
"Hoooeekk..!" Anja segera berlari ke kamar mandi saat merasakan perutnya seperti diaduk-aduk. "Hoooeekk.. hoooeekk.."
"Sayang!" Nara yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung melesat ke kamar mandi saat mendengar suara orang muntah-muntah dari arah kamar mandi. "Sayang, kamu kenapa?" Nara memijat pelan tengkuk istrinya.
"Entahlah mas, tiba-tiba saja perut ku rasanya seperti diaduk-aduk."
Deg!
Jantung Nara tiba-tiba saja berdebar-debar saat mendengar ucapan istrinya. Pasalnya ini sudah satu bulan sejak ia menggauli sang istri untuk pertama kalinya setelah melahirkan. Ya, kali ini Nara benar-benar sudah menghitung hari demi hari yang sudah terlewati. Kalau memang benar malam itu terjadi pembuahan, berarti saat ini istrinya sedang mengandung satu bulan.
"Sudah?" Tanya Nara saat istrinya selesai membasuh wajahnya. Nara langsung membopong tubuh sang istri setelah mendapatkan anggukan. Nara membaringkan tubuh istrinya di samping baby Rendra yang rupanya juga sudah terbangun. "Sebentar aku ambil air hangat dulu." Namun saat baru melangkah, Nara sudah kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar ucapan sang istri.
"Sekalian minta tolong sama Mbak Tini buat mandiin Rendra. Aku nggak kuat Mas, badan ku lemas rasanya." Ucap Anja lemah.
"Iya sayang, sebentar ya?" Nara segera melesat keluar kamar dan menuju ke dapur.
Nampak Mbak Tini yang sedang membantu Mbok Parni menyiapkan sarapan.
"Mbak! Apa Mbak Tini sibuk?" Mbak Tini dan mbok Parni yang sedang fokus memasak pun terlonjak kaget saat mendengar suara majikannya yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.
"Eh, mas Nara. Ada apa mas?" Mbak Tini segera membalikkan badannya.
"Tolong mandikan Boy, istri saya lagi kurang enak badan."
"Iya mas siap! Ini juga sudah selesai, saya langsung ke atas." Jawab Mbak Tini langsung siaga. "Saya ke atas dulu mbok." Pamitnya pada mbok Parni.
"Ya, buruan sana mandiin cah Bagus." Mbok Parni mendorong pelan tubuh keponakannya.
Di dalam kamar Nara langsung membantu istrinya untuk duduk terlebih dahulu, kemudian menyerahkan gelas yang berisi air hangat kepada sang istri. Anja langsung meraihnya lalu meneguknya hingga tandas.
"Bagaimana? Apa sudah enakan?" Tanya Nara seraya meletakkan gelas kosong ke atas nakas. Anja mengangguk pelan. "Apa perlu ke dokter?" Nara masih terlihat panik karena wajah sang istri nampak sedikit pucat. Belum sempat Anja menjawab pertanyaan suaminya, ia sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi lagi karena perutnya kembali mual.
"Hoooeekk...!!"
"Sayang!" Nara pun tak kalah paniknya, ia langsung melesat mengejar sang istri. Nara memijat kembali tengkuk istrinya.
"Hoooeekk.. hoooeekk..!" Berkali-kali Anja mengeluarkan cairan bening dari dalam mulutnya. Tiba-tiba saja tubuh Anja merosot. Beruntung Nara yang ada di belakang istrinya sigap dan langsung merengkuh tubuh sang istri kemudian menggendongnya keluar dari kamar menuruni tangga satu persatu.
"Pak Mun!"Teriak Nara menggema di dalam rumah membuat penghuni rumah geger seketika. "Pak Mun siapkan mobil cepat!" Teriak Nara sekali lagi saat sudah berada di teras. Pak Mun yang saat itu memang sedang memanasi mesin mobil pun kaget saat mendengar dan melihat majikannya itu berlari membopong istrinya menuju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Pak Mun langsung membuka lebar pintu mobil bagian belakang. Setelah majikannya masuk ke dalam mobil, Pak Mun juga segera masuk kemudian melesatkan mobilnya menuju ke rumah sakit.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ