I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 160



Brankar yang membawa tubuh Radha di dorong masuk ke dalam ruang persalinan. Wisnu pun langsung ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Tertinggal mama Anja, dad Nara, Buna Laras dan ayah Seno di depan ruang persalinan.


Mama Anja, Buna Laras dan ayah Seno nampak duduk di kursi tunggu depan ruang persalinan. Sedangkan dad Nara malah mondar-mandir sendiri di depan ruangan itu. Deg-degan, khawatir, cemas, dan takut sudah pasti. Namun mereka masih bisa menyikapinya. Berbeda dengan dad Nara yang terlihat cemas berlebihan.


"Dad tenanglah, duduk sini." Mama Anja menepuk kursi kosong di sebelahnya meminta suaminya agar duduk di sampingnya. Meskipun berat akhirnya dad Nara pun mendudukkan tubuhnya di samping sang istri.


*****


"Mama, huhuhu... Sakit!" Tangis Radha tergugu merasakan sakit yang luar biasa saat akan melahirkan. "Daddy huhuhu... Sakit dad!"


"Sayang, sudah ya. Kamu hebat, kamu kuat, pasti kamu bisa." Wisnu berusaha menenangkan sekaligus menyemangati sang istri.


"Sabar ya Bu, sebentar lagi. Bukaannya baru sembilan, belum lengkap." Ucap sang dokter yang masih menyiapkan beberapa peralatan bersama dua orang perawat yang membantunya.


"Aku mau mama mas, aku mau Daddy!" Ya, sebenarnya Radha memang ingin melahirkan didampingi oleh kedua orang tuanya. Dan yang pasti juga didampingi oleh suaminya.


"Kan sudah ada aku disini sayang."


"Aku mau mama, huhuhu... Daddy! Mama!"


Wisnu hanya bisa meringis seraya menoleh ke arah sang dokter yang nampak menggelengkan kepalanya.


"Tenang ya Bu, kan sudah ada suami ibu di sini." Sang dokter berusaha menenangkan pasiennya.


"Mama! Daddy! Sakit!" Teriak Radha lagi.


"Huuuft, baiklah," Sang dokter akhirnya mengalah. "Sus, panggil kedua orang tua pasien."


"Baik dok!" Salah seorang perawat pun keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil mama Anja dan juga dad Nara.


Tak berselang lama, perawat sudah kembali bersama kedua orang tua Radha bersamaan dengan bukaan yang sudah lengkap. Mama Anja segera memposisikan dirinya berada di samping kiri sang anak bersama suaminya. Sedangkan Wisnu berada di samping kanan istrinya seraya menggenggam tangan istrinya erat. Mama Anja pun ikut menggenggam tangan anaknya erat. Sedangkan dad Nara yang mengelus kepala anaknya seraya membisikkan kata-kata penyemangat.


Satu jam kemudian terdengar suara tangisan bayi yang melengking memenuhi ruang persalinan tepat di hari ulang tahun papanya. Ucapan syukur langsung terlantun dari bibir mereka saat Radha berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik seperti ibunya.


Dua jam kemudian Radha dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Nampak Buna Laras sedang duduk di sofa memangku cucu perempuannya. Ada ayah Seno di sampingnya, dan juga dad Nara. Sedangkan mama Anja dan Wisnu duduk di samping kanan kiri Radha.


Mama Anja sedang menyuapi anaknya makan. Sedangkan Wisnu sejak tadi menggenggam seraya mengecupi tangan istrinya. Ia benar-benar merasa bersyukur karena istri dan anaknya itu lahir dengan selamat.


"Lihat yah, cucu kita mirip sekali dengan papanya." Ucap Buna Laras membuat Mama Anja menoleh. Karena menurutnya cucunya itu lebih mirip dengan mamanya.


"Perempuan pasti mirip mamanya." Sahut dad Nara yang dibenarkan oleh Mama Anja.


"Tapi cucu ku ini lebih mirip papanya. Lihat saja kalau nggak percaya." Kekeuh Buna Laras.


Mama Anja segera meletakkan piring bekas menyuapi anaknya, kemudian menghampiri besannya untuk memastikan sekali lagi rupa sang cucu.


"Loh kok bisa berubah?" Mama Anja terlihat kaget saat memperhatikan wajah cucunya. "Tadi pas lahir mirip mamanya kok. Ya kan dad?" Mama Anja mencari pembenaran kepada suaminya. Dan dad Nara pun mengangguk.


"Kata orang tua memang begitu, kalau masih bayi seperti ini bisa berubah-ubah." Ujar Buna Laras.


"Iya, aku tahu." Sahut mama Anja.


"Eh, ini cucu kita lahirnya tepat di hari ulang tahun papanya lho." Ujar Buna Laras yang membuat mereka semua terdiam seraya mengingat-ingat hari ulang tahun Wisnu. Dan benar saja mereka memang melupakan hari ini.


"Astaga! Aku sendiri aja lupa Bun." Wisnu menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya ia melupakan hari ulang tahunnya sendiri. Tapi tak apalah, itu tidak terlalu penting baginya. Yang terpenting istri dan anaknya selamat dan sehat.


"Sudah ada nama untuk anak mu Wis?" Tanya Buna Laras kepada anaknya.


Wisnu pun mengangguk. "RINJANI SETYAWAN." Wisnu memang sudah jauh-jauh hari menyiapkan nama untuk sang putri.


Radha menoleh ke arah suaminya. "Mas, kok aku nggak dikasih tau?" Protes Radha memanyunkan bibirnya membuat suaminya itu gemas dan ingin mengecupnya kalau saja mereka tidak sedang berada di rumah sakit.


"Maaf sayang, kita memang belum pernah membahas tentang nama untuk anak kita. Tapi sekilas aku menemukan nama itu dan sepertinya cocok untuk Putri kita."


"Ya sudah, cantik kok. Mirip mama, Rinjani dan Anjani hihi..."


"Terimakasih, cup!" Wisnu sudah tidak dapat menahan untuk tidak mencium istrinya. Akhirnya ia pun mengecup sekilas bibir sang istri. Para orang tua hanya pura-pura saja tidak melihat adegan itu.


"Letakkan Wijaya di belakang nama cucu ku." Pinta dad Nara yang sepertinya sebuah perintah.


"Baiklah dad!" Pasrah Wisnu yang tak mungkin membantah ucapan mertuanya.


"Nama papa juga." Sahut Radha tak ingin menghapus marga papanya.


"Baiklah," Lagi-lagi Wisnu hanya bisa pasrah karena ia juga tak mungkin menolak permintaan istrinya.


"RINJANI SETYAWAN ADITAMA WIJAYA!" Ucap Wisnu menyebutkan nama anaknya secara lengkap.


Semua orang nampak berbahagia menyambut kelahiran bayi mungil yang wajahnya menyerupai wajah papanya itu.


...*****...


...*****...


...~END~...


...*****...


...*****...


...*****...


Alhamdulillah akhirnya emak bisa menyelesaikan novel ini hingga tamat. Terimakasih atas dukungannya selama ini πŸ™


Kita ketemu di cerita Seruni ya, papayo πŸ™‹


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ