
"Baru pulang Ra?" Tanya mama Rosi saat melihat anaknya melewati ruang tengah. Nara yang baru menginjakkan kakinya di anak tangga pertama pun menoleh.
"Iya ma, banyak kerjaan di kantor." Mama Rosi melirik jam yang ada di ruangan tersebut dan ternyata sudah pukul sepuluh malam.
"Apa pekerjaannya nggak bisa dilanjut besok? Anak dan istri kamu juga butuh perhatian mu. Apalagi bayi yang ada di dalam kandungan Anja. Ingat pesan dokter Lusi dulu."
Deg!
Mama Rossi langsung masuk ke dalam kamarnya setelah memberi ultimatum kepada anaknya.
"Mohon untuk tidak membuat bu Anja terkejut atau syok, karena itu bisa memicu kontraksi. Tolong di jaga, jangan sampe Bu Anja stress. Karena di catatan kesehatan Bu Anja pernah mengalami keguguran. Beruntung Bu Anja hanya mengalami kontraksi dini dan flek. Baru saja kemarin saya menangani kasus bayi yang sudah meninggal di dalam kandungan gara-gara terlilit tali Pusat. Jadi, mulai sekarang apapun keluhan Bu Anja tolong untuk diperhatikan dan segera untuk memeriksakannya." Ucapan dokter Lusi kembali terngiang-ngiang di telinganya. Apalagi ucapan dokter Lusi yang terakhir, mengenai bayi yang sudah meninggal di dalam kandungan gara-gara terlilit tali pusat. Nara segera berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya namun tak menemui istrinya di dalam kamar tersebut. Nara pun beralih ke kamar sebelah yaitu kamar anaknya. Ia bisa bernafas lega saat melihat istrinya tersebut sudah terlelap di samping anaknya. Nara melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang. Didudukkannya tubuhnya di samping sang istri kemudian mengusap kepalanya lembut dan memberi kecupan sayang di kening istrinya.
"Maaf sayang, maaf kalau akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku hingga melupakan kalian." Nara mengusap perlahan perut buncit istrinya.
Dug!
Sebuah tendangan berasal dari dalam perut istrinya hingga membuat sang istri meringis.
"Sssssttt!" Anja perlahan membuka matanya seraya mengelus perutnya. Nara yang tadinya sempat berbinar karena anaknya yang masih berada di dalam kandungan istrinya meresponnya. Namun sedetik kemudian wajahnya nampak pias saat melihat istrinya meringis kesakitan.
"Sayang, apanya yang sakit?" Nara kemudian mengelus perut buncit sang istri. Anja hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Anja kembali memejamkan matanya saat bayi yang ada di dalam kandungannya sudah kembali tenang. Nara hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.
"Sayang, kok diam lagi. Kamu masih marah? Maaf, maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ku? Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan, tapi tidak dengan perpisahan." Ucap Nara sendu. Perlahan Anja kembali membuka matanya kemudian menatap suaminya yang wajahnya nampak murung.
"Apa benar Mas Nara mau melakukan semua yang aku inginkan?" Nara perlahan mengangkat wajahnya menatap sang istri kemudian mengangguk. "Apapun?" Tanya Anja memastikan.
"Bawa aku ke makam mas Zian!" Ucap Anja tegas.
"Tap-tapi kamu sedang hamil sayang. Apa nggak bisa nanti aja setelah melahirkan?"
"Aku maunya sekarang!" Anja sudah berlinang air mata.
"Ok-oke! Besok kita konsultasi ke dokter Lusi dulu ya?" Nara merengkuh sang istri ke dalam pelukannya. "Kalau dokter Lusi mengizinkan, kita akan langsung terbang ke Surabaya." Anja mengangguk dalam pelukan sang suami. "Sekarang kita pindah ke kamar kita ya?" Nara segera menggendong tubuh istrinya setelah mendapat anggukan dari sang istri.
*****
*****
*****
*****
*****
Kayaknya bakalan ada yang buka puasa nich π€ππ
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ