
"DADDY!"
Sontak saja suara teriakan anak kecil itu mengalihkan perhatian seluruh orang yang ada di dalam ballroom hotel tersebut. Pandangan semua orang yang tadinya tertuju pada proses ijab kabul, kini beralih menatap seorang gadis balita yang nampak berjalan dengan riangnya dari arah pintu ballroom bersama seorang wanita cantik yang diyakini mereka adalah ibu dari gadis kecil tersebut.
Perlahan tapi pasti, gadis kecil yang berusia dua setengah tahun itu menghampiri meja tempat dilaksanakannya ijab Kabul. Dan semua orang yang ada di dalam ballroom hotel tersebut nampak harap-harap cemas menunggu siapakah gerangan yang dipanggil Daddy oleh balita tersebut.
Semakin dekat dan semakin dekat, tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut mereka, seolah-olah mereka semua juga menahan nafasnya.
Satu....
Degh!
Degh!
Degh!
Dua....
Degh!
Degh!
Degh!
Layaknya genderang perang yang di tabuh, debaran di dada mereka semakin menggila. Sedikit lagi bocah itu melangkah, maka semua tanda tanya yang ada di kepala mereka akan terjawabkan.
Tinggal sedikit.
Tiga....
"DADDY!"
Degh!
Elmer yang masih shok belum menyadari jika saat ini gadis kecil itu berada tepat di depannya. Hingga ia merasakan sebuah tarikan di bajunya.
"Daddy!" Balita itu menarik ujung jas yang dikenakan oleh Elmer. "Daddy kenapa nggak puyang-puyang? Ala lindu Daddy, hiks.. hiks.." Bocah yang mengaku dirinya bernama Ala itu pun menangis sesenggukan, membuat semua orang yang ada di sana seolah ikut merasakan kesedihan gadis kecil itu. Dan di antara mereka semua masih terdiam dan hanya menyaksikan interaksi antara gadis kecil itu dengan laki-laki yang dipanggil Daddy olehnya. Namun jangan lupakan dua orang yang sejak tadi sudah mengepalkan kedua tangannya. Siapa lagi kalau bukan dad Nara dan Wisnu.
"A-Ara kenapa ada di sini?" Perlahan Elmer merendahkan tubuhnya kemudian berjongkok di depan gadis balita itu membuat semua orang semakin shok. Mereka pikir gadis kecil itu hanya salah orang, tapi saat melihat Elmer mengenali gadis itu, mereka semua menjadi terkejut.
"Ala lindu Daddy, hiks.. hiks.." Balita kecil itu langsung menubruk tubuh Elmer dan langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Elmer. Elmer awalnya nampak ragu untuk membalas pelukan gadis kecil yang memanggilnya Daddy itu, namun hatinya terasa tersayat saat melihat kesedihan gadis kecil itu. Akhirnya perlahan ia membalas pelukan balita itu dan memberikan banyak kecupan di puncak kepala gadis balita itu. Dan semakin syoklah orang-orang yang ada di sana, tak terkecuali Radha yang sudah berlinang air mata.
"Dasar k3p@r@t! B@jin9@n!" Dad Nara yang sejak tadi sudah menahan amarah langsung saja menghampiri Elmer dan langsung menariknya hingga pelukan di antara Elmer dan bocah kecil itu terlepas.
Buuugh!!
Buuugh!!
"Aaaaarrrrgh!"
"Daddy!"
"Daddy! Danan takiti Daddy Ala, hu hu hu...." Wanita cantik yang tadi datang bersama Ara segera membawa anaknya ke dalam gendongannya.
"Bangun kau pria br3n9s3k!"
Buuuugh!!
Satu pukulan keras mendarat lagi di perut Elmer hingga membuat Elmer tersungkur ke atas lantai.
"Aaaaaa! Dad, sudah!" Mama Anja segera menghampiri suaminya.
Jeritan mama Anja itu seolah mengembalikan kesadaran orang-orang yang ada di dalam ballroom hotel tersebut. Wisnu dan ayah Seno serta Daddy Andrew pun segera melerai dad Nara dan Elmer. Sedangkan Rendra sudah mati-matian mencekal sebelah tangan adiknya agar Oka tak menggila. Karena bisa saja adiknya itu menghabisi Elmer disana.
"LEPASKAN AKU! BIAR KU HABISI B@JIN9@N ITU!" Teriak dad Nara meronta dalam cekalan ayah Seno dan Daddy Andrew.
"Bangun kau b@jin9@n!" Wisnu mengulurkan tangan kirinya ke arah Elmer yang masih tersungkur di lantai. Awalnya Elmer hanya memperhatikan tangan Wisnu yang terulur ke arahnya. Namun karena Wisnu tak kunjung menarik tangannya kembali, dengan terpaksa Elmer menerima uluran tangan tersebut.
Belum sempat Elmer berdiri dengan tegak, sebuah kepalan tangan sudah mendarat kembali ke wajahnya, hingga membuatnya kembali tersungkur ke lantai.
Buuugh!!
"Bangun kau br3ng$3k!"
"Sudah, sudah!" Ayah Seno langsung meraih kepalan tangan anaknya sebelum kembali mendarat ke wajah Elmer. "Seret b@jin9@n itu keluar!" Teriak ayah Seno kepada dua security yang sejak tadi berjaga di depan pintu. Security itu pun bergegas menghampiri Elmer lalu membantunya berdiri.
"Pi, aku bisa jelasin. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya." Elmer meronta saat kedua security itu menyeretnya.
"Jangan pernah lagi memanggil ku dengan sebutan Papi, aku tidak sudi! Cuiiiihh! Seret dia keluar dari hotel." Teriak dad Nara murka.
"Pi, aku sudah bercerai dengannya. Waktu itu aku amnesia!" Teriak Elmer saat tubuhnya diseret keluar dari ballroom hotel itu oleh kedua security.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ