I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 65



Tok.. tok.. tok..


"Masuk!" Teriak Nara dari dalam ruangannya. Mendengar sahutan dari dalam, Bima segera masuk ke dalam ruang kerja bossnya.


"Boss, loe udah lihat berita hari ini?" Tanya Bima dengan bahasa kesehariannya. Ia tau kapan waktunya berbicara formal dan non formal. Sejenak Nara menghentikan aktivitasnya dari memeriksa berkas-berkas. Perhatiannya tertuju ke arah Bima yang menyodorkan ponselnya. Nara segera meraih ponsel Bima dan melihat berita yang tertera di layar ponsel tersebut. Dimana berita kematian Radit terpampang nyata di layar ponsel yang ada di dalam genggamannya.


"Hah, ini beneran Bim?" Nara nampak terkejut.


"Iya, boss bisa baca sendiri." Jawab Bima meyakinkan.


"Sakit apa kok tiba-tiba?" Bukannya membacanya, Nara malah bertanya seraya menyodorkan ponsel kembali kepada sang empunya. Begitulah Nara, ia malas untuk membaca. Kecuali itu berhubungan dengan berkas-berkas. Nara lebih suka mendengarkan apa yang diucapkan oleh asistennya.


"K@nk3r 0t@k boss!"


"Apa jadwal ku siang ini?"


"Kosong boss! Boss hanya perlu memeriksa berkas-berkas itu saja dan menandatanganinya." Jelas Bima.


"Kemasi berkas-berkas ini dan bawa ke rumah. Biar nanti malam aku kerjakan. Aku ke ruangan Papa dulu." Nara segera keluar dari ruangannya meninggalkan Bima yang sedang membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerja Nara.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk!" Nara langsung masuk ke dalam ruang kerja papanya setelah mendapat sahutan dari dalam.


"Pa! Apa Papa sudah membaca berita hari ini?"


"Ya! Pergilah!" Papa Hadi sudah tau maksud tujuan anaknya datang ke ruangannya, yang tak lain adalah ingin meminta izin kepada papanya untuk pergi di jam kerja. "Apa kamu akan mengajak istri mu?"


"Tidak pa, aku akan pergi bersama Bima. Kasihan Oka, biar Anja di rumah saja."


"Ya, sebaiknya memang begitu. Sudah sana pergi!" Nara segera meninggalkan ruangan papanya dan menyusul Bima yang saat ini pasti sudah menunggunya di depan kantor.


Dan benar saja ketika Nara keluar dari kantor, Bima sudah standby di depan kantor duduk di balik kemudi.


"Kita pulang dulu!" Ucap Nara saat masuk ke dalam mobil.


"Baik boss!" Bima segera melesatkan mobilnya meninggalkan pelataran gedung kantor Wijaya group.


Sekitar hampir satu jam lamanya akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Bima tiba di kediaman Wijaya. Nara langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati istri serta ketiga anaknya berada di ruang tengah. Sedangkan Bima langsung masuk ke dalam ruang kerja Nara untuk meletakkan berkas-berkas yang tadi dibawanya.


"Sayang!" Nara mendekati istrinya kemudian mengecup keningnya sekilas. Tak lupa ia juga mengecup puncak kepala ketiga anaknya.


"Hey baby, udah pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Nara malah bertanya kepada anak perempuannya. Radha hanya menanggapi pertanyaan daddy-nya dengan anggukan karena sibuk memperhatikan televisi.


"Apa belum membaca berita hari ini?"


"Memangnya ada berita apa hari ini mas?" Anja memang belum sempat melihat ponselnya.


"Ayo kita bicara di kamar saja!" Nara segera mengangkat baby Oka dari pangkuan mamanya lalu menggendongnya. Nara melangkah menaiki tangga satu persatu diikuti oleh istrinya menuju ke kamar mereka.


"Radit meninggal!" Ucap Nara setelah mereka berdua duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


"Hah, meninggal?" Beo Anja terkejut. Nara mengangguk.


"Katanya sakit k@nk3r 0t@k."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun!"


"Aku sama Bima mau pergi ke Bandung. Kamu di rumah saja jagain anak-anak."


"Iya!" Jawab Anja patuh. Tak sesuai dengan prediksi Nara yang mengira istrinya itu bakalan ngotot meminta ikut ke Bandung.


Siang itu juga Nara dan Bima berangkat ke Bandung dengan mengendarai mobil yang dikemudikan oleh Bima.


*****


*****


*****


*****


*****


Nyambung di novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 98 πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ