
Hari berganti bulan berlalu. Tak terasa usia kehamilan Radha sudah memasuki HPL. Ya, menurut perkiraan dokter kandungan yang menangani Radha, HPL Radha kurang dua hari lagi. Semua orang nampak gelisah dan deg-degan. Tak terkecuali Mama Anja dan dad Nara yang sudah tiba di Surabaya kembali tadi siang. Bahkan Wisnu pun sudah mengambil cuti dari dua minggu yang lalu untuk menemani persalinan istrinya.
"Apa mama dan Buna dulu waktu melahirkan tepat HPL?" Tanya Radha kepada Mama dan Bunanya. Saat ini mereka berenam sedang duduk di ruang keluarga setelah makan malam sambil menikmati siaran televisi.
"HPL itu hanya perkiraan dokter sayang. Ada yang maju dari hari perkiraan, dan ada juga yang mundur. Kita kan nggak tau." Mama Anja mengelus lembut kepala anaknya yang saat ini berada di pangkuannya. Sedangkan kaki Radha ada di pangkuan suaminya. Dan suaminya itu sedang memijat pelan kakinya.
"Kalau Mama sama Buna?" Tanya Radha lagi.
Sebenarnya mama Anja dan Buna Laras sudah sepakat untuk tidak memberitahukan kepada anaknya kalau mereka melahirkan sebelum hari perkiraan. Takutnya nanti sang anak kepikiran karena tak kunjung melahirkan. Tapi karena anaknya itu ngotot ingin tahu, jadi mereka terpaksa harus mengatakannya. (Kalau nggak salah seminggu atau dua minggu sebelum HPL. Entahlah, emak lupa π )
"Mama dulu sebelum HPL sih, tapi banyak juga yang melewati HPL."
"Kalau Buna?"
"Eemm, Buna juga sama." Ragu-ragu Buna Laras menjawabnya.
Semua orang nampak menegang saat memperhatikan raut wajah Radha yang terlihat pias.
"Baby nggak usah di pikirin oke. Siapa tau nanti malam atau besok mungkin dedeknya baru mau lahir." Serobot dad Nara, takut jika anaknya itu terbebani yang nantinya akan berimbas pada kandungannya.
"Sayang jangan di pikirin oke. Kan dedeknya juga sehat, nendang-nendang terus." Wisnu tak mau kalah. Dia berusaha mengalihkan pikiran istrinya.
Dan berhasil! Radha nampak mengulas senyum seraya mengelus-elus perutnya. "Iya, dedek aktif banget ini di dalam perut."
Haahh! Akhirnya mereka semua dapat bernafas dengan lega saat Radha sudah tidak kepikiran lagi dengan hari persalinannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Radha dan Wisnu serta Mama Anja dan dad Nara sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Sedangkan Buna Laras dan ayah Seno pergi ke depan ke warung mereka.
"Apa sebaiknya besok kita periksa ke dokter saja." Wisnu mengusap lembut perut istrinya. Saat ini keduanya sudah merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Dugh!
"Eh sayang, kamu kenapa?" Saking senangnya sampai Wisnu tidak menyadari kalau istrinya itu sedang meringis kesakitan.
"Nggak papa, hanya sedikit sakit saja."
"Mana yang sakit?" Wisnu meraba-raba bagian perut buncit istrinya.
"Ish mas, sakit karena dedeknya nendang tadi."
"Owh! Anak papa nggak boleh nakal ya." Wisnu mendekatkan kepalanya ke perut istrinya seolah berbisik kepada anaknya. "Jangan membuat Mama kesakitan. Kalau mau lahir, lahirlah dengan selamat dan jangan menyakiti mama. Cup!" Wisnu mengakhiri ucapannya dengan memberi kecupan dalam di perut sang istri.
Radha nampak terharu dengan ucapan suaminya. Matanya pun terlihat berkaca-kaca. Sungguh ucapan rasa syukur selalu terpanjat di hatinya. Meskipun suaminya itu masih muda, tapi kasih sayang dan tanggung jawabnya tidak diragukan lagi. Wisnu benar-benar menjadi suami siaga. Bahkan pemikiran sang suami jauh lebih dewasa dari pada dirinya.
Jika di lihat dari usia, sudah jelas usia Wisnu memang masih sangat muda. Tapi jika dilihat dari pemikiran dan juga sikapnya, Wisnu memang benar-benar sudah matang dan dewasa. Dia juga selalu bijak dalam segala hal. Kecuali yang berhubungan dengan mantan kekasih istrinya itu. Akal sehatnya pasti langsung menghilang dan dirinya akan langsung dikuasai oleh amarah.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ