
Seminggu berlalu, jatah cuti Wisnu yang diambilnya untuk berkunjung ke Jakarta ia habiskan hanya di rumah saja bersama sang istri. Dan selama itu pula Radha tidak datang ke hotel, karena suaminya itu sudah menyerahkan seluruh urusan hotel kepada manager hotel Prasasti tersebut.
Sesuai yang dikatakan oleh suaminya, Radha tidak akan pergi ke hotel tanpa suaminya. Maka hari ini Radha hanya bisa berdiam diri di rumah karena Buna Laras dan ayah Seno melarangnya untuk membantu di warung.
Setelah kepergian suaminya, Radha memilih masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia tidak bisa melakukan apapun hingga rasa bosan mulai menyergapnya. Bukannya tidak bisa melakukan apapun, tapi karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan selain rebahan seraya memainkan ponselnya.
*****
Di tempat lain lebih tepatnya di kampus, Wisnu yang baru saja menginjakkan kakinya di parkiran kampus langsung diseret oleh Bayu sahabatnya yang sudah sejak tadi menunggunya di tempat itu. Inilah kesempatannya untuk menanyakan kebenaran ucapan Wisnu seminggu yang lalu. Sudah cukup baginya menunggu selama itu. Dan hari ini Wisnu harus mempertanggungjawabkan ucapannya.
"Ada apa sih Yu? Kenapa loe bawa gue ke sini? Sebentar lagi kelas mulai." Tanya Wisnu saat tiba di lorong yang sepi.
"Gue masih penasaran dengan ucapan loe seminggu yang lalu."
"Ucapan yang mana?"
"Loe gak usah pura-pura bego." Bayu mulai geram dengan sahabatnya itu.
"Ucapan yang mana? Serius gue lupa."
"Istri! Loe bilang istri loe masuk rumah sakit."
"Owh itu, memang waktu itu istri gue masuk rumah sakit."
"Istri yang mana? Kapan loe nikah? Ama siapa?" Berondongan pertanyaan langsung keluar begitu saja dari mulut Bayu yang gatal.
"Pertanyaan loe udah kayak kereta aja bro, bikin kepala gue pusing."
"Makanya cepetan jawab!" Bayu yang geregetan langsung menonyor kepala Wisnu.
Akhirnya Wisnu pun mau tak mau menceritakan semuanya. "Sebulan yang lalu saat kakak gue menikah,"
"Eh tunggu," Belum juga Wisnu menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Bayu. "Bukannya kakak loe sudah menikah setahun yang lalu?" Ya, dulu saat pernikahan Camelia, Bayu memang mendapat undangannya. Dan kemarin saat Radha menikah, Bayu memang tidak diundang karena yang punya hajad bukan ayah Seno melainkan dad Nara.
"Makanya dengerin dulu omongan gue!" Sekarang giliran Wisnu yang menoyor kepala Bayu.
"Sebulan yang lalu saat kakak gue menikah, maksud gue kak Radha. Ada insiden kecil hingga membuat pernikahan itu hampir batal."
"Astaga!" Sahut Bayu kemudian kembali mengatupkan bibirnya saat melihat tatapan tajam dari Wisnu yang seolah-olah mengisyaratkannya untuk diam.
"Nah karena itu, agar pernikahan itu tidak batal dan keluarga kami tidak menanggung malu, terutama kak Radha yang pasti akan sangat terpukul karena pernikahan yang selama ini diimpikan hancur berantahkan. Maka gue yang maju untuk menjadi mempelai prianya."
"Hah! Bukannya kalian sepupu?" Syok? Tentu saja! Selama ini yang Bayu tahu mereka adalah saudara sepupu. Bukankah itu artinya di antara mereka masih terikat darah?
"Tidak ada ikatan darah di antara kami!" Tegas Wisnu seolah mengerti apa yang ada di kepala sahabatnya itu. "Buna dan Mama hanyalah sahabat yang sudah seperti saudara." Kini Benang kusut yang ada di kepala Bayu sudah mulai terurai.
"Berarti loe menikahi Kak Radha hanya karena kasihan?"
"Tidak!" Jawab Wisnu tegas. "Gue mencintainya, sangat!"
"Oh astaga! Jadi selama ini loe mencintai kakak loe sendiri? Pantas saja selama ini loe tidak tertarik dengan cewek manapun."
"Ya! Gue sangat mencintainya Yu. Gue nggak rela kakak gue menikah dengan laki-laki lain. Bahkan gue berdoa agar gue bisa menjadi mempelai prianya. Dan doa gue itu dikabulkan oleh Tuhan. Gue seneng, tapi gue juga sedih. Gara-gara doa jahat gue itu, kak Radha batal menikah dengan orang yang selama ini ditunggunya dan sangat dicintainya. Tapi gue juga bersyukur, karena Tuhan membongkar kebejatan calon suami kak Radha tepat di hari pernikahannya. Gue gak bisa bayangin seandainya itu semua terbongkar setelah mereka menikah. Pasti kak Radha akan jauh lebih sakit." Panjang lebar Wisnu mengungkapkan isi hatinya kepada sahabatnya itu. Dan Bayu hanya manggut-manggut membenarkan ucapan Wisnu.
Dan akhirnya mereka berdua melewatkan kelas pertama mereka karena keasyikan bercerita. Layaknya cewek kalau sedang ngerumpi pasti lupa segalanya, terutama kalangan emak-emak berdaster yang hobinya ghibahin tetangga π€
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ