I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 60



Anja mengurai pelukannya kemudian menatap sendu ke arah suaminya. "Aku bakalan maafin Mas Nara, tapi dengan satu syarat."


"Syarat? Apa itu?" Nara mengernyitkan alisnya, ia sedikit merasa was-was. Takutnya sang istri mengajukan syarat yang aneh-aneh.


"Mas Nara dilarang meminta haknya sampai nanti aku melahirkan dan sudah pasang KB." Ucap Anja mantap tanpa keraguan sedikitpun.


"Hah! Gak bisa gitu dong sayang. Kejam amat syaratnya. Mana aku bisa tahan selama itu?"


"Terserah, keputusan ku sudah tidak bisa diganggu gugat." Anja berbalik membelakangi suaminya.


"Iya deh, iya deh, Mas usahain. Tapi Mas nggak janji bakal kuat selama itu." Nara memeluk istrinya dari belakang. Merasa tidak ada penolakan dari istrinya, Nara pun perlahan membalik tubuh istrinya kembali menghadap ke arahnya lalu memeluknya dengan erat.


Setelah memastikan sang istri tertidur dalam pelukannya, Nara segera meraih ponsel sang istri yang berada di ujung nakas. Seingat Nara, ia pernah menyimpan nomor Bima asistennya dalam ponsel sang istri. Dan benar saja, ia menemukan nama Bima dalam ponsel istrinya. Nara segera menekan tombol hijau dan langsung tersambung kepada asistennya.


"Hallo!" Jawab Bima di ujung telepon.


"Belikan gue ponsel baru, sekarang!" Tut! Nara langsung mematikan sambungan teleponnya membuat sang asisten yang ada di seberang sana mengumpat kesal.


Nara perlahan mengurai pelukannya kemudian turun dari ranjang setelah mendaratkan kecupan di kening istrinya. Nara memutuskan untuk turun ke ruang kerjanya menunggu Bima datang mengantar ponsel untuknya.


"Gimana Anja Ra?" Baru saja Nara turun dari tangga sudah dihadang oleh mamanya.


"Anja sudah tenang ma. Anak-anak kemana ma, kok sepi?"


"Syukurlah.…" Mama Rosi menghela nafas lega. "Anak-anak ada di kamar sama Mbak Tini."


"Ponsel ku dimana ma?" Nara celingukan memperhatikan anak tangga yang sudah terlihat bersih.


"Udah di beresin sama mbok Parni tadi." Nara bergegas mencari Mbok parni ke dapur.


"Mbok!" Teriak Nara memanggil asisten rumah tangganya. Mbok Parni yang mendengar panggilan dari majikannya pun segera menghampiri.


"Iya den!"


"Ponsel ku dimana mbok?"


"Sudah si mbok letakkan di atas meja ruang kerja den Nara." Mbok Parni tahu betul kalau benda itu adalah benda penting majikannya. Makanya tanpa bertanya dulu ia langsung meletakkan benda tersebut ke ruang kerja sang majikan.


"Owh ya sudah, terima kasih mbok."


"Iya den, sama-sama!" Nara berlalu menghampiri mamanya kembali.


Selang satu jam kemudian Bima tiba di kediaman Wijaya dengan menenteng sebuah paper bag yang bertuliskan logo sebuah counter ponsel ternama di Jakarta.


"Siang Tante," Sapa Bima saat memasuki rumah dan melihat Mama Rosi yang sedang duduk di ruang tengah.


"Siang Bim!"


"Nara dimana Tan?"


"Ada di ruang kerjanya."


"Ya udah, Bima masuk dulu Tan."


"Ya!" Bima melangkah menuju ruang kerja Nara setelah mendapat anggukan dari mama Rosi.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk!" Bima langsung masuk ke dalam setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan tersebut.


"Nih pesanan loe!" Bima meletakkan paper bag ke atas meja.


"Loe urus aja, tuh handphone gue ambyar." Nara menunjuk ponselnya yang sudah tak karuan bentuknya di atas meja.


"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ponsel loe bisa ambyar kek gitu?" Bima meraih lagi baper bag tersebut kemudian membongkar ponsel yang ada di dalamnya serta memindahkan memory card yang ada di ponsel lama Nara ke ponsel yang baru seraya mendengarkan cerita dari Nara tentang kronologis kejadian hingga handphonenya menjadi korban. Nara pun tak sungkan menceritakan kepada sang asisten bahwa ia juga mendapat hukuman dari sang istri, kalau ia tidak boleh meminta haknya hingga nanti sang istri melahirkan. Membuat Bima terbahak-bahak menertawakan nasib sahabat sekaligus bosnya itu.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ