampir saja Wisnu membanting ponselnya kalau saja ia tidak ingat bila sewaktu-waktu istrinya itu menghubungi dirinya.
"Bagaimana?" Tanya Bayu yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Wisnu. "Baiklah, mending sekarang loe pulang, ceritakan pelan-pelan sama kedua orang tua loe. Biar gue yang cari di sekitar sini."
Wisnu langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian melesatkan kuda besinya meninggalkan pelataran cafe menuju ke rumah. Sedangkan Bayu juga melesatkan kuda besinya menyusuri jalanan di sekitar cafe dan kampus.
Setibanya di warung, ya, Wisnu langsung masuk ke dalam warung karena Bunanya pasti berada di warung. Dan benar saja, ada ayah Seno juga di balik meja kasir.
"Wis, mana istri mu?" Buna Laras langsung mencecar anaknya saat anaknya itu tiba. Ayah Seno, Bu Ti dan Bu Sih pun ikut mengerubungi Wisnu. Dan orang-orang yang berada di rumah makan itu pun ikut menatap ke arah mereka.
Wisnu langsung menceritakan semuanya, berawal dari mereka yang tiba di kampus hingga ia mendatangi cafe kakak iparnya untuk mencari keberadaan sang istri.
Buna Laras langsung menjerit histeris setelah mendengar penjelasan anaknya, bahwa saat ini menantunya itu menghilang entah ke mana. Ayah Seno berusaha menenangkan sang istri dengan memberikan pelukan.
Namun saat terjadi kehebohan di warung akibat menghilangnya Radha, tiba-tiba saja ponsel Wisnu berbunyi tanda pesan masuk. Wisnu segera membuka ponselnya dan berharap istrinya lah yang menghubunginya. Dan benar saja, istrinya mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini.
"Siapa?" Tanya ayah Seno saat melihat kening anaknya mengernyit.
"Istri ku yah." Jawab Wisnu.
"Cepat angkat!" Suara Ayah Seno sedikit meninggi saat melihat anaknya itu hanya diam saja memandangi ponselnya dan tak langsung mengangkatnya.
Ayah Seno langsung menyambar ponsel anaknya dari genggaman tangan sang anak, hingga membuat Wisnu terkejut.
"Ayah tau tempatnya, itu sebuah apartemen. Ayo!" Ayah Seno langsung menarik tangan anaknya itu keluar dari rumah makan.
"Buna ikut yah!" Teriak Buna Laras seraya berlari mengejar suami dan anaknya. Namun saat tiba di samping mobil, Ayah Seno memintanya untuk tetap di rumah. Mau tak mau Buna Laras pun menurut apa kata suaminya.
Ayah Seno dan Wisnu segera meluncur ke titik lokasi yang dikirimkan oleh Radha. Ayah Seno yang duduk di balik kemudi, karena Ayah Seno yang mengetahui titik lokasi tersebut. Sedangkan Wisnu berusaha menghubungi istrinya namun tidak diangkat. Padahal ponsel sang istri aktif. Semakin paniklah dirinya, karena takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
"Lebih cepat yah! Radha tidak mengangkat telepon ku, padahal ponselnya aktif."
Ayah Seno pun semakin mempercepat laju kendaraannya. Lokasi apartemen yang berada di pusat kota Surabaya membutuhkan waktu yang lumayan. Apalagi saat ini bersamaan dengan waktunya para karyawan kembali bekerja setelah ishoma. Sudah pasti kendaraan memadati jalanan ibukota Surabaya.
Bunyi klakson bersahut-sahutan di perempatan lampu merah yang sudah kembali berwarna hijau. Ayah Seno kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit lebih rendah dari sebelumnya karena banyak kendaraan di depannya, dan lokasi apartemen pun sudah semakin dekat. Sedangkan Wisnu tetap berusaha menghubungi ponsel istrinya. Entah sudah yang ke berapa puluh kali, namun tetap saja panggilannya tidak diangkat oleh sang istri.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ