I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 136



Ting!


Bunyi notif pesan yang masuk ke ponsel Radha membuat sang empunya yang masih terlelap perlahan mengerjap. Radha menggeser tubuhnya agak ke tepi ranjang agar bisa meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas sebelum dirinya terlelap tadi. Radha segera membuka pesan yang ternyata dari suaminya itu.


[Sayang, aku nanti pulang agak sorean soalnya ada tugas. Mau dibawain apa?] -Wisnu-


[Lagi gak pengen apa-apa!] - Balas Radha singkat kemudian meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas dan bersiap untuk memejamkan mata kembali. Namun baru saja dirinya merem, ponselnya sudah kembali berbunyi. Dengan terpaksa Radha pun meraihnya kembali.


[Lagi marah?] -Wisnu-


Marah? Siapa yang marah? Rasa kantuk tiba-tiba menguap pergi saat Radha membaca pesan suaminya. Bukannya tadi mereka baik-baik saja? Terus kenapa suaminya itu bertanya seperti itu kepadanya? Memangnya siapa yang marah?


[Siapa yang marah?] - Dari pada salah paham lebih baik Radha bertanya langsung kepada suaminya.


[Baiklah, tidak usah di bahas lagi. Jangan lupa makan siang] -Wisnu-


[Heem!] - Lagi-lagi jawaban Radha membuat Wisnu bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa dengan istrinya itu? Apakah dia marah karena dirinya menggempur istrinya habis-habisan atau marah karena di ajak pulang ke rumah? Entahlah......


[Love you 😘] - Wisnu memilih mengabaikan prasangkanya. Namun dugaannya kalau istrinya itu sedang marah semakin kuat saat sang istri tidak lagi membalas pesannya. Padahal istrinya itu sedang berada di kamar mandi. Ya, tadi setelah membalas pesan sang suami Radha langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi karena sudah tidak bisa menahan lagi. Kantung kemihnya terasa penuh dan mendesak ingin segera dikeluarkan.


Wisnu langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya. Dengan lemas ia segera menyusul sahabatnya ke kantin untuk mengisi perut agar bisa konsentrasi mengikuti kelas selanjutnya.


Berbeda dengan Wisnu, Radha yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melesat keluar dari kamar tanpa menghiraukan ponselnya lagi. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu siang. Cacing-cacing di dalam perutnya pun serasa berdemo meminta jatahnya.


Radha melangkah menuju ke ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur. Di sana nampak Buna Laras sedang bergelut dengan peralatan dapur.


"Bun, ada yang bisa kakak bantu?" Radha mendekati bunanya.


Sekilas Buna Laras menoleh seraya tersenyum. "Kakak duduk saja. Ini sudah hampir selesai."


"Maaf ya kalau kakak bangunnya telat, jadi nggak bisa bantuin Buna masak." Radha mendekat ke arah mertuanya itu.


"Sudah tidak apa-apa, kakak duduk saja di sana!" Buna Laras menunjuk ke arah kursi yang ada di ruang makan. Radha pun akhirnya menurut.


"Ayah kemana Bun?"


"Ada di kamar, panggil saja biar kita makan bersama." Buna Laras meletakkan beberapa mangkuk berisi masakan ke atas meja. Sedangkan Radha segera bangkit untuk memanggil ayah Seno.


Tak berselang lama Radha sudah kembali bersama ayah Seno. Mereka langsung menyantap makan siangnya bertiga. Suasana hening karena tidak ada yang membuka obrolan. Mereka masih asik menikmati makanannya hingga nasi yang ada di dalam piring mereka tandas baru Buna Laras membuka suaranya.


"Sayang, apa Wisnu menyakiti mu?"


"Tidak, Buna hanya khawatir saja. Buna takut Wisnu memaksa mu karena pernikahan kalian kan terjadi bukan karena keinginan kalian berdua."


Radha mengulas senyum kemudian meraih dan menggenggam tangan bunanya yang ada di atas meja. "Buna tenang saja, meskipun pernikahan kami terjadi bukan karena keinginan kita berdua, tapi kita sudah sepakat untuk sama-sama belajar dalam membina rumah tangga. Buna doakan saja, semoga rumah tangga kami selalu di berikan kebahagiaan."


"Itu sudah pasti sayang, seorang ibu pasti akan selalu berdoa untuk kebahagiaan anak-anaknya."


"Buna tidak perlu mengkhawatirkan Wisnu, ayah tau Wisnu sangat mencintai istrinya." Ayah Seno mengalihkan pandangannya ke arah Radha yang membuat Radha salah tingkah. "Sekarang tinggal kakak yang harus belajar mencintai suaminya. Karena bagaimanapun Wisnu sekarang adalah suami kakak."


"I-iya ayah, kakak akan belajar. Kakak juga ingin menjalani pernikahan seumur hidup, bukan seumur jagung." Radha mengangguk.


"Apa selama ini ada sesuatu yang Buna tidak tahu?" Buna Laras menatap tajam suaminya.


"Wisnu sangat menyayangi kakak sebagai kakaknya. Tapi Wisnu mencintai kakak sebagai seorang wanita." Jelas ayah Seno. Sedangkan Radha hanya menunduk.


"Sejak kapan?" Buna Laras menatap suaminya dan Radha bergantian.


"Ayah tidak tahu sejak kapan, hanya saja ayah selalu memperhatikannya."


"Kenapa Buna sampai tidak tahu?" Tanya Buna Laras sendu. Buna Laras merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak memahami perasaan anaknya itu.


"Sudahlah Bun, yang penting sekarang Wisnu sudah bersama dengan cintanya. Tugas kita sekarang cukup mendoakan agar mereka selalu dilimpahkan kebahagiaan." Buna Laras mengangguki ucapan ayah Seno.


Ayah Seno bangkit dari duduknya kemudian masuk kembali ke dalam kamar untuk beristirahat siang. Sedangkan Radha membantu buna Laras membereskan piring-piring bekas makan mereka.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ