
"Oma, Opa!" Radha berlari menghampiri Mama Rosi dan Papa Hadi yang duduk di ruang tengah saat memasuki apartemen. Radha langsung duduk di pangkuan papa Hadi. "Opa!"
"Iya sayang!" Papa Hadi mengelus kepala cucunya.
"Tadi kakak habis mengunjungi makam papa." Radha berucap dengan polosnya. Papa Hadi dan mama Rosi saling pandang, kemudian mereka berdua beralih menatap Anja dan Nara bergantian.
"Papa?" Beo mama Rosi seolah meminta penjelasan.
"Iya Oma! Kata Daddy kakak punya dua ayah, yaitu Daddy dan Papa. Tapi kata Daddy, Papa sudah meninggal." Radha menunduk dengan raut wajah sedihnya. "Padahal kan kakak belum pernah ketemu sama Papa." Lanjut Radha yang membuat Anja dan Mama Rosi serta mbak Tini berkaca-kaca.
"Sayang, sini sama oma." Radha pun beralih duduk di pangkuan Mama Rosi. "Dengerin Oma ya," Mama Rosi mengelus sayang kepala cucunya. "Karena Papa sudah meninggal, jadi tugas kita adalah mendoakan agar Papa bahagia di surga. Radha bisa kan berdoa?" Tanya Mama Rosi yang diangguki oleh Radha. "Anak pinter! Jadi mulai sekarang kakak harus selalu mendoakan Papa, oke sayang?"
"Oke Oma, kakak akan selalu berdoa untuk Papa yang ada di surga."
Setelah makan malam bersama di apartemen dengan memesan makanan online, Papa Hadi dan mama Rosi kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Mereka memang sengaja memesan makanan via online karena tidak mungkin untuk memasak sendiri, karena di dalam apartemen tidak ada apapun yang bisa dimasak. Kenapa tidak makan malam di restoran saja? Jawabannya adalah karena terlalu riuweh jika harus mengajak kedua bayinya. Yang ada mereka malah tidak jadi makan. Jadi keputusan yang paling tepat adalah memesan makanan via online saja.
"Terimakasih mas!" Ucap Anja dengan tulus seraya memeluk tubuh suaminya dari samping dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Saat ini mereka berdua sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar setelah menidurkan kedua anaknya.
"Untuk?" Nara membalas pelukan sang istri.
"Untuk semuanya!" Anja mendongakkan kepalanya lalu, Cup! Satu kecupan mendarat di bibir Nara.
Nara segera melucuti pakaian yang dikenakan oleh sang istri dan juga yang dikenakan olehnya. Mereka berdua pun bertempur dalam mode silent di atas sofa karena takut mengganggu kedua buah hatinya yang tertidur lelap.
Entah berapa kali mereka berdua menggapai puncak kenikmatan. Yang pasti hingga waktu berguling menjadi dini hari, mereka baru mengakhiri aktivitas yang melelahkan sekaligus menyenangkan itu. Beruntung kedua anaknya tidak ada yang terbangun. Nara segera menggendong tubuh lemas sang istri masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka langsung merebahkan diri di samping kedua anaknya yang berada di tengah-tengah mereka. Nara dan Anja bersama-sama memejamkan matanya bersiap menjemput mimpi.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ