
"Apa kabar sayang?" Perlahan laki-laki itu membuka kacamata hitamnya serta masker yang digunakannya.
Deg!
Saking terkejutnya hampir saja tubuh Radha limbung. Beruntung ia langsung mundur ke belakang hingga tubuhnya bisa bersandar pada dinding lift.
"Hey, jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu Ra." Perlahan Elmer mendekat ke arah Radha. Ya, laki-laki itu adalah Elmer yang selama seminggu ini mengawasi gerak-gerik yang dilakukan oleh gadis yang masih dianggapnya sebagai kekasihnya itu.
Selama ini Elmer membayar seseorang untuk memantau kediaman Wijaya. Dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati laporan dari orang suruhannya itu bahwa kekasihnya pergi ke Surabaya. Elmer pun langsung menyusul terbang ke Surabaya seminggu yang lalu. Dan yang paling mengejutkan adalah, Elmer menginap di salah satu kamar hotel itu tanpa sepengetahuan Radha.
"Ma-mau apa kamu? Ke-kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?" Radha nampak awas.
"Tenanglah, percaya sama aku, aku tidak akan menyakiti mu. Maaf, waktu itu aku khilaf." Elmer meraih tangan Radha namun segera ditepis oleh sang empunya.
"Jangan menyentuh ku b@jin9@n!"
"Kamu makin galak saja baby." Seringaian terbit di bibir Elmer.
"Jangan mendekat, atau aku akan teriak!" Teriak Radha seraya menghindari Elmer yang semakin mendekat.
"Teriak lah, di sini hanya ada kita berdua."
Radha memencet berkali-kali tombol lantai dasar, namun rasanya lift yang ditumpanginya serasa lambat.
"Ya Tuhan, ini lift macet atau gimana sih, lelet banget!" Gerutu Radha dalam hati.
"Ayo kita bicara baik-baik sayang."
"Jangan mendekat!" Radha semakin ketakutan melihat wajah Elmer yang tersenyum smirk.
Saat Elmer ingin meraih tangan Radha kembali, tiba-tiba saja......
Ting!
Pintu lift perlahan terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai dasar. Tanpa ba bi bu Radha langsung mengambil langkah seribu keluar dari lift tersebut, kemudian berlari keluar menuju ke lobby. Radha tidak peduli bahwa saat ini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Yang penting ia sudah berada di antara banyak orang. Elmer pasti tidak akan berani macam-macam di tempat ramai.
Radha segera mencari ponselnya yang ada di dalam tas untuk menghubungi sopirnya.
Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh pak selamet sopir pribadinya itu tiba di depan lobby. Radha langsung masuk ke dalam mobil tersebut setelah terlebih dahulu mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Sekitar satu jam kemudian, mereka tiba di kediaman Laras alias rumah makan Bu Mayang yang sampai saat ini tidak berganti nama. Setelah menurunkan majikannya tepat di depan rumah makan dengan selamat, Pak Selamet segera meninggalkan pelataran Rumah makan tersebut menuju ke rumah almarhum Zian yang saat ini di tempati olehnya.
Sekali lagi Radha mengedarkan pandangannya sebelum ia masuk ke dalam rumah makan.
Pluk!
Satu tepukan di bahunya membuatnya menjerit karena terkejut.
"Aaaaaa!"
"Hey, kakak, ini aku Wisnu."
"Iiiiihh, kamu bikin kakak kaget saja."
"Kakak kenapa mukanya pucat begitu? Kakak sakit?" Wisnu menempelkan punggung tangannya ke dahi Radha.
"Apa sih Wis." Radha segera menepis tangan Wisnu yang menempel di dahinya.
"Gak panas kak, normal."
"Sudah, kakak nggak papa, ayo masuk!" Radha langsung menggamit lengan Wisnu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah makan. Wisnu pun hanya bisa pasrah saat diseret oleh kakaknya. Padahal sebenarnya tadi ia mau keluar karena ada janji dengan teman-temannya untuk nongkrong di cafe. Tapi karena melihat wajah kakaknya yang nampak pucat, ia menjadi sedikit khawatir meskipun badan kakaknya itu tidak demam.
Ya sudahlah, masih banyak waktu buat nongkrong bersama teman-teman. Biarlah saat ini waktunya ia berikan kepada Radha yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ