
Sepasang raja dan ratu malam ini nampak duduk di atas pelaminan yang megah. Jangan lupakan ratu kecil yang berada di tengah-tengah mereka, siapa lagi kalau bukan si comel Radha. Dengan senyum yang mengembang, mereka berdua menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir malam ini. Si comel Radha pun tak mau ketinggalan, ia ikut mengulurkan tangannya kepada setiap orang yang melintas di depannya. Membuat orang-orang yang ada di sana merasa gemas dengan tingkahnya. Jika Radha merasa lelah, ia akan meminta gendong daddy-nya dari pada harus duduk di kursi pelaminan.
Memang Bukan undangan pernikahan yang disebarkan oleh Nara, melainkan undangan resepsi pernikahan. Orang-orang pun mengira Radha adalah anak kandung Nara. Mungkin memang selama ini mereka baru mengadakan resepsi pernikahan, pikir orang-orang yang ada di sana, termasuk Sarah dan keluarganya yang juga menjadi tamu undangan malam ini.
Sarah juga tidak tahu kalau tadi pagi di rumah kediaman Wijaya mengadakan prosesi ijab kabul. Sarah mengira rumah Nara ramai karena banyak sanak saudara yang berdatangan.
"Selamat ya mas, aku pikir nggak jadi ngadain resepsi pernikahan." Sarah menyalami Nara. Nara segera mundur ke belakang saat Sarah ingin memeluknya.
"Terimakasih!" Ucap Nara datar kemudian menarik tangannya dari genggaman Sarah. Sarah pun tersenyum kecut kemudian beralih menyalami Anja. Tidak ada pelukan, bahkan cipika-cipiki saja tidak, layaknya perempuan yang lainnya. Sarah langsung pergi dari atas pelaminan.
"Selamat ya Nja, semoga kamu bahagia selalu." Laras langsung memeluk erat sahabatnya itu saat tiba gilirannya. Isak tangis terdengar dari mulut mereka berdua.
"Sudah jangan nangis, ini kan hari bahagia kamu sayang." Bu Mayang mengelus kepala Anja dari belakang punggung Laras. Laras pun segera mengurai pelukannya kemudian beralih menjabat tangan Nara.
"Titip mereka berdua mas, bahagiakan mereka berdua dan jangan pernah menyakitinya." Ucap Laras masih dengan air mata yang berlinang. Nara pun mengangguk.
"Ibu titip anak dan cucu ibu Ra, semoga kalian bahagia." Ucap Bu Mayang dengan mata berkaca-kaca kemudian memeluk Anja dengan erat. Setelah Laras dan Bu Mayang kemudian di belakang menyusul Radit dan Seno serta para karyawan rumah makan Bu Mayang.
"Selamat bro!" Bima langsung memeluk bosnya sekaligus sahabatnya itu saat tiba gilirannya. "Semoga bahagia." Bima menepuk punggung Nara dua kali sebelum akhirnya mengurai pelukannya dan beralih memberikan ucapan selamat kepada Anja, lalu segera turun dari pelaminan. Kemudian disusul dengan para tamu undangan yang lainnya.
Suasana pesta yang sudah lumayan tenang karena sesi pemberian ucapan selamat sudah selesai, kembali heboh dengan kedatangan dua balita kembar yang nampak menggemaskan. Membuat orang-orang yang ada di sana ingin mencubit pipi gembul kedua balita tersebut.
Shasa berjalan dengan anggun layaknya seorang princess yang diapit oleh dua orang pengawal yang ada di sisi kanan dan kirinya. Di sebelah kanan ada dokter Andrew yang menggendong Jerry yang bersedekap dengan angkuhnya. Dan di sebelah kiri ada Edward yang menggendong Gerry yang juga bersedekap dengan angkuhnya. Para tamu undangan tanpa dikomando langsung memberikan jalan kepada mereka, membentuk seperti sebuah lorong.
Deg!
Deg!
Deg!
"*Inik*ah jawaban, kenapa selama ini Shasa menghilang bagai di telan bumi? Dan inikah alasan Shasa selama ini tak menunjukkan wajah kedua anaknya?" Pikir orang-orang yang mengenal Shasa bertanya-tanya dalam hati.
Seketika itu Laras langsung berlari meninggalkan pesta menuju kamar hotel tempat mereka akan menginap malam ini. Ya, malam ini mereka semua akan menginap di hotel tersebut. Radit yang melihat istrinya berlari keluar dari ballroom hotel langsung mengejarnya.
Shasa nampak acuh dan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Ia tetap melangkah menuju pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Dokter Andrew dan Edward serta Mama Dona dan Papa Dika, mommy Yasmin dan Dad Erwin setia mengekor di belakang.
"Mbak Shasa!" Anja langsung menubruk tubuh Shasa yang masih sedikit bohay itu hingga membuat sang empunya terhuyung dan hampir saja terjatuh. Beruntung ada dokter Andrew yang menahan tubuh Shasa dari belakang. "Terimakasih sudah datang mbak, hiks.. hiks.." Isak Anja di pelukan Shasa.
"Iiih cengeng, tahu gitu tadi aku nggak datang." Shasa mengusap punggung Anja yang nampak bergetar.
"Jangan balik dulu ke Singapura, pokoknya aku mau ngobrol banyak sama Mbak Shasa dulu. Mbak Shasa hutang banyak penjelasan sama aku."
"Ogah! Gue besok balik!" Canda Shasa, yang langsung berhadiah pelototan dari Anja. "Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Nja." Ucap Shasa tulus. Shasa memeluk Anja sekali lagi kemudian beralih memeluk Nara. "Titip mereka berdua mas." Nara pun membalas pelukan Shasa seraya mengangguk. Setelah itu Shasa segera turun dari pelaminan karena di belakangnya masih banyak yang mengantri terutama keluarganya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ