
Malam semakin merangkak naik, namun Radha sama sekali belum melihat Wisnu sepulang dari makam sang papa. Saat makan malam pun Wisnu juga tidak ada.
"Eeem, Bun!"
"Iya sayang, ada apa?" Saat ini mereka berada di warung yang sudah nampak sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Itu artinya warung akan segera tutup.
"Wisnu kemana?"
"Owh, tadi sore pamitnya mau ke rumah temannya. Kenapa?"
"Eng-nggak! Pake apa? Kan motornya tadi kakak bawa?"
"Mobil ayah!"
"Owh!"
"Ayo kita beres-beres, itu mbak Ti sama Mbah Sih udah mulai beres-beres." Radha pun segera membantu merapikan meja dan kursi kemudian menyapunya.
Tepat pukul sepuluh malam rumah makan di tutup. Radha dan Buna Laras pun sudah masuk ke dalam rumah.
"Langsung istirahat, jangan tidur terlalu larut." Pesan Buna Laras sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"Iya Bun!" Radha pun segera melangkah menuju ke kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi Radha tak kunjung bisa terlelap. Bagaimana bisa ia terlelap kalau sejak tadi telinganya selalu awas mendengarkan suara pintu yang dibuka. Ya, sejak tadi Radha menunggu kepulangan adiknya. Namun hingga larut malam adiknya itu tak kunjung pulang.
Radha turun dari atas ranjang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Gelap, karena lampu sudah di padamkan. Ia melangkah menuju ke dapur untuk mengambil minum.
Setelah membasahi tenggorokannya dengan segelas air putih, Radha memilih mendudukkan tubuhnya di ruang televisi. Dinyalakannya televisi itu dengan suara rendah agar tidak mengganggu ayah dan bunanya yang mungkin sudah terlelap.
Tak berselang lama Wisnu tiba di rumah. Saat membuka pintu rumah, pandangannya langsung tertuju pada ruang televisi yang nampak seperti ada cahaya. Dan benar saja, saat kakinya melangkah menuju ke ruang televisi, ternyata kakaknya itu ketiduran di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Perlahan Wisnu mendekat ke arah kakaknya. Wisnu mengambil remote yang ada di genggaman kakaknya pelan-pelan agar tidak membangunkan sang kakak. Kemudian ia segera mematikan televisinya. Setelah itu ia membungkukkan tubuhnya untuk menggendong kakaknya dan memindahkannya ke dalam kamar. Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu membenamkan kecupan dalam di kening sang kakak.
Wisnu merebahkan kakaknya ke atas tempat tidur, kemudian menarik selimutnya untuk menyelimuti tubuh kakaknya. Dipandanginya wajah kakaknya itu yang selalu membuat hatinya bergetar.
"Cup! Aku mencintai mu kak, sangat!" Wisnu segera keluar dari kamar kakaknya setelah membenamkan ciuman sekali lagi.
Perlahan kelopak mata Radha terbuka setelah Wisnu menutup pintu kamarnya. Kristal bening langsung meleleh di kedua pipinya.
"Ini tidak benar Wis, kamu adik ku. Kamu tidak boleh mencintai kakak. Tidak boleh ada cinta diantara kita." Radha mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir. Radha kemudian memiringkan tubuhnya dan tak berselang lama ia sudah terlelap.
Berbeda dengan seseorang yang berada di kamar sebelah. Wisnu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ada rasa tidak rela jika kakaknya itu harus menikah dengan orang lain. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jika keluarganya sampai tahu ia mencintai kakaknya, sudah pasti semua orang akan menentangnya. Lalu apa yang harus ia lakukan? Mengubur cintanya dalam-dalam kah? Atau memperjuangkan cintanya? Padahal jika dipikir-pikir diantara mereka tidak ada hubungan darah. Bahkan Wisnu tidak peduli umurnya yang terpaut jauh dengan kakaknya. Tapi, apakah kakaknya itu juga mencintainya? Itu tidak mungkin! Sudah jelas-jelas kakaknya itu mencintai Elmer calon suaminya bukan dirinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ