I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 108



Pukul delapan malam Radha dan Wisnu tiba di rumah dan langsung disambut dengan pelototan tajam dari ayah Seno yang mengarah ke Wisnu.


"Sayang, kamu dari mana saja?" Buna Laras melangkah menghampiri Radha yang mematung di dekat pintu karena melihat pelototan tajam ayah Seno. Padahal pelototan itu tidak ditujukan kepadanya, tapi ia merasa bersalah karena sudah membuat semua orang khawatir.


"Ma-maaf Buna!" Radha menundukkan kepalanya takut-takut.


"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi lagi." Buna Laras membelai lembut kepala Radha. Radha pung mengangguk. "Sekarang masuklah ke kamar." Radha kembali mengangguk. Namun sebelum ia melangkahkan kakinya menuju kamar, Radha menatap Wisnu sekilas yang langsung di balas Wisnu dengan seulas senyum. Setelah itu ia segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


"Darimana saja kalian?" Cecar ayah Seno setelah kepergian Radha.


"Makan yah, gak kemana-mana." Jawab Wisnu seraya menunduk. Bukannya takut, tapi itulah caranya menghargai orang tua yang sedang marah.


"Kenapa di telpon dari tadi nggak bisa?"


"Hah, perasaan gak ada telpon masuk?" Wisnu merogoh ponselnya dalam saku celananya yang ternyata ponselnya itu mati karena kehabisan baterai.


"Pantas saja! Dimana kamu menemukan kakak mu?"


"Makam papa yah!"


"Oh ya ampuuuuun... kenapa ayah tidak kepikiran sampai sana?" Ayah Seno menepuk jidatnya sendiri. "Ya sudah, sana masuk kamar!" Wisnu pun tanpa bantahan langsung melesat masuk ke dalam kamarnya.


"Ya sudah, Buna mau ke depan dulu yah." Buna Laras mengelus lembut bahu suaminya.


"Iya Bun!"


*****


Setiap hari waktunya dihabiskan di rumah makan dan Radha hanya datang ke hotel sesekali sesuai dengan keinginannya. Radha pun sudah mulai bisa mengalihkan pikirannya dari Elmer. Bukan melupakan, hanya saja Radha tidak mau memikirkan sesuatu yang baginya belum pasti. Toh jika nanti Elmer beneran serius dengannya, Elmer pasti akan datang kepadanya. Biarlah dia menjalani semua itu seperti air mengalir saja.


Benar kata Wisnu waktu itu, saat mereka dalam perjalanan pulang setelah makan sate. Wisnu menghentikan motornya di pinggir jalan untuk melepas jaket yang dikenakannya, kemudian memakaikan jaket tersebut ke tubuhnya yang waktu itu menggigil kedinginan karena angin malam.


"Kakak jangan terlalu memikirkan laki-laki itu. Jika memang laki-laki itu serius dengan kakak, pasti dia akan datang untuk meminta kakak dari kedua orang tua kakak. Sekarang jalani saja seperti air mengalir. Berpikir positif saja, maka hal-hal positif yang akan kembali kepada kita. Jangan menyakiti diri sendiri dengan beban pikiran yang berat."


Betapa bijaknya bocah remaja itu saat menasehatinya. Padahal dia sendiri belum pernah ngerasain yang namanya pacaran. Dapat kalimat itu darimana coba? Perhatian dan perlakuan manis yang tidak pernah ia dapatkan dari kedua adiknya. Rendra yang kalem, ramah dan santun, yang selalu menghormati orang yang lebih tua darinya. Meskipun perhatian, tapi ia tak sedekat itu dengan adiknya yang satu itu.


Oka yang cuek semaunya sendiri. Meskipun adiknya itu sangat menyayanginya, namun ia tidak pernah berbagi keluh kesah dengan sang adik. Entah mengapa ia merasa nyaman dengan Wisnu, Padahal di antara mereka tidak memiliki ikatan darah yang membuat keduanya terhubung.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ