
Tin.. Tin..
Bunyi klakson yang dinyalakan dua kali pertanda bahwa Bima telah tiba di kediaman Wijaya. Nara segera menyelesaikan sarapannya kemudian menghampiri istrinya yang sedang menyuapi anaknya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya." Nara mengecup puncak kepala istrinya dan juga anaknya. "Daddy kerja dulu baby." Radha hanya mengangguk. Anja pun segera meraih tangan suaminya untuk dicium.
"Papa ikut kalian, tunggu sebentar." Papa Hadi beranjak dari duduknya lalu mencium kepala mama Rosi. "Papa berangkat dulu ma." Mama Rosi mengangguk seraya meraih tangan papa Hadi untuk di ciumnya. Kemudian mereka keluar dari rumah beriringan.
Bima yang tidak tahu kalau papa Hadi ingin berangkat bareng mereka pun hanya diam saja di balik kemudi, karena biasanya Nara akan langsung masuk ke dalam mobil tanpa ia harus membukakan pintunya terlebih dahulu. Nara pun berinisiatif membukakan pintu untuk papanya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Bima.
"Maaf om, aku gak tahu kalau Om Hadi mau ikut bareng kami."
"Santay saja Bim." Balas papa Hadi yang duduk di belakang.
"Loe pake parfum apa Bim, baunya nyengat banget?" Nara menutup hidungnya dengan sebelah tangannya.
"Hah, masa sih?" Bima mengendus-endus baunya sendiri. "Ini parfum yang biasa gue pakai tiap hari. Perasaan biasa saja baunya. Hidung loe kali yang bermasalah."
"Apa bau saya nggak enak Om?" Bima menoleh ke belakang.
"Om malah gak mencium bau apa-apa."
"Ada masker gak?" Nara masih membekap hidung serta mulutnya.
"Ada di dashboard." Bima menunjuk tempat biasa ia menyimpan masker. Nara pun segera membukanya dan meraihnya satu kemudian langsung memakainya.
"Udah ayo jalan, nunggu apa lagi?"
"Lah, bukannya dari tadi loe yang ribut." Bima mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman kediaman Wijaya.
*****
Sesampainya di kantor, Bima segera turun duluan membukakan pintu untuk papa Hadi. Papa Hadi pun langsung turun.
"Sama-sama pak!" Bima membungkuk hormat. Begitulah mereka, jika sudah di kantor mereka akan bersifat formal layaknya atasan dan bawahan.
"Ayo boss!" Bima melongokkan kepalanya guna melihat Nara yang tak kunjung keluar dari dalam mobil.
"Jangan dekat-dekat aku Bim, atau sebaiknya kamu pulang saja dulu." Bima mengernyitkan dahinya mendengar penuturan bosnya. "Mandi dan ganti baju dulu sana, gak usah pake parfum." Nara membuka pintu mobil dan segera keluar. Nara perlahan melangkahkan kakinya memasuki kantor. Bima mengekor di belakang Nara dengan jarak aman karena bosnya itu tidak mau dekat-dekat dengannya.
"Bau apa ini?" Teriak Nara di balik masker saat berpapasan dengan salah satu pegawai perempuannya. Nara segera berlari mencari toilet terdekat untuk memuntahkan isi perutnya yang terasa diaduk-aduk. Bima yang khawatir pun mengikuti bosnya itu hingga ke toilet.
Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, Nara kembali memakai maskernya kemudian keluar dari toilet tersebut dan mendapati Bima yang berdiri di depan pintu toilet.
"Boss gak papa?" Tanya Bima khawatir.
"Ayo!" Nara melangkah menuju lift khusus. Saat sudah masuk ke dalam lift, Nara dan Bima berdiri berjauh-jauhan seperti pasangan muda yang lagi marahan.
Pintu lift terbuka, Nara segera keluar kemudian berjalan menuju ke ruangannya. Bima tetap setia mengekor di belakang Nara dengan jarak aman. Bima tidak mau bosnya itu muntah-muntah lagi gara-gara mencium bau parfumnya yang menurutnya biasa-biasa saja. Mungkin memang hidung bosnya itu yang sedikit bermasalah, karena biasanya juga parfum itu yang ia pakai setiap hari.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ