
"Oh ya ampun mas!" Anja tiba-tiba saja memekik tertahan membuat Nara seketika terduduk karena kaget.
"Ada apa hem?" Nara beranjak memunguti bajunya kemudian segera memakainya. Saat ia mendekati sang istri, mata sang istri sudah mendelik dengan tajam ke arahnya.
"Kenapa di keluarin di dalam tadi? Astagaaa!!!" Anja ingin buru-buru ke kamar mandi namun tidak bisa karena baby Rendra sedang berada di pangkuannya dan sedang menyusu dengan kuatnya.
"Ya maaf sayang, kamu kan yang nyuruh aku cepat sampe aku lupa." Kilah Nara mencari pembenaran. "Kamu tadi juga gak ngingetin aku lagi." Protes Nara pura-pura agar istrinya itu tak marah kepadanya.
"Ini terus bagaimana? Aku mau ke kamar mandi tapi Rendra masih nyusu." Anja mencebikkan bibirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Hatinya mulai dipenuhi dengan kegelisahan. Bukan apa, ia hanya takut saja hamil karena dia belum memakai alat kontrasepsi dan juga baby Rendra masih terlalu kecil.
"Ssssstttt!" Nara jadi merasa bersalah dan tak tega melihat raut wajah istrinya yang nampak sedih. "Tenang ya, cuma sekali gak mungkin hamil." Nara mengusap bahu sang istri mencoba untuk menenangkannya. "Besok aku mintakan pil KB ke dokter Lusi." Nara merengkuh kepala istrinya ke dalam pelukannya.
Setelah dirasa baby Rendra sudah kembali terlelap, Anja pun segera merebahkan anaknya ke atas ranjang kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Nara hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Jika istrinya itu sudah dalam mode diam berarti sang istri sudah sangat kecewa dengannya.
"Hadeeehh, gimana kalau beneran hamil lagi? Apa dia nggak semakin marah sama aku? Bisa-bisa nanti aku puasa berbulan-bulan. Apa aku urungkan saja niat ku untuk menghamilinya lagi? Kan aku jadi gak tega lihat dia bersedih. Tapi aku takut nanti dia pergi meninggalkan ku. Kalau ada banyak anak kan dia bakal mikir seribu kali buat ninggalin aku." Batin Nara dilema.
"Sayang," Nara langsung menyongsong istrinya dengan pelukan saat sang istri baru saja keluar dari kamar mandi. "Maaf ya, aku janji, besok pagi aku akan ke rumah sakit untuk minta pil KB sama dokter Lusi." Dada Nara terasa hangat oleh tetesan air mata istrinya.
"Bukannya aku nggak mau hamil lagi Mas, tapi baby Rendra masih terlalu kecil. Dia baru berumur dua bulan, hiks.. hiks.."
"Sssssttt! Iya aku ngerti sayang, udah ya, kita tidur sekarang." Nara menuntun istrinya menuju ke ranjang, kemudian mereka berdua berbaring di sebelah kanan dan kiri baby Rendra.
*****
Sesuai janji Nara semalam, pagi ini seusai sarapan, Nara benar-benar pergi ke rumah sakit dengan diantar oleh Bima sang asisten. Namun Nara menyuruh Bima untuk menunggunya di dalam mobil. Nara berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari ruangan dokter Andrew. Ya, Nara memutuskan untuk menemui dokter Andrew saja agar ia lebih leluasa untuk berkonsultasi karena dokter Andrew juga seorang dokter kandungan dan mereka sesama laki-laki dan sudah menikah.
"Sus, apa dokter Andrew sudah datang?" Tanya Nara kepada seorang perawat saat tiba di depan ruang praktek dokter Andrew. Nampak sudah banyak antrian yang tak lain adalah para ibu-ibu berperut buncit.
"Sudah pak, baru saja masuk ke dalam." Jawab perawat tersebut ramah.
"Baik pak!" Perawat tersebut langsung masuk ke dalam ruang praktek dokter Andrew.
Tak berselang lama dokter Andrew pun keluar dari dalam ruang prakteknya.
"Ada apa?" Tanya dokter Andrew ramah meskipun dalam hati sedikit gondok karena kejadian dua bulan yang lalu. Tepatnya saat Anja, istri Nara mau melahirkan.
"Boleh bicara sebentar?" Ucap Nara datar. Dokter Andrew mengernyit, tapi tak urung ia tetap mengangguk.
"Mari kita ke ruangan ku saja." Dokter Andrew langsung berjalan menuju ke ruang pribadinya diikuti oleh Nara di belakangnya.
*****
*****
*****
*****
*****
Maaf kemarin libur update karena emak lagi sibuk di dunia nyata π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ