I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 119



H- Seminggu.......


Tak terasa hari pernikahan Radha dan Elmer kurang seminggu lagi. Hari ini seluruh keluarganya dari Jakarta akan tiba di Surabaya. Radha sudah berkabar dengan mamanya tadi pagi. Dan selepas sarapan mereka semua berangkat ke bandara dengan diantar oleh Pak Mul. Hanya Pak Mul saja yang tidak ikut ke Surabaya karena harus menjaga rumah.


Menjelang makan siang mereka semua sudah tiba di kediaman Laras. Dan mulai hari ini Elmer dilarang untuk menemui Radha, atau lebih tepatnya kedua calon mempelai dipingit dan tidak boleh bertemu hingga hari H.


"Bagaimana kabarnya Ras?" Mama Anja dan Buna Laras saling berpelukan.


"Alhamdulillah semua sehat Nja. Kalian sendiri?"


"Alhamdulillah kami semua juga sehat."


Dad Nara dan ayah Seno pun juga ikut berpelukan dan saling menepuk punggung masing-masing.


"Sekarang giliran ku yang punya mantu." Ujar dad Nara saat mengurai pelukan membuat semua orang yang ada di sana tertawa. "Nggak terasa, ternyata kita sudah tua." Lagi-lagi tawa mereka pecah.


"Ya, ya, ya, apalagi aku yang sudah mau punya cucu." Sahut ayah Seno menimpali. Ya, saat ini Camelia sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan.


Radha memeluk ibunya dengan erat. "Ibu nanti tidur disini saja sama kakak ya?" Mbak Tini mengulas senyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Rendra sama Oka di sini saja ya, sama Wisnu." Buna Laras beralih memeluk kedua anak laki-laki Anja dan Nara bergantian.


"Mana muat Ras, Oka kalau tidur rusuh." Ceplos mama Anja.


"Mama!" Sergah Oka yang tak terima dengan ucapan mamanya membuat tawa kembali pecah.


"Rendra ikut ke apartemen saja Bun." Rendra yang sejak tadi hanya diam saja akhirnya membuka suaranya.


"Oka juga mau ikut Abang saja!" Putus Oka.


"Ya sudah, Buna nggak maksa. Ayo kita makan siang dulu, baru nanti kembali ke apartemen." Akhirnya mereka semua memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di kediaman Buna Laras, setelah itu baru kembali ke apartemen.


"Bu, kok kakak deg-degan ya?" Saat ini mereka berdua berada di kamar Radha. Mbak Tini duduk bersandar di atas tempat tidur, sedangkan Radha berbaring dengan kepala merebah di atas pangkuan Mbak Tini.


"Itu wajar kak!" Mbak Tini mengusap pelan kepala Radha. "Semua orang pasti merasakan itu jika akan menikah." Sesekali mbak Tini menciumi kepala anaknya. "Apa El tidak menyakiti kakak lagi?" Radha menggeleng dalam pangkuan Mbak Tini.


"El yang sekarang tidak seperti El yang dulu Bu. El yang dulunya dingin dan datar sekarang sudah berubah menjadi El yang hangat. Bahkan dia tidak sungkan menunjukkan rasa cintanya kepada kakak."


"Alhamdulillah, ibu lega kalau begitu. Ibu sempat khawatir kalau kejadian empat tahun yang lalu terulang kembali sama kakak."


"Ibu tenang saja, El itu sebenarnya baik. Mungkin waktu itu dia marah karena kakak meminta untuk mengakhiri hubungan kami."


Lama mereka bercerita hingga Radha terbuai dengan usapan lembut ibunya di kepalanya. Setelah memindahkan kepala anaknya ke atas bantal dan memastikan anaknya itu tidur dengan nyaman, Mbak Tini pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang anak. Rasa lelah akibat perjalanan jauh membuatnya ikut terlelap hingga sore hari.


Setelah kejadian malam itu saat Radha mendengar ungkapan cinta dari Wisnu, Radha memilih untuk menjaga jarak dari adiknya itu. Ia tidak ingin berinteraksi berlebihan dengan sang adik. Dan Wisnu pun juga seolah menghindarinya. Mereka sekarang jarang bertegur sapa, apalagi jika di rumah itu hanya ada mereka berdua.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ