I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 159



Dua hari pun berlalu. Dan hari ini adalah hari tepat perkiraan kelahiran. Namun hingga hari menjelang malam, masih belum ada tanda-tanda Radha akan melahirkan. Bagaimana bisa mereka tidak cemas, jika yang ditunggu-tunggu oleh mereka tak kunjung tiba.


"Bagaimana kalau Cesar saja?" Cetus dad Nara di sela-sela makannya. Ya, saat ini mereka sedang menikmati makan malam bersama.


Semua orang yang ada di meja makan tersebut serempak mengalihkan pandangannya menatap dad Nara.


"Daddy hanya memberikan saran oke."


"Tapi kakak kan baik-baik saja dad. Kakak juga ingin melahirkan normal." Sahut Radha yang tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh daddy-nya.


"Daddy nggak maksa baby, Daddy hanya spontan saja tadi mengucapkan itu."


"Sudah, sudah! Lanjutkan makan kalian." Ucap mama Anja menengahi.


"Bagaimana kalau besok kita periksa saja ke rumah sakit." Usul Wisnu.


"Mama setuju!" (Mama Anja)


"Buna setuju!" (Buna Laras)


Ucap mama Anja dan Buna Laras bersamaan. Memang itu yang sejak tadi dipikirkan oleh mereka berdua. Namun mereka berdua ragu untuk menyampaikannya karena takut membuat anaknya kepikiran. Padahal apa salahnya kalau hanya ingin periksa saja?


"Baiklah, Daddy setuju."


"Ayah juga setuju." Sahut ayah Seno.


Seperti biasa seusai makan malam, Radha dan Wisnu langsung kembali ke kamar mereka karena Buna Laras dan mama Anja langsung ke warung. Menjelang isya' tadi warung nampak ramai, makanya Buna Laras cepat-cepat menyelesaikan makan malamnya.


Dad Nara jangan ditanyakan lagi, sudah pasti akan mengekori kemanapun istrinya pergi. Mungkin dad Nara dan ayah Seno akan menjadi partner penunggu kasir malam ini. Sedangkan Buna Laras dan mama Anja akan kembali menjadi pelayan seperti dulu kala.


*****


Malam semakin larut, namun Radha tak kunjung bisa terpejam. Sebenarnya tadi Radha sudah sempat tertidur, hanya saja ia terbangun karena merasakan perutnya yang mulas. Radha pun cepat-cepat bangun dari tidurnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Entah sudah yang ke berapa kali ia keluar masuk kamar mandi tanpa sepengetahuan suaminya. Karena suaminya itu nampak terlelap dan sama sekali tidak terganggu. Padahal pergerakan Radha naik turun ke atas tempat tidur cukup membuat kasur terasa bergoyang. Namun suaminya itu masih anteng saja tidurnya.


Ditempat lain, lebih tepatnya di kamar Buna Laras dan ayah Seno. Tepat pukul dua belas malam, bunyi ponsel terdengar nyaring di kesunyian malam. Sepertinya itu adalah bunyi sebuah alarm. Buna Laras pun terbangun dari tidurnya saat mendengar bunyi ponselnya tersebut. Ya, itu adalah bunyi alarm yang disetel oleh Buna Laras semenjak dulu.


Buna Laras mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya. Buna Laras bermaksud ingin mematikan alarm tersebut. Namun saat melihat tulisan yang terpampang nyata di layar ponselnya, mata Buna Laras langsung membulat.


Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Camelia yang ke dua puluh delapan dan Wisnu yang ke dua puluh satu. Dan mereka semua melupakan itu. Bahkan Wisnu sendiri sepertinya juga lupa dengan hari ulang tahunnya.


*****


"Sssstthh!" Ringis Radha yang sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit di perutnya dan juga di pinggangnya. "Mas!" Radha mencoba membangunkan suaminya yang masih terlelap. Sejak tadi memang dirinya tidak membangunkan sang suami karena ia mengira hanya sakit perut biasa. "Mas!" Radha mengguncang tubuh suaminya agak keras.


"Heemm!" Wisnu langsung terlonjak dan langsung terduduk. "Ada pa sayang?" Wisnu mengucek kedua matanya yang masih terasa perih.


"Perut ku sakit, hiks...." Radha benar-benar sudah tidak kuat merasakan sakit yang menjalar di area perut pinggang serta punggungnya.


"Hah! Ap-apa dedeknya mau lahir?" Wisnu langsung turun dari atas tempat tidur kemudian memutari ranjang. "Mana yang sakit?" Wisnu meraba-raba perut sang istri yang terduduk di pinggir ranjang. Istrinya itu sudah berlinang air mata membuatnya semakin panik.


"Panggilkan mama!" Teriak Radha. "Aaahh! Sssstthh!"


"I-iya sebentar!" Wisnu yang panik langsung keluar dari kamarnya menuju ke kamar yang ditempati oleh Mama Anja dan dad Nara.


Setelah berhasil membangunkan kedua mertuanya, Wisnu langsung menuju ke kamar orang tuanya sendiri untuk membangunkan Buna dan ayahnya.


Buna Laras yang saat itu baru saja akan merebahkan tubuhnya kembali setelah meletakkan ponsel ke atas meja pun urung saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Buna Laras segera beranjak dari tempat tidur kemudian membukakan pintu. Dan ternyata anaknya yang mengetuk pintu kamarnya untuk memberitahukan bahwa saat ini Radha sedang kesakitan.


Wisnu segera kembali ke kamarnya setelah memberitahu Bunanya. Dan di dalam kamarnya itu sudah ada Mama Anja dan juga dad Nara yang sedang berusaha menenangkan istrinya. Sedangkan Buna Laras segera membangunkan Ayah Seno. Kemudian mereka berdua langsung berlari menuju ke kamar anaknya.


Tepat pukul satu dini hari, Radha dilarikan ke rumah sakit.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ