
JAKARTA
Tepat pukul sebelas siang Radha dan Elmer tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Dengan berjalan beriringan seraya bergandengan tangan mereka berdua keluar dari bandara tersebut, kemudian menaiki sebuah taksi. Sengaja mereka tidak memberi kabar karena ingin memberikan kejutan yang pastinya akan mengejutkan seluruh penghuni rumah.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya taksi yang ditumpangi oleh mereka berdua tiba tepat di depan pintu gerbang kediaman Wijaya. Elmer dan Radha pun segera turun dari taksi tersebut setelah membayar argonya.
Sejenak Radha diam mematung memandangi pintu gerbang yang nampak kokoh itu. Ada perasaan takut di hatinya, takut mengecewakan kedua orang tuanya dengan pilihannya.
"Ayo!" Elmer meraih tangan Radha dan langsung menautkan jemarinya. Sekembalinya Elmer dari luar negri, Elmer nampak berubah. Ini bukan Elmer yang dulu dikenal oleh Radha, dingin dan datar! Tapi Elmer yang ini berbeda, Elmer yang hangat dan tidak sungkan menunjukkan rasa cintanya kepada Radha. "Jangan takut baby, ada aku!" Elmer dapat menebak kalau kekasihnya itu saat ini sedang merasa gugup. Tangan Radha terasa dingin dalam genggaman Elmer.
Perlahan mereka melangkah mendekati pintu gerbang tersebut. Nampak pak Mul sedang duduk di pos satpam seraya menyandarkan kepalanya di dinding dengan mata terpejam.
"Pak!" Teriak Elmer sedikit keras hingga membuat pak Mul seketika membuka matanya dan langsung menoleh ke arah pintu gerbang.
Nampak anak majikannya itu berdiri di depan pintu gerbang bersama seorang laki-laki yang membuatnya terkejut. Pak Mul segera berlari untuk membukakan pintu gerbang.
"Loh kak, kok gak ngabari kalau mau pulang? Tau gitu tadi bapak jemput di bandara."
"Sengaja pak, mau kasih kejutan." Radha dan Elmer melangkah menuju ke teras rumah.
"Haduh, kayaknya bakalan ada perang dunia lagi ini." Batin pak Mul.
Radha langsung memencet bel yang ada di samping pintu setibanya di depan pintu rumah, membuat Pak Mul menggelengkan kepalanya. "Kenapa pake pencet bel segala, kenapa gak langsung dibuka saja?" Begitulah yang ada dalam benak pak Mul.
Tak berselang lama pintu rumah pun di buka dari dalam oleh Mbak Tini. "Ya Allah, anak ku!" Mbak Tini langsung memeluk erat tubuh Radha yang masih berdiri di depan pintu. "Kenapa pulang-pulang nggak ngasih kabar?"
"Hehe, sengaja mau kasih kejutan. Ibu sehat?"
"Alhamdulillah sehat!" Mbak Tini mengurai pelukannya.
Deg!
Pandangan Mbak Tini beralih menatap sosok laki-laki yang berdiri di dekat Radha.
"A-ayo masuk dulu." Mbak Tini menggandeng tangan Radha masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Elmer.
"Kok sepi Bu? Ini kan hari Minggu, pada kemana?"
"Pasti pada di kamar semua." Sahut mbak Tini. "Ya sudah, ibu bikin minum dulu." Mbak Tini segera berlalu dari ruang tamu.
"Sebentar ya El, aku cari Daddy dulu." Radha langsung masuk ke dalam setelah mendapatkan anggukan dari kekasihnya.
Tok.. tok.. tok..
Radha mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Mendengar suara ketukan pintu, mama Anja yang sedang rebahan bersama dad Nara pun menoleh ke arah pintu.
"Siapa?" Teriak mama Anja dari dalam kamarnya.
"Sayang, mana mungkin dengar, kamar ini kan kedap suara." Dad Nara mengingatkan istrinya.
Ceklek!
"Eh, sayang! Ya Allah, pulang kok gak ngabari?" Pekik Mama Anja terkejut kemudian langsung memeluk anak gadisnya itu.
"Hehe, sengaja mau kasih kejutan."
Dad Nara yang mendengar pekikan istrinya segera menyusul sang istri dan mendapati istri dan anak gadisnya sedang berpelukan di depan pintu kamarnya.
"Baby!"
Mendengar suara daddy-nya, Radha segera mengurai pelukannya kemudian berpindah memeluk daddy-nya. "Daddy!"
"Pulang kok gak bilang-bilang, ada apa?" Tanya dad Nara seraya mengelus lembut kepala putrinya.
"Ada sesuatu yang ingin kakak tunjukkan kepada Daddy dan mama. Tapi Daddy dan mama harus janji nggak boleh terkejut dan nggak boleh marah."
"Apa itu sayang?"
"Apa itu baby?" Dad Nara dan mama Anja bertanya bersamaan.
"Tapi janji dulu jangan marah."
"Apa kakak pulang membawa calon menantu untuk mama dan Daddy?" Tebak mama Anja. Radha hanya tersenyum simpul menanggapi tebakan mamanya.
"Apa? Jangan membuat Daddy penasaran!"
"Tapi janji dulu!"
"Iya!" Jawab dad Nara sedikit ragu.
"Ayo!" Radha menggandeng tangan daddy-nya menuju ke ruang tamu. Sedangkan mama Anja mengekor di belakang mereka berdua.
Degh!
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ