
Pagi menjelang, Nara sudah siap di balik kemudi bersama sang istri yang duduk di sebelahnya. Pagi ini Radha memaksa kedua orang tuanya untuk mengantarkannya ke sekolah. Radha ingin menunjukkan kepada daddy-nya teman barunya itu. Namun setibanya di sekolah, Excel hanya diantarkan oleh sopirnya saja. Radha pun sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sahabat baru mamanya, alias maminya Excel.
Nara dan Anja akhirnya kembali ke rumah tanpa bertemu Selena. Padahal sebenarnya Nara juga penasaran dengan Selena, mami dari sahabat baru anaknya itu. Dalam hatinya masih bertanya-tanya, apakah itu Selena yang ia kenal atau Selena-Selena yang lainnya? Karena di dunia ini tidak hanya satu orang yang menggunakan nama Selena. Bahkan mungkin namanya dan juga nama istrinya ada yang menyamainya.
Saat tiba di rumah ternyata Bima sudah standby di depan rumah. Nara segera turun dari mobilnya kemudian berpamitan dengan sang istri. Nara segera masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Bima sang asisten. Bima pun segera melesatkan mobilnya menuju ke gedung perusahaan Wijaya Group.
"Loe tau Bim-"
"Tidak boss!" Sahut Bima memotong ucapan Nara yang belum selesai.
"Syetan!" Nara menonyor kepala Bima. "Gue belum selesai bicara jangan dipotong!"
"Iya maaf boss! Reflek aja tadi." Elak Bima.
"Anak gue punya temen baru di sekolah. Dan istri gue temenan sama maminya temen anak gue."
"Memangnya kenapa boss? Bukannya itu bagus? Selama ini kan Anja gak punya teman. Hari-hari Anja hanya dihabiskan untuk merawat anak-anak tanpa ada waktu untuk yang lainnya."
"Iya juga sih, jangankan untuk yang lainnya, bahkan untuk merawat diri saja tidak sempat. Apa gue terlalu egois, membuatnya repot mengurus anak-anak?"
"Gak juga sih bos, kan loe udah pernah nawarin baby sitter, tapi Anja-nya yang nggak mau. Coba aja sekali-sekali diajak me time." Usul Bima.
"Oh ya, sampe lupa." Nara menepuk jidatnya sendiri karena melupakan sesuatu. "Loe tau nggak siapa nama maminya temen baby itu?"
"Tidak boss!" Bima menggeleng dan sekali lagi tonyoran dari bosnya itu mendarat di kepalanya.
"Harusnya kamu tanya siapa? Bukannya menjawab tidak, bego!" Nara benar-benar dibuat geregetan oleh sahabatnya itu.
"Siapa memangnya boss?" Bima pun mengikuti kemauan bosnya.
"Selena!"
Ciiiiiiitt!!
Dugh!
"Syetan!" Umpat Nara kesal mengusap-usap keningnya.
"Maaf boss, habisnya loe buat gue terkejut." Nara dan Bima serempak membuka seatbelt-nya karena ternyata mereka sudah tiba di kantor, tepatnya di tempat parkir khusus petinggi perusahaan.
Setelah membuka seatbelt-nya, Bima langsung memutar tubuhnya ke samping ke arah Nara.
"Yang pastinya bukan Selena yang itu kan boss?"
"I don't know?" Nara mengedikkan bahunya. "Gue kan tadi nggak ketemu sama maminya Excel."
"Kayaknya bukan Selena yang itu deh boss, kan Selena yang itu belum kawin, eh nikah." Bima meralat ucapannya. "Gak mungkin kan punya anak?"
"Sudahlah, ayo turun! Gak penting mikirin yang nggak penting." Nara segera turun dari mobil diikuti oleh Bima. Mereka berdua beriringan masuk ke dalam kantor dengan kepala yang masih bertanya-tanya tentang nama Selena.
*****
*****
*****
*****
*****
Selena gowes mungkin Ra π€ππ
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ