
Radha nampak mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Perlahan kelopak matanya terbuka, namun ia malah semakin menyerukan kepalanya di bawah ketiak sang suami.
"Apa aku mengganggu tidur mu sayang?" Radha menggeleng. Wisnu sebenarnya sudah terbangun sejak tadi. Namun ia memilih diam saja dan tidak bergerak karena tubuhnya dipeluk erat oleh sang istri. Wisnu takut jika dirinya turun dari atas ranjang, istrinya itu akan ikut terbangun. Jadi ia memilih diam saja sambil mengusap kepala sang istri dan sesekali membenamkan kecupan di puncak kepala istrinya.
"Apa aku perlu menghubungi Daddy dan mama?"
"Jangan!" Radha langsung mengangkat kepalanya dari ketiak suaminya. "Nanti urusannya tambah panjang. Daddy pasti tidak akan melepaskannya." Lanjut Radha.
"Apa kamu masih mencintainya, sampai kamu mengkhawatirkannya?"
"Tidak! Bukan begitu maksud ku. Jangan salah paham dulu. Mana mungkin aku mencintai orang lain sedangkan aku memiliki suami yang sangat mencintai ku. Cup!" Radha mengecup bibir suaminya agar suaminya itu percaya dengan ucapannya.
Seringaian langsung terbit di bibir Wisnu. Ia bukannya tidak percaya dengan ucapan istrinya, ia malah sangat yakin 100% bahwa istrinya itu sudah move on dan sekarang sudah mencintainya. Terbukti dari sikap istrinya yang selalu ingin menempel kepadanya.
"Apa kamu tidak ingin membagi kabar bahagia ini kepada mereka?" Ya, sebenarnya tujuan Wisnu bukan untuk memberitahukan tentang Elmer. Melainkan untuk memberi kabar kepada mertuanya bahwa saat ini istrinya sedang mengandung.
Radha sejenak tertegun dengan ucapan suaminya. Ia sedikit malu karena sudah berprasangka buruk kepada suaminya itu. Padahal niat suaminya ingin menghubungi kedua orang tuanya adalah untuk memberi kabar tentang kehamilannya.
"Maaf!" Radha kembali menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.
"Maaf untuk apa?" Tanya Wisnu pura-pura tidak mengerti.
"Maaf karena aku pikir kamu ingin mengadukan kejadian tadi kepada Daddy." Radha berbicara tanpa berani mengangkat wajahnya.
Wisnu kembali mengusap kepala sang istri. "Terus sekarang bagaimana? Apa tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka?"
"Iya!" Radha langsung bangkit hingga membuat suaminya itu kaget.
"Sayang, pelan-pelan jangan seperti ini. Kamu bisa membuatnya terkejut."
"Iya maaf, aku lupa. Aku hanya ingin mencari ponsel ku."
"Pakai ponsel ku saja, ini!" Wisnu menyodorkan ponselnya kepada istrinya. Radha pun segera meraihnya dan langsung mencari kontak mamanya di dalam ponsel sang suami.
Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya panggilannya tersambung. Terdengar sapaan Mama Anja dari ujung telepon.
"Hallo Wis, ada apa?"
"Hallo ma, ini kakak!"
"Eh kak, kok pakai ponsel suami mu? Memangnya ponsel kakak ke mana sayang?"
"Ada di dalam tas ma."
"Owh, bagaimana kabarnya sayang?"
"Alhamdulillah baik ma. Kabar kalian bagaimana?"
"Alhamdulillah kami juga baik."
"Ibu juga baik. Kami semua sehat walafiat."
"Alhamdulillah!"
"Kapan kalian kesini? Ini udah sebulan loh, apa kalian tidak ingin mengunjungi kami?"
"Eem, bukan begitu ma, tadi sebenarnya Mas Wisnu sudah meminta cuti dan besok kami berencana akan terbang ke Jakarta. Namun-" Radha menjeda ucapannya.
"Kenapa sayang? Apa terjadi sesuatu? Katakan saja kak, jangan ada yang ditutupi."
Suara Mama Anja yang terdengar panik sampai juga di telinga Wisnu karena sejak tadi Radha menyalakan speaker atas kemauan suaminya. Wisnu langsung meraih ponsel yang ada di genggaman istrinya.
"Ma, ini Wisnu." Ucap Wisnu.
"Iya Wis, sebenarnya ada apa? Cepat katakan, jangan membuat Mama khawatir."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan ma, kami hanya ingin menyampaikan kabar bahagia kepada kalian."
"Kabar bahagia? Kabar apa itu?"
"Radha hamil ma, dan usia kandungannya baru memasuki tiga minggu. Jadi kami terpaksa menunda keberangkatan kami ke Jakarta hingga usia kehamilan Radha cukup untuk melakukan perjalanan jauh." Jelas Wisnu kepada Mama mertuanya.
"Alhamdulillah, mama senang dengarnya. Selamat ya nak, jaga baik-baik kandungannya. Nanti mama akan sampaikan kabar bahagia ini kepada Daddy. Nanti kalau Daddy ada waktu luang, kami yang akan berkunjung ke Surabaya."
"Iya ma, maaf sekali lagi karena belum bisa berkunjung ke Jakarta."
"Iya tidak papa nak."
Setelah berakhir panggilan mereka Wisnu langsung meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.
"Sekarang ayo kita mandi." Wisnu langsung mengangkat tubuh istrinya dan langsung membawanya masuk ke dalam kamar mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ