
"Selamat pak, Bu, Bu Anja saat ini sedang mengandung, dan usianya sudah empat Minggu." Ujar dokter Lusi.
Deg!
Ucapan dokter Lusi barusan membuat Anja terkejut dan langsung meneteskan air mata. Sedangkan Nara, meskipun ia juga sedikit terkejut, tapi dalam hati ia tetap bersorak. Nara menggenggam erat tangan istrinya.
"Tap-tapi bagaimana mungkin dok? Sa-saya selama ini minum pil KB, dan anak saya baru berusia tiga bulan."
"Sejak kapan Bu Anja menkonsumsi pil KB?"
"Sejak sebulan yang lalu." Jawab Anja lirih.
"Apa sebelum Bu Anja mengkonsumsi pil KB, Bu Anja sudah pernah berhubungan dengan Pak Nara?"
"Iya dok!" Kali ini Nara yang menjawabnya karena sepertinya sang istri tidak mampu menjawabnya. "Malam harinya kami berhubungan dan saya lupa untuk mengeluarkannya di luar." Ucap Nara seraya meringis dan garuk-garuk kepala karena sungkan berbicara hal setabu itu kepada orang lain, apalagi itu dokter perempuan. "Setelah itu paginya saya baru menemui dokter Andrew untuk meminta pil KB." Lanjut Nara. Dokter Lusi terlihat manggut-manggut.
"Mungkin saja malam itu langsung terjadi pembuahan pak." Jelas dokter Lusi.
"Ya, dokter Andrew juga sudah menjelaskannya kepada saya waktu itu." Nara membenarkan ucapan dokter Lusi.
"Ya sudah, toh semua sudah terjadi. Jadi gak perlu disesali Bu, pak. Anak adalah rezeki, banyak anak banyak rezeki. Di luaran sana banyak pasangan yang menginginkan anak dan sudah melakukan berbagai macam cara, namun Tuhan masih belum menghendaki." Anja dan Nara menganggukkan kepala.
"Apa saya masih boleh menyusui dok?" Tanya Anja mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi dipendamnya.
"Sebenarnya boleh saja Bu, tapi saran saya lebih baik stop. Takutnya terjadi malnutrisi pada janin yang ada di dalam kandungan Bu Anja. Untuk anak ibu bisa diganti dengan susu formula saja." Jelas dokter Lusi. Anja dan Nara kembali mengangguk.
Nara dan Anja segera meninggalkan ruang praktek dokter Lusi setelah mendapatkan resep obat dari dokter Lusi.
Saat keluar dari ruangan tersebut, Nara dan Anja langsung disambut oleh Mama Rosi dan juga Papa Hadi. Ya, Mama Rosi dan juga Papa Hadi tadi langsung menyusul ke rumah sakit saat Anja dibawa ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Mama Rosi langsung bertanya kepada resepsionis tentang pasien yang bernama Anjani Pramesti. Dan resepsionis langsung memberitahukan bahwa pasien atas nama Anjani Pramesti saat ini sedang berada di ruang UGD. Mama Rosi dan Papa Hadi langsung melesat menuju ruang UGD. Namun sesampainya di sana, mereka tidak menemukan menantunya. Mama Rosi pun bertanya kembali kepada seorang perawat yang ada di ruangan UGD, dan perawat tersebut mengatakan kalau pasien atas nama Anjani Pramesti saat ini sedang berada di ruang praktek dokter Lusi. Mama Rosi dan Papa Hadi langsung berlari menuju ke ruang praktek dokter Lusi dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam kepala mereka masing-masing. Pasalnya, setahu mereka dokter Lusi adalah dokter kandungan yang dulu menangani Anja saat hamil dan melahirkan. "Apa mungkin menantunya itu hamil lagi?" Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran Mama Rosi dan juga Papa Hadi saat ini.
"Apa yang terjadi Ra? Anja sayang, kamu nggak papa kan Nak?" Mama Rossi langsung menangkup wajah menantunya dengan kedua tangannya serta memindai tubuh sang menantu dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
"Bayi?" Beo mama Rosi dan Papa Hadi bersamaan.
"Iya bayi!" Jawab Nara mengulang lagi ucapannya. "Saat ini Anja sedang mengandung anak kami. Kata dokter Lusi usianya baru empat Minggu."
"Astaga Nara!" Geram mama Rosi melotot tajam ke arah anaknya.
Plaakk!!!
"Aduh! Mama!" Protes Nara mengaduh saat bahunya terasa panas karena mendapat geplakan dari sang mama.
"Kenapa bisa kebobolan? Usia Rendra baru tiga bulan?" Mama Rosi ingin sekali memukul kepala anaknya itu agar otaknya sedikit encer. Namun Papa Hadi segera menahan tangan istrinya yang sudah mengayun ke arah anaknya.
"Ma sudah, ini di rumah sakit. Lihat kita jadi tontonan." Papa Hadi mencoba menenangkan sang istri. "Lebih baik sekarang kita pulang biar Anja bisa istirahat di rumah." Putus Papa Hadi yang langsung diangguki oleh Nara.
"Sayang, kamu ikut mama sama papa pulang dulu ya, biar aku yang nebus obatnya. Nanti takutnya kelamaan, kamu kecapean dan juga nanti Boy dan baby nyariin kamu." Anja mengangguk. "Papa bawa saja pak Mun, nanti Nara pulang sendiri." Papa Hadi pun mengangguk. Mama Rosi segera menggandeng tangan menantunya menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat parkir.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ