I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 41



"Mohon untuk tidak membuat Bu Anja terkejut atau syok, karena itu bisa memicu kontraksi. Tolong di jaga, jangan sampe Bu Anja stress. Karena di catatan kesehatan Bu Anja pernah mengalami keguguran. Beruntung Bu Anja hanya mengalami kontraksi dini dan flek." Ujar dokter Lusi. Nara mengangguk. Saat ini Nara dan Mama Rosi sedang berada di ruangan dokter Lusi.


"Baru saja kemarin saya menangani kasus bayi yang sudah meninggal di dalam kandungan gara-gara terlilit tali pusat. Jadi, mulai sekarang apapun keluhan Bu Anja, tolong untuk diperhatikan dan segera untuk memeriksakannya." Imbuh dokter Lusi.


"Baik dok! Apakah istri dan anak saya baik-baik saja?" Nara ingin tahu kondisi istri dan calon anaknya saat ini.


"Alhamdulillah sekarang istri anda dan juga janin yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja. Namun Bu Anja harus tetap dirawat di sini hingga kondisinya pulih. Nanti setelah kondisinya pulih, bedrestnya bisa di lanjut di rumah."


"Baik dok!"


Nara dan mama Rosi segera meninggalkan ruangan dokter Lusi setelah mendengar penjelasan dari dokter Lusi.


*****


Nara dan mama Rosi memasuki ruang perawatan Anja. Bima sudah kembali lagi ke kantor setelah Anja dipindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Pak Mun masih setia duduk di kursi tunggu depan ruang perawatan Anja. Nampak Anja yang tertidur lelap di atas bed perawatan.


Perlahan Nara melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi samping sang istri. Mama Rosi memilih duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Maaf!" Nara menggenggam tangan istrinya kemudian mengecupinya berulang-ulang. "Maafkan aku!"


"Eugh...." Lenguhan pelan terdengar dari bibir Anja, disusul dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka.


"Sayang!" Nara bangkit dari duduknya lalu menciumi wajah sang istri, namun Anja hanya diam saja tanpa meresponnya. Mama Rosi perlahan mendekat.


"Sayang, apa masih sakit?" Mama Rosi mengusap lembut perut buncit menantunya. Anja hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Maaf, maafkan aku!" Nara masih menggenggam erat tangan istrinya. "Kalau kamu ingin marah, marah lah padaku. Pukul aku sepuas mu, tapi jangan pernah pergi dari ku." Ya ketakutan Nara selama ini adalah, Anja akan meninggalkannya saat Anja tahu bahwa dirinya adalah penyebab kecelakaan itu.


"Sayang, jangan seperti ini." Nara semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Anja sayang, kalau kamu ingin marah, marah lah sama Mama Nak. Itu bukan kesalahan Nara, tapi kesalahan mama. Mama lah yang menyebabkan kecelakaan itu. Mama lah yang menyebabkan suami mu meninggal." Mama Rosi sudah terisak. "Waktu itu mama yang nelpon Nara sambil teriak-teriak hingga membuat Nara terkejut dan refleks menginjak pedal rem mobilnya." Mama Rosi menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Anja agar Anja tidak menyalahkan Nara. "Maafkan mama nak, maaf!" Mama Rosi tergugu dalam tangisnya. Nampak punggung Anja yang terguncang dibarengi dengan isak tangis yang keluar dari mulutnya. Nara segera membalik tubuh istrinya kemudian merengkuhnya ke dalam pelukannya.


"Maaf!" Ucap Nara sekali lagi, namun Anja masih diam dalam tangisnya.


Siang harinya, mama Rosi dan pak Mun sudah pamit pulang terlebih dahulu karena takut baby Radha akan mencari mereka. Tertinggal Nara sendirian yang menjaga istrinya di ruangan tersebut. Anja masih belum membuka suaranya sama sekali. Saat ini ia malah tidur menyamping membelakangi suaminya. Nara menghela nafasnya pelan seraya tangannya terus mengusap punggung sang istri dari belakang. Nara memaklumi istrinya tersebut. Mungkin istrinya itu butuh waktu untuk menerima kenyataan yang baru saja diketahuinya.


*****


*****


*****


*****


*****


Kasus yang baru saja ditangani oleh dokter Lusi ada di novel "Bukan Pernikahan Sedarah" Part 42-43πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚