I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 157



Dad Nara tiba di mall saat mereka baru saja keluar dari toko perlengkapan bayi. Dad Nara langsung mencari keberadaan mereka setelah tadinya menelpon istrinya terlebih dahulu.


"Baby!" Seru dad Nara saat tiba di sana, hingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. Mungkin mereka pikir Radha adalah sugar baby-nya om-om tersebut.


"Ck!" Ayah Seno yang tangan kanan kirinya penuh dengan kantong belanjaan pun berdecak. "Kamu nggak lihat apa jadi pusat perhatian orang-orang!" Ayah Seno mendelik ke arah besannya. Sedangkan yang di pelototi nampak acuh.


Sebenarnya sejak tadi dad Nara gelisah, tidak tenang memikirkan sang anak yang sedang hamil besar. Takutnya anaknya itu kelelahan mengitari mall.


"Daddy gendong ya?" Serempak ayah Seno, mama Anja dan Buna Laras membulatkan matanya. Sebenarnya tidak masalah jika dad Nara ingin menggendong anaknya. Namun lihat saja tatapan orang-orang di sekitarnya. Seolah mereka membenarkan bahwa Radha dan dad Nara adalah pasangan sugar baby dan sugar Daddy. Di tambah lagi dengan perut buncit Radha yang membuat mereka semakin yakin dengan dugaan mereka.


"Dad, kakak tidak papa." Ucap Radha dengan suara pelan nyaris berbisik. "Kakak bisa jalan sendiri."


"Nanti kamu kelelahan baby. Kamu sejak tadi pasti sudah mengitari mall ini."


"Kakak baik-baik saja dad. Daddy jangan khawatir."


"Mending Daddy bantu mas Seno saja sana. Bawa belanjaan ke mobil." Ujar Mama Anja. Bukan bermaksud mengusir suaminya, hanya saja agar orang-orang yang sejak tadi memperhatikan mereka segera buyar.


"Nih!" Ayah Seno langsung menyodorkan beberapa kantung belanjaan yang ada di tangan kanannya kepada dad Nara.


Dad Nara hanya bisa pasrah lalu menerimanya. "Ya sudah, tunggu disini jangan ke mana-mana!" Ucap dad Nara memperingati.


"Kami akan mencari tempat makan dad. Nanti Daddy dan mas Seno bisa menyusul kami." Ucap mama Anja lagi.


"Baiklah, hati-hati. Ayo Sen!" Akhirnya dad Nara dan ayah Seno pergi untuk menaruh barang-barang belanjaan mereka ke mobil.


Tak lama dad Nara dan ayah Seno sudah bergabung dengan istri dan anak mereka di sebuah restoran yang ada di dalam mall tersebut.


Baru saja pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka, ponsel yang ada di dalam tas Radha berbunyi tanda ada panggilan masuk. Radha segera mengambil ponselnya. Ternyata nama suaminya yang tertera di dalam layar ponselnya. Radha pun segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo mas!"


"Sayang, sudah pulang?"


"Belum, ini mau makan dulu."


"Owh, apa Daddy sudah menyusul kalian?"


"Iya, sudah!"


"Baiklah, maaf nggak bisa nemenin. Setelah makan langsung pulang ya. Jangan terlalu capek."


"Iya mas!"


"Love you too."


Sambungan telepon pun terputus. Mama Anja dan Buna Laras diam-diam mengulum senyum. Bahagia rasanya melihat anak dan menantunya saling mencintai dan mengasihi. Sedangkan para lelaki nampak biasa saja. Dasar kaum lelaki memang tak sebaper perempuan.


Mereka segera menikmati hidangan yang baru saja disajikan oleh pelayan.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk makan dan beristirahat sejenak, mereka akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


Sesampainya di rumah, Radha langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat karena tubuhnya terasa lelah. Setelah membersihkan diri terlebih dahulu Radha langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak Butuh waktu lama akhirnya Radha pun terlelap.


Pukul tiga sore Wisnu sudah tiba di rumah. Ia yang melihat istrinya tertidur lelap segera menghampiri sang istri. Wisnu memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak kelelahan. Wisnu lalu mengecup sekilas kening sang istri. Tak lupa ia kecup juga perut istrinya.


Setelah itu pandangan Wisnu beralih menatap kaki jenjang istrinya. Karena Radha hanya memakai dress selutut, kakinya pun nampak terekspos. Wisnu langsung mengulurkan tangannya untuk memijat kaki sang istri. Tidak bengkak memang. Tapi Wisnu yakin betis istrinya itu pasti terasa pegal. Pelan-pelan ia memijatnya agar tidak membangunkan sang istri. Namun percuma saja, Radha yang merasa ada yang memijat kakinya langsung membuka matanya. Dan benar saja, suaminya itu ternyata yang sedang memijat kakinya.


"Sudah bangun?" (Wisnu)


"Sudah pulang?" (Radha)


Wisnu dan Radha berucap bersamaan. Kemudian mereka sama-sama tertawa menertawakan diri sendiri.


Sekitar pukul empat sore, Radha, Wisnu, mama Anja, dad Nara, ayah Seno dan Buna Laras pergi mengunjungi makam papa Zian. Mereka memilih berjalan kaki atas permintaan Radha. Ya, Radha memang lebih suka berjalan kaki karena sudah terbiasa jalan-jalan pagi ataupun sore bersama suaminya di sekitaran komplek sana.


Sore ini mereka menyempatkan datang ke pemakaman karena esok mama Anja dan dad Nara harus kembali terbang ke Jakarta.


*****


*****


*****


*****


*****


Mungkin dua bab lagi end πŸ€­πŸ€—πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ