
Selepas makan malam, Anja langsung kembali ke kamar karena ada yang ingin di lakukannya. Sedangkan Radha sedang asyik menonton televisi bersama daddy-nya dan juga Omanya.
"Anak Daddy yang cantik belum ngantuk?" Radha menggeleng, fokusnya masih tertuju pada benda kotak yang ada di depan yang menampilkan film kartun kesukaan Radha, yaitu film Krishna kecil.
"Kapan ada waktu luang Ra??" Tanya mama Rosi mengelus lembut kepala cucunya.
"Memangnya ada apa ma?"
"Kalian harus segera fitting baju pengantin."
"Owh, lusa aku usahain ma. Kalau besok gak bisa, ada banyak pertemuan yang harus aku hadiri."
"Iya gak papa, yang penting jangan mepet-mepet hari H-nya saja."
"Urusan WO gimana ma?"
"Udah gak usah mikirin WO, biar mama yang urus."
"Makasih ma!"
"Lihat anak kamu udah lelap." Mama Rosi menunjuk Radha yang sudah tertidur lelap di sampingnya dengan kepala yang disandarkan di sandaran sofa dan tangan mama Rosi masih mengelus-elus kepala cucunya tersebut. Nara pun segera beranjak kemudian menggendong anaknya menuju ke kamar calon istrinya.
*****
"Mbak Shasaaaaaa!" Teriak Anja saat sambungan teleponnya diangkat oleh Shasa. Ya, Anja sudah sering menghubungi dan mengirim pesan kepada Shasa sejak dulu ia meminta nomor telepon Shasa kepada mama Dona saat mereka bertemu di bandara. Namun tidak pernah ada jawaban dan tidak pernah ada satupun balasan pesan dari Shasa. Dan baru kali ini Shasa mau mengangkat teleponnya.
"Hey, gak usah teriak-teriak. Aku belum budeg." Shasa ikut berteriak seraya menjauhkan ponselnya dari telinganya di seberang sana.
"Pindah ke Vidio call ya mbak?" Tanpa persetujuan dari Shasa, Anja langsung memindah teleponnya beralih ke Vidio. Nampak wajah tembem Shasa langsung memenuhi layar ponsel Anja.
"Iih, itu pipi apa bakpao?" Canda Anja terkikik.
"Eh, sialan nie anak. Ini udah mendingan ya, dari pada waktu hamil si kembar." Shasa nampak melotot.
"Itu tadi beneran foto kedua anak mbak Shasa?"
"Iya!"
"Mbak Shasa kemana saja selama ini? Apa yang terjadi mbak? Hiks.. hiks.."
"Eh, malah nangis nie bocah."
"Mbak Shasa, aku bukan bocah lagi, aku udah jadi maknya bocah ini."
"Kenapa tadi motonya dari belakang mbak? Kan jadi gak bisa lihat wajah si kembar. Wajah Dad-nya juga, kan jadi penasaran."
"Sengaja!"
"Iih, mbak Shasa nyebelin." Anja memanyunkan bibirnya.
"Ada apa tadi nelpon?"
"Oh ya sampe lupa. Bulan depan pulang ya? Pliiiiss!"
"Memangnya ada apa dengan bulan depan?"
"Aku sama mas Nara mau nikah."
"Oh ya? Selamat ya, semoga setelah ini kamu menemukan kebahagiaan mu yang sesungguhnya Nja."
Hampir dua jam lamanya mereka bertelepon. Kalau sajak tidak ada bunyi ketukan pintu, Anja pasti tidak akan mengakhiri teleponnya. Anja segera membuka pintu kamarnya dan terlihat Radha yang sudah tertidur lelap di gendongan sang Daddy.
"Eh, udah tidur mas?" Nara melangkah masuk menuju ke ranjang untuk merebahkan Radha ke atas tempat tidur. Setelah merebahkan Radha, Nara tak langsung pergi melainkan mendekati Anja. Anja pun perlahan beringsut mundur hingga tubuhnya membentur tembok samping pintu.
Cup!
Satu kecupan mendarat cantik di kening Anja membuat sang empunya memejamkan mata meresapi benda kenyal yang menempel di keningnya.
"Selamat malam." Nara melepaskan kecupannya kemudian berlalu meninggalkan Anja yang masih mematung di tembok. Seperginya Nara dari kamarnya, Anja segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat. Disandarkannya tubuhnya ke daun pintu seraya memegangi dadanya yang berdebar-debar. Sepertinya Anja butuh dokter ahli jantung untuk memeriksa kesehatan jantungnya saat ini.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ