
"Sayang!" Teriak Wisnu saat baru saja memasuki lobby hotel. Sontak saja seluruh mata yang ada di lobby hotel menatap ke arahnya. Beruntung saat ini hotel masih dikosongkan dan hanya para pekerja saja yang berlalu lalang. Radha yang hampir mencapai lift pun seketika menoleh saat mengenali suara teriakan itu. Suaminya itu nampak berlari ke arahnya.
"Daddy dan mama sudah pergi?"
"Barusan diantar pak Selamet."
"Aku pikir berangkatnya nanti habis ashar, padahal aku tadi udah usahain pulang cepat untuk mengantar mereka ke bandara. Ya sudah kalau begitu, ayo naik!" Wisnu langsung meraih tangan istrinya lalu membawanya masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya naik ke lantai teratas di mana kamar mereka berada.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka perlahan melangkah beriringan dan Wisnu sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan istrinya. Padahal selama di dalam lift mereka hanya diam membisu dan sama sekali tidak ada obrolan di antara mereka. Namun Wisnu sepertinya enggan melepaskan genggaman tangannya.
"Sudah makan m-mas?" Tanya Radha saat mereka sudah masuk ke dalam kamar. Radha sepertinya masih ragu memanggil suaminya itu dengan sebutan Mas.
"Sudah tadi di kantin, kamu?" Wisnu meletakkan ranselnya ke atas sofa.
"Sudah, tadi bareng mereka di bawah."
"Owh, ya sudah, aku bersih-bersih dulu." Wisnu langsung masuk ke dalam kamar mandi. Radha menatap nanar ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Seketika itu ia teringat dengan ucapan mamanya tadi sebelum mereka berangkat ke bandara.
"Ingat sayang, status mu saat ini adalah sebagai seorang istri yang surganya ada pada seorang suami. Jadi berbaktilah kepada suami mu, karena ridho Allah ada pada ridho suami mu. Jangan pernah menolak jika suami mu meminta haknya. Lakukan kewajiban mu dengan ikhlas agar rumah tangga kalian selalu di penuhi dengan keberkahan."
"Sayang, kenapa melamun." Wisnu menyentuh bahu sang istri hingga membuat Radha sedikit tersentak. Saking asiknya melamun ia sampe tak menyadari kalau suaminya sudah keluar dari kamar mandi.
"Ti-tidak m-mas!"
"Tidak usah memaksa kalau kamu merasa tidak nyaman dengan panggilan itu. Panggil saja seperti biasanya, aku tidak keberatan."
"Tidak! Eem, aku hanya perlu membiasakan diri saja."
"Baiklah terserah kamu, sini!" Wisnu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang kemudian menepuk sisi di sebelahnya. Radha yang paham pun langsung menghampiri suaminya kemudian duduk di sampingnya. Wisnu langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Sedang mikirin apa tadi?" Tanya Wisnu di sela ciumannya bertubi-tubi yang ia daratkan di puncak kepala sang istri.
"Ti-tidak, hanya teringat pesan mama saja."
"Memangnya mama pesan apa tadi?"
"Suruh berbakti kepada suami."
"Owh!"
"Kok owh?" Radha menatap ke arah suaminya.
"Iya sih, tapi aku kan juga sedang belajar ini."
"Iya, sayang!" Wisnu langsung mendorong pelan tubuh istrinya hingga Radha terlentang di atas ranjang. Wisnu langsung mengungkung tubuh istrinya itu sebelum sang istri memberontak.
"M-mas mau apa?" Radha seketika membelalakkan matanya.
"Mama bilang apa lagi hem?" Wisnu seolah tak peduli dengan keterkejutan istrinya.
"Ma- eem, ma-mama bilang gak boleh nolak kalau suami minta haknya." Seketika senyum langsung tersungging di bibir Wisnu.
"Berarti aku boleh meminta hak ku sekarang?"
"Eh, tapi kan kita sudah sepakat."
"Tapi kan kata mama gak boleh nolak."
"Eh, i-iya, tapi jangan sekarang!"
"Tapi suami mu ini ingin sekarang sayang." Wisnu langsung m31um@t bibir istrinya agar istrinya itu berhenti bernegosiasi dengan dirinya.
"Eeemp-" Radha langsung mendelik tajam saat tiba-tiba mendapat serangan dadakan dari sang suami. Namun perlahan ia mulai membalas pagutan suaminya karena terbuai dengan kelembutan yang di berikan oleh suaminya. Hingga tanpa sadar pakaiannya satu persatu sudah di tanggalkan oleh sang suami.
"Aaaaaahh!" D3$@h Radha saat merasakan sesapan di lehernya. Tanda merah langsung tercetak dengan jelas di leher putihnya. Tidak sampai di situ, Wisnu juga meninggalkan banyak tanda di dada polos istrinya. Ia masih betah bermain-main disana yang menurutnya sangat menyenangkan, hingga membuat istrinya itu melenguh beberapa kali karena kegelian dan juga h@$r@tnya yang memuncak.
Merasa istrinya sudah terbuai dengan aksinya, ia segera melepaskan sendiri pakaiannya dan kembali mengungkung tubuh istrinya. Wisnu kemudian melepaskan satu-satunya kain yang masih tersisa di tubuh bagian bawah istrinya. Dan sore itu terjadilah sore pertama pengantin baru yang semalam sempat tertunda.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ