
Radha perlahan mendorong tubuh kekar itu hingga ia terbebas dari pelukan Elmer.
"I-ini tidak mimpi kan?" Perlahan tangan Radha terulur menyentuh pipi Elmer.
"Tidak baby, ini aku. Tampar saja kalau tidak percaya."
Dan benar saja, di detik berikutnya suara tamparan keras mendarat di pipi Elmer.
Plaakk!!
Elmer nampak meringis merasakan panas di pipinya. Radha pun akhirnya tersadar bahwa orang yang ada di depannya itu adalah nyata bukan mimpi. Radha perlahan memperhatikan telapak tangannya yang tadi digunakan untuk menampar Elmer nampak memerah. Sama halnya seperti pipi Elmer yang nampak memerah.
Entah itu tadi tamparan untuk menyadarkan dirinya atau tamparan untuk meluapkan kekesalannya selama ini kepada laki-laki tersebut. Elmer pun tidak protes, ia malah menyunggingkan senyumnya.
"Apakah tamparan tadi adalah wujud kekesalan mu kepada ku Baby?" Elmer mengulurkan tangannya untuk membelai pipi sang kekasih. "Maaf!"
"Maaf?" Beo Radha.
"Iya, maaf untuk empat tahun ini karena sudah mengabaikan mu."
"Semudah itu?"
"Maaf!" Ucap Elmer sekali lagi.
"Kamu br3n9$3k El, kamu br3n9$3k!" Radha tidak mampu lagi membendung air matanya, ia memukuli dada Elmer bertubi-tubi untuk meluapkan kekesalannya dan segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Ssssttt! Maafkan aku!" Elmer langsung menarik kembali tubuh Radha ke dalam dekapannya. "Maaf!" Hanya kata maaf yang mampu terucap dari bibirnya. Ia belum berani menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepada kekasihnya itu.
"Kamu ke mana saja? Hiks.. hiks.." Radha menumpahkan tangisannya di dada bidang kekasihnya. "Empat tahun El, empat tahun aku menunggu mu tanpa kabar sama sekali dari mu. Apa tidak bisa sekali saja kamu mengabari ku? Hanya untuk mengatakan bahwa kamu baik-baik saja, agar aku tidak mengkhawatirkan mu."
"Iya maaf!" Elmer semakin mengeratkan pelukannya, namun Radha memberontak hingga pelukan Elmer terlepas.
Radha memperhatikan wajah Elmer yang masih sama seperti empat tahun yang lalu, hanya saja laki-laki yang ada di hadapannya ini semakin terlihat matang. Eh tunggu, ada bekas luka di kening Elmer sebelah kanan. Radha pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh bekas luka tersebut.
"Ini kenapa? Kenapa ada bekas luka di kening mu El?"
Elmer meraih tangan kekasihnya itu kemudian mengecupnya. "Itu bekas kecelakaan." Ujar Elmer.
Deg!
"Ke-kecelakaan?" Beo Radha yang suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
"It's ok, aku tidak papa. Hanya waktu itu aku amnesia, makanya aku baru datang sekarang untuk menemui mu." Jelas Elmer.
"Amnesia?"
"Ya!"
"Ap-apa sekarang sudah sembuh?"
"Kalau belum sembuh nggak mungkin kan aku menemui kekasih ku sekarang ini." Elmer mengedipkan sebelah matanya ke arah kekasihnya itu dan langsung mendapat pukulan keras di bahunya.
"Aw!" Elmer pura-pura kesakitan agar mendapatkan simpati dari sang kekasih.
"Nggak usah lebay deh!" Radha mencebikkan bibirnya membuat Elmer gemes dan kembali memeluk kekasihnya itu.
Berbeda dengan sepasang kekasih yang saling meluapkan rasa rindunya. Wisnu yang sejak tadi menyaksikan keduanya hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam untuk memenuhi kebutuhan oksigennya yang sepertinya mulai menipis.
"Apa kamu sekarang bahagia Kak? Apa setelah ini kakak tidak membutuhkan ku lagi?" Wisnu melangkah gontai menuruni anak tangga. Lebih baik sekarang ia pulang. Toh kakaknya itu sudah bersama dengan orang yang selama ini dirindukannya. Apalah arti keberadaannya di sana. Dengan perasaan yang berkecamuk Wisnu melesatkan motornya meninggalkan parkiran hotel Prasasti.
*****
"Kamu kapan kembali?" Tanya Radha. Saat ini mereka masih berdiri di ujung rooftop dengan posisi Elmer mendekap erat Radha dari belakang, di bawah gelapnya langit malam yang nampak tertutup oleh kabut. Hanya kerlap-kerlip indah lampu jalanan kota Surabaya lah yang menerangi mereka. Semoga saja tidak hujan, agar mereka berdua memiliki waktu lebih lama untuk mengobati rindu.
"Aku sudah kembali tiga hari yang lalu. Tapi aku pulang ke Jakarta, karena aku pikir kamu sudah kembali ke Jakarta. Nggak taunya kamu masih di Surabaya." Sesekali Elmer menciumi puncak kepala Radha. "Aku baru tiba di Surabaya tadi sore dan langsung mencari kamu. Aku tanya sama resepsionis apa kamu ada di hotel, setelah mendapat jawabannya aku langsung naik ke atas. Aku ketuk kamar kamu berkali-kali tapi tidak ada respon, akhirnya aku mencari mu di sini dan aku menemukan mu. Cup!" Elmer mencuri satu kecupan di pipi Radha.
"Iiiiihh El, aku adukan ke Daddy biar kamu digebukin lagi sampe babak belur."
"Coba saja, palingan kita terus dikawini." Sahut Elmer yang membuat Radha seketika membalikkan tubuhnya seraya melotot tajam ke arah Elmer. "Nikahin maksud aku." Elmer meralat ucapannya. "Ayo aku antar pulang." Elmer menggandeng tangan kekasihnya itu.
"Tidak El, aku pulang sama Pak Selamet saja. Lebih baik kamu istirahat, kamu pasti lelah."
"Baiklah baby, apa pun untuk mu. Berikan aku ucapan selamat malam agar tidur ku malam ini nyenyak."
"Selamat malam El." Ucap Radha seraya mengulas senyum, kemudian membalikkan tubuhnya.
"Eiiiits!" Elmer meraih tangan Radha hingga membuat langkah Radha terhenti. "Bukan ucapan seperti itu yang aku inginkan."
"Hah, memangnya ucapan selamat malam seperti apa?"
"Seperti ini, Cup!" Elmer langsung mengecup bibir kekasihnya itu hingga membuat Radha membelalakkan matanya karena terkejut dengan serangan dadakan Elmer. Bahkan saking terkejutnya Radha sampai tak sadar membuka sedikit mulutnya. Elmer pun tak menyia-nyiakan itu. Ia segera m3lum@t bibir Radha yang terasa manis sama seperti saat dia hampir m313c3hkannya dulu. Tangan kirinya ia letakkan di belakang kepala Radha agar bisa semakin memperdalam ciumannya.
Tak berselang lama, Elmer melepas ciumannya saat sang kekasih mulai kehabisan nafas.
"Hah hah hah!" Radha pun memukuli dada Elmer. "Iiiiihh, kau ingin membunuh ku El?"
"Maaf!" Elmer mengusap bibir Radha yang nampak sedikit bengkak karena ulahnya.
"Sudah, aku mau pulang!"
"Baiklah ayo! Aku antar sampai ke depan." Elmer segera menggandeng tangan kekasihnya itu. Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju ke lift.
Elmer berdiri di depan lobby hotel hingga mobil yang ditumpangi oleh kekasihnya itu menghilang dari pandangannya. Baru setelah itu ia kembali ke dalam hotel untuk memesan satu kamar untuknya beristirahat.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ