
Ruang makan kediaman Wijaya siang ini nampak ramai. Nara, Anja, Laras, Bu Mayang dan Seno serta anak-anak sudah berkumpul di ruang makan untuk makan siang bersama. Jangan lupakan Mama Rosi yang baru saja tiba di rumah dan langsung ikut makan siang bersama mereka.
"Mama sama Rendra tadi habis dari mana?" Tanya Nara di sela makannya.
"Mas, makan dulu! Ngobrolnya nanti!" Protes Anja yang membuat sang suami langsung kicep dan fokus pada makanan yang ada di piringnya, membuat semua orang menahan senyumnya.
Setelah semua orang selesai makan siang, mereka semua pindah ke ruang tengah yang lebih luas untuk mengobrol.
"Mama tadi habis jengukin Shasa di rumah sakit." Ucap Mama Rosi setelah mendaratkan tubuhnya ke atas sofa.
"Apa mbak Shasa dan bayinya baik-baik saja ma?" Anja nampak khawatir karena setahu Anja, usia kandungan Shasa baru tujuh bulan lebih.
"Ya, Alhamdulillah, mereka berdua baik-baik saja. Mungkin karena kemarin sempat terkejut dan syok dengan kematian Radit." Mama Rosi akhirnya menceritakan apa yang tadi sempat diceritakan oleh Mama Dona dan juga Dokter Andrew kepadanya. Semua orang tampak manggut-manggut mendengar cerita Mama Rosi. Setelah itu Mama Rosi pamit untuk beristirahat ke kamarnya.
"Kalian semua istirahatlah, nanti sore kita sama-sama menjenguk Mbak Shasa ke rumah sakit." Ucap Anja mempersilahkan tamunya untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum nanti sore mereka pergi ke rumah sakit. Mereka semua menurut dan langsung masuk ke dalam kamar tamu.
*****
"Mas!"
"Heemm!" Balas Nara menyahut panggilan istrinya. Saat ini keduanya sudah berada di kamar mereka untuk istirahat siang.
"Apa nanti Mbak Shasa nggak bakalan shock lagi kalau ketemu sama Laras?"
"Memangnya kenapa? Auuuw!" Jerit Nara saat merasakan cubitan di perutnya.
"Kebiasaan kalau diajak ngobrol nggak pernah nyambung!" Protes Anja bersungut-sungut.
"Ya kita lihat saja nanti sayang." Nara langsung menyerang bibir istrinya agar tak banyak bertanya lagi. Mending ia berolah raga siang ini daripada ghibahin orang yang nggak penting. Bagi Nara berpacu dalam keringat jauh lebih penting daripada harus membahas sesuatu yang belum pasti.
Anja yang mendapat serangan dadakan dari suaminya awalnya gelagapan. Namun tak lama kemudian ia sudah bisa mengimbangi suaminya. Anja pun membalas pagutan suaminya membuat Nara semakin bersemangat dan terbakar 9@1r@hny@.
"Aaaaaaaahh!" D3$@h keduanya saat mereka berdua menyatu dengan sempurna. Sejenak Nara terdiam menikmati penyatuannya sebelum kemudian Nara mulai menggerakkan pinggulnya naik turun perlahan.
Nara semakin mempercepat gerakannya hingga setengah jam kemudian mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan. Tubuh Nara langsung ambruk di atas tubuh istrinya tanpa melepaskan penyatuannya.
"Mas, berat tau!" Anja berusaha mendorong tubuh suaminya namun tak berhasil.
"Sebentar sayang, ini masih nikmat. Sekali lagi ya?" Tanpa menunggu jawaban sang istri, Nara kembali m31um@t bibir istrinya kemudian berpacu lagi hingga satu jam kemudian mereka berdua baru tertidur karena merasa kelelahan.
*****
Sore harinya sekitar pukul empat sore, Anja, Nara, Laras, Bu Mayang dan Seno serta baby Camelia dan Radha pergi ke rumah sakit dengan mengendarai dua mobil, karena tidak cukup jika hanya menggunakan satu mobil. Sedangkan baby Oka dan baby Rendra sengaja ditinggal di rumah bersama mama Rosi dan juga Mbak Tini yang akan menjaga mereka berdua.
*****
*****
*****
*****
*****
Lanjut di novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 101 π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ