I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 20



"Ma! Mama!" Anja berlarian keluar dari kamarnya dengan berlinang air mata. Mama Rosi yang saat itu sedang bermain di ruang tengah bersama baby Radha dan juga mbak Tini nampak keheranan.


"Ada apa Nja? Kenapa nangis?" Mama Rosi langsung berdiri dari tempatnya, dan Anja langsung berhambur memeluk mama Rosi seraya menangis sesenggukan.


"Ada apa? Cerita sama mama." Mama Rosi mengelus lembut punggung Anja.


"Barusan mas Seno telpon, hiks.. hiks.."


"Iya, ada apa? Seno bilang apa?"


"Riani ma, hiks.. hiks.."


"Iya, Riani kenapa sayang?"


"Riani meninggal, hiks.. hiks.."


"Ap-apa? Bukannya Riani lagi hamil tua Nja?" Anja mengangguk kemudian mengurai pelukannya.


"Tadi siang Riani di bawa ke Puskesmas mau melahirkan, tapi setelah melahirkan kata mas Seno Riani kejang-kejang terus meninggal."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun." Ucap mama Rosi dan mbak Tini bersamaan.


"Aku mau kesana sekarang ma." Anja segera meraih baby Radha yang saat itu sedang duduk melongo di atas karpet kemudian membawanya ke dalam kamar untuk bersiap. Mama Rosi dan Mbak Tini segera mengejar Anja masuk ke dalam kamar.


Anja nampak memasukkan beberapa lembar pakaian dan juga perlengkapan anaknya ke dalam tas besar. Tak lupa ia juga memasukkan beberapa lembar pakaiannya sendiri. Baby Radha yang saat itu didudukkan di tengah ranjang hanya melongo melihat mamanya mondar-mandir di sekitarnya.


"Sayang, tunggu Nara pulang ya. Ini udah jam lima, pasti sebentar lagi Nara pulang. Besok pagi kita berangkat ke sana sama-sama."


"Enggak ma, aku mau sekarang. Gak papa mama sama Mas Nara nggak ikut, aku bisa sendiri. Tadi aku udah telepon Laras untuk menunggu ku tiba di Surabaya dulu, baru Setelah itu kami bareng-bareng menuju ke rumah Riani."


"Sayang, jangan seperti ini." Mama Rosi mencoba memberi pengertian kepada Anja. "Nanti kalau Nara nggak ikut kasihan sama baby Radha, pasti ia akan rewel di sana tanpa daddy-nya."


"Ada apa ini?" Suara bass terdengar menyapa gendang telinga mereka. Nampak Nara memasuki kamar Anja. Tadi saat Nara tiba di rumah, telinganya mendengar suara ribut-ribut dari arah kamar anaknya. Nara pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar tersebut.


"Mas!" Anja berlari menghambur ke pelukan Nara. Nara yang tak siap hampir saja terhuyung. Beruntung Nara menguatkan pijakannya.


"Ada apa? Kenapa menangis?" Nara mengusap lembut punggung Anja yang terlihat naik turun di pelukannya.


"Riani."


"Riani? Ada apa dengan Riani?"


"Riani meninggal, hiks.. hiks.."


"Meninggal? Kapan?"


"Sayang, jangan seperti ini." Ucap Nara spontan tanpa menyadarinya. Anja pun sepertinya juga tak menyadari ucapan Nara barusan. Hanya Mama Rosi dan juga Mbak Tini yang menyadarinya dan hampir saja mereka berdua menyemburkan tawanya. Namun mereka segera membekap mulut mereka masing-masing dengan tangannya, agar tawa mereka tidak sampai meledak.


"Iya, kita akan pergi sekarang juga. Bersiaplah, aku telpon Bima dulu biar urus tiket kita." Anja mengangguk, Nara segera keluar dari kamar tersebut.


"Mama ikut!" Mama Rosi langsung berlari keluar kamar. "Ayo mbak Tini ikut sekalian biar nanti bisa gantiin gendong baby Radha." Mbak Tini pun segera berlarian masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.


"Ma! Ada apa ini kok lari-larian?" Seru Papa Hadi saat memasuki rumah melihat istri dan pembantunya lari kalang kabut. Mama Rosi pun menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap papa Hadi.


"Papa, baru pulang?" Mama Rosi langsung meraih tangan suaminya untuk di cium saat papa Hadi sudah berada di dekatnya.


"Ada apa?" Ulang papa Hadi.


"Kami mau berangkat ke Surabaya Pa, Riani meninggal."


"Riani yang temannya Anja itu?"


"Iya, tadi siang baru melahirkan, setelah itu meninggal."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun." Ucap papa Hadi kaget. "Ya sudah, hati-hati. Maaf Papa nggak bisa ikut, banyak kerjaan yang nggak bisa Papa tinggal."


"Iya, mama ngerti." Mama Rosi dan papa Hadi segera masuk ke dalam kamar mereka untuk bersiap.


Akhirnya, malam itu juga tepat pukul tujuh, Anja, baby Radha, Nara dan mama Rosi serta mbak Tini terbang ke Surabaya.


*****


*****


*****


*****


*****


Sambungan dari novel "Candamu Canduku" Bab Riani & Seno 16 πŸ€— Riani meninggal 😭😭


Nanti setibanya di Surabaya langsung masuk di novel "Luka Hati Luka Diri" episode 47 πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚