
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Radha diketuk dari luar oleh Mama Anja. Radha pun segera bangkit dari atas tempat tidur kemudian segera membuka pintu kamarnya.
"Ma, dad!" Mama Anja langsung masuk ke dalam kamar anaknya diikuti oleh sang suami.
"Apa tidak bisa disini saja baby? Bagaimana nanti kalau Daddy merindukan mu?" Nara langsung memeluk tubuh anak perempuannya itu. Meskipun tidak ada ikatan darah di antara mereka, tapi kasih sayang dad Nara terhadap anak perempuannya itu tidak bisa diragukan lagi. Dan semua orang tahu itu.
Tadi setelah pasangan suami istri itu berunding tentang permintaan anaknya, akhirnya Mama Anja berhasil membuat suaminya itu menyetujui permintaan putrinya. Entah apa yang dilakukan Mama Anja hingga ia bisa meluluhkan kerasnya hati dad Nara jika sudah bersangkutan dengan anak-anaknya.
"Daddy kan nanti bisa mengunjungi kakak, atau nanti kakak yang pulang." Radha mengeratkan pelukannya kepada daddy-nya.
"Baiklah, demi kebaikan baby, Daddy akan mengalah." Dad Nara mengurai pelukannya. "Minggu depan Daddy antarkan ke Surabaya."
"No dad! Kakak bisa berangkat sendiri besok!" Sontak saja ucapan Radha membuat dad Nara dan mama Anja kompak mendelik ke arahnya. "Hehe.... Kakak berani kok pergi sendiri. Jadi, Daddy sama mama jangan khawatir." Bukannya takut dengan pelototan kedua orang tuanya, Radha malah cengengesan.
"Tapi kakak baru sembuh sayang, minggu depan aja ya? Nanti biar Mama antar sama Daddy." Bujuk mama Anja mengelus sayang kepala putrinya. Namun putrinya itu menggeleng dan tetap kekeh pada keputusannya.
"Kakak sudah sehat ma, kakak baik-baik saja."
"Huuuuuft!" Terdengar helaan nafas kasar dari dad Nara. "Baiklah, besok Daddy yang akan mengantarkan baby ke Surabaya." Putus dad Nara. "Mau tinggal di apartemen atau di hotel? Atau di rumah Buna sama ayah saja, oke! Biar dad gak khawatir." Awalnya memang dad Nara yang memberikan pilihan kepada anaknya. Namun belum sempat anaknya itu memilih, dad Nara sudah mengambil keputusan sendiri. Membuat mama Anja menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, terserah Daddy saja!" Mungkin mengalah jauh lebih baik. Nanti kalau ia sudah berada di Surabaya, ia sendiri yang akan memutuskan untuk tinggal dimana.
*****
"Apa kalian mau ikut ke Surabaya besok?" Tanya dad Nara kepada kedua anak laki-lakinya. Saat ini mereka sedang berada di ruang makan menikmati makan malam terakhirnya bersama sang princess. Entah kapan lagi mereka bisa makan bersama dalam satu meja.
Kata orang tua zaman dulu, tidak baik makan sambil berbicara. Namun rasanya meja makan memang tempat yang paling pas untuk ngobrol. Karena di sanalah seluruh anggota keluarga berkumpul.
"Aku juga sibuk dad!" Sahut Oka.
"Sibuk apa kamu!"
"Ah elah, gak usah ngegas gitu kali dad." Protes Oka saat melihat daddy-nya itu menatap garang ke arahnya. "Beneran sumpah, Oka gak bo'ong."
"Sudah dad, kita saja yang pergi mengantar kakak. Apa Mbak Tini mau ikut?" Mama Anja beralih menatap Mbak Tini. Mbak Tini sebenarnya juga berat berpisah dengan putrinya itu. Tapi semua itu sudah menjadi keputusan Radha. Dan ia hanya bisa mendukung keputusan putrinya itu demi kebaikannya.
"Saya di rumah saja Bu, nanti siapa yang ngurus anak-anak." Bagi Mbak Tini mereka bertiga masih seperti anak-anak.
"Mereka berdua sudah besar Mbak, mereka bisa mengurus diri mereka sendiri." Namun mbak Tini tetap menggeleng. "Baiklah!" Akhirnya mama Anja mengalah dan tidak memaksa Mbak Tini.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ