
[Aku sudah berbicara dengan kedua orang tua ku tentang hubungan kita El, dan Mama mengundang mu besok untuk makan malam]
Radha langsung mengirimkan pesan kepada kekasihnya setelah masuk ke dalam kamarnya.
Lama Radha menanti balasan pesan dari Elmer hingga ia hampir saja terlelap saat bunyi notif pesan mengembalikan kesadarannya. Radha segera meraih ponselnya yang tadi sudah ia letakkan di atas nakas.
[Ok]
Dua jam lamanya ia menantikan balasan pesan dari sang kasih, dan hanya di balas dengan OK saja? Oh my God! Gadis itu mendengus kesal, kemudian meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Radha segera mematikan lampu kamarnya kemudian menarik selimutnya hingga sebatas dada dan langsung memejamkan matanya.
*****
"Kamu kenapa sih dad?" Anja yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di samping suaminya. "Apa masih kepikiran sama kakak?"
"Bisa-bisanya baby menjalin hubungan dengan seorang pria diam-diam tanpa sepengetahuan ku." Emosi! Ya, kalau saja laki-laki yang menjadi pacar anaknya itu ada di depannya, sudah pasti ia akan menghajarnya sampai babak belur. Berani-beraninya dia memacari anaknya tanpa meminta restu darinya. "Hah, kemana saja aku setahun ini sampai aku tidak tahu anak ku sudah punya pacar."
"Sudahlah dad, kakak kan juga sudah dewasa." Mama Anja mengusap bahu suaminya untuk menenangkan kemarahan sang suami. "Kita lihat saja besok malam, apa laki-laki itu memang pantas untuk menjaga kakak. Sekarang kita tidur ya?" Anja sudah menarik selimut kemudian merebahkan tubuhnya.
"Kamu tidak lupa bagaimana caranya meredakan emosi ku kan ma?" Nara menarik selimut hingga membuat sang istri tersentak kaget.
"Ish, bisa-bisanya masih ingat hal begituan." Anja memiringkan tubuhnya membelakangi sang suami. Nara yang tak terima karena merasa diacuhkan istrinya, langsung membalik tubuh sang istri dan langsung mengungkungnya.
"Aku membutuhkannya untuk meredakan emosi ku." Nara langsung melancarkan aksinya.
*****
Pagi menyambut, cahaya matahari sudah tidak malu-malu lagi karena sudah sedikit meninggi. Embun pagi yang membasahi dedaunan pun juga ikut menguap pergi.
"Mana Oka?" Dad Nara melirik kursi yang biasanya diduduki oleh anak bungsunya itu masih terlihat kosong. Kebiasaan Oka, padahal waktu sarapan sudah molor satu jam dari biasanya. Tapi tetap saja anak itu selalu membuat mereka menunggu.
"Biar aku panggil dad." Rendra beranjak dari duduknya.
"Ibu saja yang panggil Oka." Mbak Tini ikut beranjak dari duduknya.
"Biar kakak saja bu."Radha memegang bahu mbak Tini hingga membuat wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu terduduk kembali. "Memang si boncabe minta di siram air seember." Radha bersungut-sungut kesal seraya melangkah menaiki tangga menuju ke kamar adiknya.
Kamar yang dulu ditempati oleh Nara dan Anja sekarang ditempati oleh Radha, dan Oka tetap menempati kamar bayi yang sekarang sudah disulap menjadi kamar ala-ala anak muda jaman now. Semua perabotan bayi yang dulu ada di dalam kamar tersebut sudah dipindahkan ke gudang. Sedangkan Daddy Nara dan mama Anja menempati kamar mendiang Mama Rosi dan papa Hadi yang ada di lantai bawah. Rendra juga menempati kamar di lantai bawah, tepatnya salah satu kamar tamu yang paling luas. Mbak Tini tetap di kamarnya semula yang dulu ditempatinya bersama mendiang mbok Parni.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ