
"Kakak udah tidur mas?" Tanya Anja pada sang suami saat Nara baru saja masuk ke dalam kamar. Saat ini Anja sedang menyusui baby Rendra yang nampak sudah terlelap di atas tempat tidur.
"Sudah!" Nara melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di pinggirnya. Ya, semenjak baby Rendra lahir, Nara lah yang setiap malam menemani Radha tidur hingga terlelap. Dulu sebelum Rendra lahir, biasanya Anja lah yang menemani tidur jika sang Daddy lembur.
"Eh, mau di bawa kemana?" Anja tersentak saat melihat suaminya itu mengangkat baby Rendra yang baru saja lepas dari susunya.
"Sssssttt! Jangan keras-keras, nanti boy bangun." Nara melangkah menuju box bayi dan meletakkan anaknya disana. Seketika itu Anja susah payah menelan ludahnya. Alarm tanda bahaya sudah berbunyi nyaring.
Setelah meletakkan sang anak ke dalam box bayi, Nara segera kembali menghampiri istrinya yang terlihat beringsut turun dari ranjang.
"Mau kemana?" Nara mencekal pergelangan tangan istrinya yang sepertinya sudah membaca gerak-geriknya.
"Ma-mau ke kamar mandi sebentar." Jawab Anja terbata.
"Perlu aku temani?" Nara mengerling nakal ke arah istrinya.
"Hah!" Anja melebarkan matanya. "Iih, apa sih mas!" Anja menepis tangan suaminya kemudian segera melesat masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaghfirullah!" Anja terlonjak kaget saat membuka pintu kamar mandi, suaminya sudah berdiri tegak di depan pintu. "Aaaaaa!" Tanpa ba-bi-bu Nara langsung menggendong tubuh sang istri hingga membuat Anja memekik.
"Ssssssttt! Jangan keras-keras!"
"Iiihh, aku kan kaget!" Anja mendelik seraya memukul pelan dada suaminya. Nara segera melangkah menuju ranjang kemudian membaringkan istrinya.
"Mas mau apa!" Anja beringsut mundur dengan mata yang semakin melebar. Nara langsung mencekal pergelangan kaki sang istri.
"Ssssttt! Bukankah ini sudah dua bulan?" Nara naik ke atas tempat tidur masih dengan menggenggam kaki sang istri. Anja sekali lagi menelan salivanya.
"Bukannya sudah boleh?" Nara menatap sayu ke arah istrinya.
"Tap-tapi aku masih takut. Gimana nanti kalau masih sakit?"
"Aku akan pelan-pelan sayang, boleh ya? Aku udah gak tahan ini."
"Aku bantu pake yang lain aja ya mas?" Nego Anja, namun suaminya itu menggeleng. "Apa gak bisa besok-besok aja mas? Aku belum KB." Bujuk Anja.
"Nanti aku keluarin di luar, boleh ya?"
"Ap-apa mas gak punya sarung?"
"Kamu kan tau sendiri aku gak pernah pake gituan. Mana enak pake gituan. Janji deh, nanti bakal aku keluarin di luar. Ayo, nanti boy keburu bangun sayang." Nara langsung menindih tubuh istrinya.
"Tu-tunggu!" Anja menahan dada suaminya saat suaminya itu hendak melancarkan aksinya. "Janji keluar di luar ya?"
"Iya, aku janji sayang." Nara langsung m31um@t bibir sang istri seperti seekor singa yang kelaparan.
Eeekk.. eeekk......
Terdengar suara rengekan baby Rendra dari arah box bayi hingga menghentikan gerakan mereka.
"Mas! Berhenti dulu." Bisik Anja.
"Ssssssttt! Dia tidur lagi." Nara kembali bergerak pelan-pelan. Saat suara rengekan anaknya sudah tidak terdengar lagi.
Tak berselang lama kembali terdengar rengekan baby Rendra dari box bayi.
Eeekk.. eeekk.....
"Mas!" Berhenti dulu, dedek kebangun!" Anja melotot ke arah suaminya.
"Aku hampir sampai sayang, aku percepat ya biar cepet keluar." Nara semakin mempercepat gerakannya hingga membuat Anja tak kuasa menahannya. Sepertinya ia juga akan segera keluar.
"Mas, sssstttt!" Anja mendesis mencengkeram bahu suaminya, membuat 9@1r@h Nara semakin memuncak.
Eeekk.. eeekk.......
"Mas cepetan! Aaaahh!"
"Iya ini aku udah mau keluar sayang." Nara langsung m31um@t bibir sang istri dan semakin menambah tempo kecepatannya. Dan sedetik kemudian mereka mengejan bersama.
Oweeeeeekk........
"Aaaaaaarrrgh!" D3$@h keduanya saat mencapai puncak kenikmatan bersamaan dengan tangisan anaknya hingga membuat Nara lupa mengeluarkannya di luar. Bukannya lupa, tapi lebih tepatnya sengaja. Karena sepertinya sang istri lupa untuk memperingatkannya. Anja langsung mendorong tubuh suaminya kemudian beranjak turun dari ranjang dan segera memakai dasternya. Setelah itu ia langsung mengangkat anaknya dari dalam box dan di bawanya ke ranjang untuk di susuinya. Nara yang masih terlentang di atas ranjang dengan tubuh polosnya dan juga nafas yang masih memburu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum kemenangannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Mas Nara jan, bikin emak cekikikan ππ Emak-emak yang baca part ini pasti cekikikan sendiri π€ Boleh bagi pengalamannya Mak? π
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ