
Sebulan pun berlalu, dan selama itu pula Radha tidak pernah keluar dari kamarnya. Kejadian waktu itu benar-benar membuatnya syok dan trauma. Bahkan hampir tiap malam Radha selalu mengalami mimpi buruk. Akhirnya dad Nara menyuruh istrinya untuk menemani sang Putri saat tidur. Tak lupa dad Nara juga mendatangkan seorang psikiater ke rumah agar bisa membantu menyembuhkan trauma putrinya dan sang Putri bisa kembali seperti dulu lagi.
Pagi ini Radha sudah mulai bisa tersenyum, dan pandangannya sudah tidak kosong lagi. Dengan perlahan ia melangkahkan kaki jenjangnya menuruni anak tangga. Sudah terlalu lama rasanya ia tidak makan bersama dengan keluarganya, karena selama ini mamanya serta ibunya selalu membawakan makan ke kamarnya.
"Loh kakak kenapa turun?" Mbak Tini yang pertama kali melihatnya langsung bangkit dari duduknya. Semua orang yang ada di sana pun serempak menoleh. "Nanti ibu bawakan makan ke atas, ayo kakak kembali ke kamar saja." Mbak Tini menggandeng tangan gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.
"Kakak ingin makan bersama kalian Bu." Radha berganti menggamit tangan ibunya kemudian menuntunnya menuju ke meja makan kembali. Mbak Tini pun dengan senang hati mengikuti keinginan Radha. Ia merasa sangat bahagia karena Radha sudah kembali seperti dulu lagi. Terlihat dari pancaran sinar matanya yang terlihat berbinar dan ceria tak seredup hari-hari kemarin.
"Mama senang, kakak sudah kembali lagi seperti dulu." Mama Anja bangkit dari duduknya menghampiri sang Putri kemudian memeluknya serta memberikan kecupan di seluruh wajah putrinya.
"Ayo baby duduklah, kita makan bersama. Mulai hari ini tidak ada kata sedih lagi." Dad Nara memberikan senyuman untuk menyemangati putrinya. "Kita semua harus bahagia!" Dad Nara menatap satu persatu anggota keluarganya, kemudian pandangan dad Nara berhenti di satu titik di mana saat ini Oka si bontot duduk di sebelah kirinya.
"Apa?" Ceplos Oka yang merasa ada makna tersirat dari tatapan daddy-nya yang tertuju ke arahnya itu.
"PINDAH!" Usir dad Nara tegas.
"Ish, selalu saja kakak yang jadi kesayangan." Dengan terpaksa Oka pun bangkit dari duduknya kemudian pindah ke kursi lain, membuat mereka yang ada di sana tertawa seolah mengejek Oka.
"Sini baby, duduk dekat Daddy." Radha pun segera mendudukkan tubuhnya di kursi yang tadi ditempati oleh adiknya.
Mbak Tini segera menyendokkan nasi ke piring Radha beserta lauk kesukaan anaknya. Kemudian dad Nara dan mama Anja juga bersamaan mengambilkan lauk untuk anaknya itu, membuat Radha tertawa melihat kekompakan Daddy dan mamanya. Dan setelah itu kedua adiknya pun ikut-ikutan mengambilkan lauk dan meletakkan ke piring sang kakak. Suara gelak tawa pun memenuhi ruang makan kediaman Wijaya pagi itu. Ruangan yang selama sebulan ini sunyi sepi tanpa suara canda tawa akhirnya kembali hidup karena si cerewet sudah kembali mewarnai meja makan.
"Dad, kakak ingin bekerja." Ujar Radha setelah mereka semua menyelesaikan sarapannya pagi ini. Beruntung Hari ini adalah hari libur, jadi mereka tidak ada yang terburu-buru untuk berangkat ke kantor ataupun berangkat ke kampus dan sekolah.
Serempak semua mata tertuju ke arah Radha. Sedang yang ditatap hanya terkekeh. Begitulah keluarganya yang memperlakukannya layaknya seorang princess, yang tidak boleh melakukan apapun. Bahkan sekedar untuk membantu ibunya di dapur saja tidak diizinkan oleh ibunya.
"Apa uang yang selama ini Daddy berikan kurang?" Nara memandang lekat ke arah putrinya.
"Bukan begitu dad, bukan masalah uang. Tapi kakak butuh kesibukan untuk mengalihkan pikiran kakak."
Dad Nara sejenak berpikir, mencerna ucapan anaknya. Benar juga apa yang dikatakan anaknya itu. Akan jauh lebih baik jika anaknya itu melakukan kesibukan lain agar bisa melupakan kejadian yang membuat anaknya itu trauma.
"Hah, serius dad?"
"Ya! Tapi.....?" Dad Nara menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" Rasa bahagia yang tadi sempat membuncah sedikit memudar saat mendengar ucapan daddy-nya yang digantung.
"Tapi hanya boleh di kantor sendiri, tidak di kantor orang lain!" Putus dad Nara tegas.
"Iya, kakak akan bekerja di kantor sendiri." Radha mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi di kantor yang ada di Surabaya." Lanjut Radha yang membuat semua orang terkejut tak terkecuali dad Nara. "Kakak akan belajar mengelola hotel di sana."
"Siapa yang mengizinkan baby jauh dari Daddy?!" Wajah dad Nara nampak merah padam saat mendengar permintaan anaknya itu.
"Dad sabar, kita bicarakan baik-baik." Mama Anja mengelus bahu suaminya untuk menenangkannya. Dad Nara beranjak dari duduknya dan memilih pergi dari ruang makan menuju ke kamarnya untuk meredakan emosinya yang sempat naik.
"Kakak istirahat dulu ya, nanti kita bicara lagi. Mama mau menenangkan Daddy dulu." Mama Anja segera menyusul suaminya. Sedangkan anak-anak memilih kembali ke kamarnya masing-masing.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ