
"Aku akan pergi!" Ucap Elmer yang masih menggenggam erat tangan Radha.
"Kemana?" Radha menatap lekat ke arah Elmer.
"Kamu nggak perlu tahu itu." Elmer kembali mengecup tangan kekasihnya itu.
"Berapa lama?"
"Entahlah, mungkin satu atau dua tahun, atau mungkin lebih." Elmer menatap lurus ke depan sana. "Apa kamu bersedia menunggu ku hingga aku kembali?" Elmer mengalihkan pandangannya untuk menatap kekasihnya.
Mendapat tatapan dari Elmer, membuat Radha salah tingkah. Tangan kirinya ia gunakan untuk meremas ujung dressnya, karena tangan kanannya masih dalam genggaman Elmer.
"Apa kamu mau menunggu ku Ra?" Elmer mengulangi pertanyaannya.
"Untuk apa?"
"Untuk apa?" Elmer malah mengulangi pertanyaan Radha karena tidak tahu maksud dari pertanyaan kekasihnya itu.
"Untuk apa aku menunggu mu? Bukankah di antara kita sudah berakhir?"
"Aku tidak pernah mengizinkan mu untuk mengakhiri hubungan kita! Kamu tetap milik ku, selamanya!" Elmer menekankan setiap ucapannya.
"Tapi kamu br3n9$3k El!" Radha menarik tangannya dalam genggaman Elmer kemudian memukuli dada Elmer dengan terisak-isak.
"Sssstt! Maafkan aku!" Elmer langsung merengkuh tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Tubuh Radha terasa bergetar dalam pelukan Elmer. Mungkin gadis itu masih ketakutan, dan kejadian yang dialaminya masih menyisakan trauma. Apalagi saat ini dirinya berada dalam pelukan laki-laki yang hampir saja merenggut kehormatannya.
Radha sama sekali tidak membalas pelukan Elmer. Namun gadis itu menumpahkan tangisannya di dada Elmer hingga membuat baju yang dikenakan oleh Elmer basah di bagian dadanya.
Wisnu yang melihat kakaknya menangis hampir saja menerjang laki-laki yang telah membuat kakaknya itu menangis. Namun saat melihat laki-laki itu memeluk kakaknya, ia menjadi urung dan kembali mendudukkan tubuhnya ke kursi.
Elmer melihat sejenak jam yang ada di pergelangan tangannya kemudian mengurai pelukannya.
"Aku harus pergi baby, Cup!" Elmer mendaratkan kecupan sayang dan dalam di dahi kekasihnya. Setelah itu ia langsung melesat pergi dari rooftop meninggalkan sekeping hati yang masih dilanda kegalauan.
"Kak!" Panggil Wisnu yang tanpa disadari Radha sudah berada di dekatnya.
Radha nampak celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya setelah tersadar dari lamunannya.
"Eh, Wis?" Radha segera mengusap sisa-sisa air matanya.
"Kakak mencari laki-laki tadi?" Radha mengangguk. "Dia sudah pergi. Apa laki-laki tadi menyakiti kakak?" Radha menggeleng.
"Ayo kita pulang saja!" Radha langsung menarik tangan Wisnu mengajaknya untuk kembali ke rumah.
*****
"Loh, anak Buna kenapa sayang? Datang-datang kok matanya sembab kayak habis nangis?" Buna Laras nampak khawatir melihat keadaan Radha.
"Hehe... gak papa kok bund." Radha mencoba untuk tersenyum.
"Apa Wisnu menyakiti mu sayang?"
"Nggak kok Bun."
"Ya sudah, ke belakang dulu sana cuci muka. Baru setelah itu bantuin Buna sama Camel di warung."
Radha pun menurut dan langsung menuju ke rumah. Harusnya tadi ia berkaca dulu sebelum turun dari mobil. Tapi entah kenapa pikirannya yang ruwet itu tidak bisa diajak kompromi. Bukannya masuk ke dalam kamarnya, Radha malah masuk ke dalam kamar Wisnu.
"Aaaaaaaa!"
Braakk!!
Radha dan Wisnu sama-sama berteriak. Radha langsung membanting pintu kamar Wisnu kembali. Sedangkan Wisnu langsung meraih kaos yang tadi dilepasnya, kemudian segera memakainya kembali. Beruntung hanya tubuh bagian atasnya yang dilihat oleh kakaknya. Apa jadinya tadi bila tubuh bagian bawahnya juga terlihat oleh kakaknya itu?
"Masuk kak, ada apa?" Teriak Wisnu dari dalam kamar. Radha pun segera membuka kembali pintu kamar Wisnu. Namun ia hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Awas jangan ember!"
Braakk!!
Radha kembali membanting pintu kamar Wisnu setelah memperingatkan adiknya itu sekali lagi.
"Astaghfirullah!" Wisnu terlonjak kaget seraya mengusap dadanya dramatis. Ternyata kakaknya itu dalam mode singa betina yang minta kawin. GARANG! WOOOOAAARRRR!
*****
*****
*****
*****
*****
Emak lagi khilaf π€ hari ini update sampai 5 bab π
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ