
Welcome To Surabaya
Setelah menempuh perjalanan darat dan udara selama kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka bertiga tiba di Surabaya. Lebih tepatnya di kediaman Laras. Rumah makan Bu Mayang masih beroperasi hingga saat ini, di bawah kendali Laras dan Seno suaminya.
"Bunaaaaa!" Teriak Radha seperti anak kecil seraya berlari menghampiri Buna Laras yang berada di balik meja kasir.
"Loh! Kalian kok nggak ngasih kabar kalau mau datang." Laras menyambut pelukan Radha dengan hangat.
"Gimana kabar Buna sama ayah?" Radha mengurai pelukannya.
"Alhamdulillah kami semua sehat sayang." Laras mendaratkan ciuman di pipi kanan kiri Radha. "Nja!" Laras beralih memeluk mama Anja. "Sehat kan?" Mama Anja mengangguk. "Mas!" Laras mengulurkan tangannya ke arah Nara dan langsung disambut oleh Nara.
"Dimana Seno?" Nara mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah makan.
"Ada di rumah mas, palingan juga lagi nonton TV. Ayo kita langsung ke rumah saja." Laras menggamit lengan Radha dan langsung mengajaknya ke rumah lewat pintu samping.
Benar saja, Seno memang sedang berada di depan televisi. Namun fokusnya bukan berada pada benda kotak yang menayangkan sebuah berita tersebut, melainkan pada benda pipih yang ada di dalam genggamannya.
"Mas!" Panggil Laras kepada suaminya.
"Heeemm!" Sahut Seno yang rupanya belum menyadari kedatangan tamu dari Jakarta itu.
"Mas!" Panggil Laras sekali lagi.
"Apa sih bund?" Seno masih belum menoleh ke arah istrinya.
"Enak bener hidup mu tinggal ongkang-ongkang kaki!" Sarkas Nara berniat melempar candaan. Sontak saja Seno yang sudah mengenali suara Nara langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati mereka berempat sudah berdiri di dekatnya.
"Eh, kok nggak bilang-bilang mau datang?" Seno langsung bangkit dari duduknya. Bukannya memeluk Nara, tapi malah memeluk Radha. "Anak ayah sehat?"
"Alhamdulillah sehat yah." Radha mengeratkan pelukannya pada tubuh Seno yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri.
"Ayo duduk!" Seno mengurai pelukannya kemudian mempersilahkan mereka duduk. "Sebenarnya ada apa? Kenapa nggak kasih kabar dulu kalau mau datang?"
"Assalamualaikum!"
Belum sempat Nara menjawab pertanyaan Seno, sudah terdengar suara salam dari seseorang yang langsung masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam!" Balas mereka semua serempak, membuat orang itu tersentak kaget.
"Loh, kok?" Rupanya Wisnu Setyawan, anak laki-laki dari pasangan Seno dan Laras. Wisnu nampak masih terkejut sampai tak menyadari Radha sudah berdiri di dekatnya.
Satu tepukan sedikit agak keras mendarat di bahu Wisnu hingga membuat sang empunya tersadar dari keterkejutannya.
"Eh, kakak! Kok nggak bilang-bilang mau datang?"
"Ya biar surprise!" Radha langsung merangkul bahu Wisnu yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
"Kamu kenapa jam segini sudah pulang Wis?" Tanya ayah Seno kepada anak laki-lakinya itu.
"Gurunya mau takziah katanya yah." Wisnu langsung menghampiri Mama Anja dan Dad Nara lalu mencium tangan keduanya bergantian dan juga mencium tangan kedua orang tuanya sendiri.
"Anak pinter!" Mama Anja mengelus kepala Wisnu saat Wisnu mencium tangannya. "Kelas berapa sayang?"
"Baru kelas satu ma."
"Belajar yang rajin, jangan kayak Abang Oka. Huh! Anak itu selalu saja bikin darah tinggi."
"Ma, sudah! Jangan dipikirkan, biar Oka urusan Daddy." Sahut dad Nara.
"Ayo Wis, kakak ikut kamu ke kamar saja!" Radha menarik tangan Wisnu menuju ke kamar yang ditempati oleh Wisnu.
"Eh, tapi kak, Wisnu kan mau ganti baju, masak kakak mau ikut masuk ke dalam kamar?"
"Kan nanti kamu bisa ganti baju di dalam kamar mandi." Radha tetap menyeret Wisnu masuk ke dalam kamar. Wisnu pun hanya bisa pasrah mengikuti kakaknya.
Setelah kepergian Radha dan Wisnu, dad Nara akhirnya menceritakan semua yang terjadi dengan anak gadisnya kepada Seno dan Laras. Wajah Seno nampak merah padam menahan amarah. Tangannya pun terkepal erat seolah siap menghantam orang yang hampir saja melecehkan Radha yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Sedangkan Buna Laras tak kuasa menahan tangisnya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ