I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 50



"Sudah ada nama buat cucu Mama Ra?" Mama Rosi beralih menatap anaknya yang sedang mengelus kepala istrinya.


"Sudah ma!" Jawab Nara tegas.


"Sudah? Kok mas Nara gak bilang sama aku kalau sudah punya nama buat anak kita." Anja nampak cemberut, pasalnya ia tidak diajak rundingan dulu dengan suaminya tentang nama yang cocok buat anak laki-laki yang baru saja dilahirkannya.


"Aku yakin kamu pasti suka sayang, cup!" Nara mengecup bibir istrinya di depan kedua orang tuanya tanpa sungkan. Anja langsung mendelik dengan ulah suaminya itu. "Narendra Hadi Wijaya!" Ucap Nara setelah melepas kecupannya. "Gimana? Kamu suka?" Anja mengangguk. Entah mengapa ia selalu suka dengan nama-nama yang disematkan oleh suaminya untuk kedua anaknya.


"Nama yang bagus!" Puji mama Rosi, sedangkan Papa Hadi hanya manggut-manggut saja. Namun ia mengakui dalam hati kalau anaknya itu memang pandai merangkai sebuah nama.


"Boleh aku menyematkan nama Aditama di dalam nama Radha mas?" Ucap Anja tiba-tiba dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Nara, mama Rosi dan papa Hadi saling melempar pandangan sebelum mereka mengangguk bersamaan. Anja pun tak bisa lagi membendung air matanya.


"Terimakasih!" Ucap Anja tulus dalam isaknya. Ingin rasanya Nara merengkuh tubuh rapuh istrinya namun terhalang oleh kedua anaknya yang berada di samping kanan kiri istrinya. Akhirnya ia hanya bisa mengusap lembut kepala istrinya untuk menenangkannya.


"Radhania Azzura Aditama Wijaya!" Ucap Nara yang langsung ditanggapi senyuman oleh Mama Rosi dan juga Papa Hadi. "Nanti kita perbaiki akta kelahirannya bareng punya baby boy, biar nanti tahun depan saat baby masuk sekolah sudah jadi." Anja pun mengangguk.


"Sudah ya, jangan menangis lagi. Nanti anak-anak kita ikut sedih kalau lihat mamanya menangis." Ucap Nara lembut seraya menghapus air mata istrinya menggunakan tangannya. Anja kembali mengangguk.


*****


Setelah tiga hari berada di rumah sakit, akhirnya Anja pun diperbolehkan untuk pulang.


"Selamat datang di rumah keluarga Wijaya cucu ku yang paling tampan." Sambut mama Rosi saat Nara, Anja dan baby boy baru saja memasuki rumah. Mama Rosi langsung mengambil alih Baby Boy dari gendongan menantunya.


"Mau langsung istirahat di kamar?" Tawar Nara, namun Anja menggeleng.


"Kakak mana ma?" Anja celingukan mencari anak perempuannya yang tidak ikut menyambut kedatangan mereka.


"Tadi sama Mbak Tini, katanya mau beli es krim di depan."


"Ya udah, aku ke kamar dulu mah." Pamit Anja.


"Ya, istirahatlah, nanti kalau Rendra nangis biar Mama antar ke atas." Anja mengangguk kemudian segera berlalu. Namun baru saja beberapa langkah tubuhnya terasa melayang, hingga membuatnya memekik karena terkejut.


"Mas! Turunin gak! Aku bisa jalan sendiri!" Anja melotot kesal.


Setibanya di kamar, Nara langsung merebahkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang.


"Terimakasih sayang, terimakasih atas pengorbanan mu." Nara meraih tangan istrinya kemudian menciuminya berulang-ulang hingga membuat istrinya terharu.


"Aku bahagia mas bisa melahirkan anak-anak kita." Anja mengusap kepala suaminya.


"Ya, setelah ini kita akan memproduksinya lagi agar rumah kita semakin ramai."


Plak!


Satu geplakan mendarat cantik di bahu Nara. Anja melotot dengan garangnya membuat Nara terkekeh.


"Bercanda sayang. Sekarang istirahatlah, aku mau ke ruang kerja dulu. Nanti kalau butuh sesuatu telepon saja." Nara mendaratkan kecupan sayang ke dahi dan juga bibir sang istri. Anja hanya mengangguk. Nara pun segera keluar dari kamar menuju ke ruang kerjanya yang ada di lantai bawah.


"Aku pastikan tahun depan akan ada tangisan bayi lagi di rumah ini, agar kamu berpikir seribu kali untuk pergi dari ku!" Tekad Nara dalam hati.


*****


*****


*****


*****


*****


Weh-weh, Mas Nara mengerikan πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ