
"Eh," Nara tersentak saat baru saja meletakkan sang istri ke atas brankar tiba-tiba mata istrinya itu terbuka. "Sayang, kamu sudah sadar?"
"Ini dimana mas?" Pandangan Anja menyusuri tempat di sekelilingnya.
"Kita baru saja tiba di rumah sakit." Nara dan beberapa perawat langsung mendorong brankar Anja menuju ke ruang UGD.
"Ada apa dengan Anja Ra?" Tanya dokter Andrew yang tak sengaja melihat Nara dan juga sahabat istrinya itu yang berada di atas brankar.
"Tadi pingsan!" Jawab Nara singkat. Dokter Andrew pun mengekor di belakang mereka.
Sesampainya di depan ruang UGD para perawat langsung mendorong berankar masuk ke dalam ruangan, dan dokter Andrew pun ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mau ngapain loe ikut masuk kesini!" Teriak Nara melotot ke arah dokter Andrew. Nara segera mendorong tubuh dokter Andrew keluar dari ruang UGD.
Braakk!
Pintu ruang UGD dibanting dengan keras oleh Nara yang rupanya sedang emosi entah itu karena apa.
"Syetan!" Umpat dokter Andrew kesal karena terkejut. "Giliran mau konsultasi aja nyari gue. Awas aja nanti kalau sampai nyari gue lagi!" Dokter Andrew bersungut-sungut kesal kemudian meninggalkan ruang UGD untuk kembali ke ruang prakteknya.
****
"Panggil dokter Lusi jangan yang lain!" Perintah Nara tegas kepada perawat yang ada di dalam ruang UGD.
"Baik pak!" Salah satu perawat wanita langsung melesat keluar dari ruangan UGD untuk mencari dokter Lusi yang mungkin saat ini sedang berada di ruang prakteknya.
"Mas! Bisa gak, gak usah ngegas gitu!" Protes Anja kesal dengan kelakuan suaminya.
"Ya maaf sayang, aku kan panik." Kilah Nara yang merinding melihat mata istrinya yang seperti mau loncat keluar.
Tak berselang lama perawat yang tadi memanggil dokter Lusi masuk kembali ke dalam ruang UGD.
"Maaf pak, dokter Lusi meminta agar Bu Anja langsung dibawa ke ruang prakteknya saja Pak." Ucap perawat sopan.
"Ya sudah ayo, tunggu apa lagi?" Nara langsung mendorong brankar istrinya diikuti oleh beberapa perawat keluar dari ruang UGD menuju ke ruang praktek dokter Lusi.
"Permisi dok?" Ucap salah satu perawat sopan saat memasuki ruang praktek dokter Lusi.
"Mari silahkan masuk." Dokter Lusi tersenyum ramah seraya bangkit dari duduknya. Para perawat yang tadi ikut mendorong brankar Anja langsung keluar dari ruangan dokter Lusi karena di dalam ruangan tersebut sudah ada satu perawat yang membantu dokter Lusi.
"Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?" Tanya dokter Lusi ramah menghampiri brankar Anja.
"Baik, kita periksa dulu ya pak, Bu Anja-nya." Dokter Lusi segera menempelkan stetoskop yang sejak tadi menggantung di lehernya ke tubuh Anja. Tak lupa dokter Lusi juga mengecek denyut nadi yang ada di pergelangan tangan Anja. Nampak dokter Lusi mengernyitkan alisnya. "Ada keluhan Bu?"
"Tiba-tiba saja perut seperti diaduk-aduk dok, mual muntah pusing." Jawab Anja menjelaskan apa yang dirasakannya saat ini.
"Kapan terakhir haid? Masih ingat?"
"Hah? Haid? Sa-saya bahkan belum pernah haid sejak selesai nifas satu setengah bulan lalu." Pikiran Anja sudah mulai ngeh dengan pertanyaan-pertanyaan dokter Lusi.
"Ap-apakah dirinya saat ini hamil lagi?"
"Apa mau di tes dulu atau langsung kita USG saja Bu?" Ucapan dokter Lusi menyadarkan Anja dari lamunannya.
"Mak-maksudnya dok?" Anja takut apa yang ada di pikirannya saat ini benar-benar menjadi kenyataan.
"Kalau menurut perkiraan saya, saat ini Bu Anja sedang mengandung."
"Hah! Mengandung?" Anja membelalakkan matanya. Meskipun ia sudah menduga-duga dalam hati, tetap saja ia terkejut dengan kenyataan yang didapatkannya.
"Iya!" Jawab dokter Lusi meyakinkan.
"Bagaimana kalau langsung di USG saja dok." Sahut Nara saat melihat istrinya itu hanya diam saja karena shock.
"Baiklah, silahkan di bantu Bu Anja-nya sus." Perintah dokter Lusi kepada perawat yang membantunya untuk menyelimuti bagian bawah tubuh Anja dan mengoleskan gel ke atas permukaan perut Anja.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ