
"El, apa yang kamu lakukan? Buka pintunya!" Sentak Radha ketakutan.
"Kita harus bicara, duduklah!" Perintah Elmer tegas, namun Radha tak mengindahkannya.
"Buka pintunya aku bilang! Aku mau pulang!" Teriak Radha lagi hingga membuat kesabaran Elmer hilang. Elmer langsung menarik tangan kekasihnya itu kemudian mendudukkannya ke atas sofa ruang tamu.
"Bukannya tadi kamu sudah mendengar semuanya? Apa masih kurang jelas apa yang aku katakan tadi? Aku sayang sama kamu Radha, aku sayang!" Elmer meninggikan suaranya di akhir ucapannya hingga membuat Radha semakin ketakutan. Radha pun semakin tergugu dalam tangisnya.
"Aku gak peduli! Aku mau pulang!" Radha memberontak. Ia mencoba menarik tangannya dalam genggaman sang kekasih. "Aaaahh!" Radha tersentak saat tubuhnya di dorong oleh Elmer hingga ia jatuh terlentang di atas sofa.
*****
"Loh dad, kok pulang? Apa ada yang ketinggalan?" Mama Anja menghampiri dad Nara saat melihat suaminya itu memasuki rumah.
"Hem, ada berkas yang ketinggalan di ruang kerja." Dad Nara langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengambil sebuah map yang semalam ia letakkan di atas meja.
"Kok sepi? Pada kemana? Baby?" Tanya dad Nara saat keluar dari ruang kerjanya.
"Eeemm, kakak ada di kamar!" Jawab mama Anja cepat.
"Ada apa ma?"
"Duh, gimana ini kalau sampai Mas Nara ke atas terus lihat kakak lagi pegang ponselnya? Bisa-bisa nanti dia marah sama aku." Batin mama Anja.
"Ma!"
"Eh, iya dad!" Mama Anja tersentak kaget dan sadar dari lamunannya.
"Apa semua baik-baik saja?"
"I-iya, memangnya ada apa dad?"
"Ya sudah, Daddy lihat baby sebentar!" Nara langsung menginjakkan kakinya pada undakan tangga pertama.
"Eh," Mama Anja reflek meraih tangan suaminya, membuat dad Nara seketika menghentikan langkahnya dan kebingungan melihat sikap istrinya yang tak seperti biasa.
"Ada apa?"
"Eemm, bukannya tadi daddy hanya ingin mengambil berkas? Takutnya sudah ditunggu di kantor." Mama aja mencoba mengalihkan perhatian suaminya.
"Tenang saja, aman!" Dad Nara kembali melangkah menaiki tangga satu persatu setelah memberikan senyuman terbaiknya kepada sang istri.
"Ya Allah Gusti, bagaimana ini?" Mama Anja nampak mondar-mandir di bawah tangga.
Tok.. tok.. tok..
Tok.. tok.. tok..
"Baby ada di dalam kah?" Hening! Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Karena khawatir, Dad Nara langsung mendorong pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Kosong! Kemana perginya anaknya itu?
"Ma! Mama!" Teriak dad Nara seraya keluar dari kamar anaknya.
Mendengar teriakan suaminya yang menggema di seantero rumah, mama Anja yang sejak tadi masih mondar-mandir di bawah tangga langsung mendongakkan kepalanya ke atas dan mendapati suaminya itu sudah turun kembali.
"Dad!" Mama Anja nampak ketakutan melihat raut wajah suaminya yang tegang.
"Baby dimana?"
"Hah, bukannya kakak ada di dalam kamar?"
"Kamar kosong!"
"Kok bisa? Setahu mama kakak belum turun."
"Katakan! Apa yang sudah mama lakukan?" Dad Nara menatap tajam istrinya hingga membuat mama Anja semakin ketakutan.
"Tad-tadi kakak minta dikembalikan ponselnya." Ucap mama Anja seraya menundukkan kepalanya.
"Dan mama memberikannya?" Sahut dad Nara.
"I-iya!"
"Aaaaaaarrrgh!" Teriak dad Nara frustasi. "Ini yang Daddy takutkan!" Dad Nara langsung melacak keberadaan anaknya melalui GPS anaknya yang sudah dinyalakannya saat ia menyita ponsel sang anak. Dan bertambah keruh lah raut wajah dad Nara saat melihat titik keberadaan anaknya menunjukkan di rumah almarhum pak Handoko.
"Br3n9$3k!" Dad Nara langsung berlari keluar dari rumah menuju mobilnya saat menyadari sesuatu. Mama Anja pun segera mengikuti suaminya itu. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil dan melesatlah mobil tersebut meninggalkan kediaman Wijaya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ