
HARI H
Sejak pagi Radha sudah di rias oleh MUA ternama di kota Surabaya. Sejak tadi keringat dingin terasa membasahi kedua telapak tangannya hingga terasa lembab. Jangan lupakan debaran di dadanya yang menggila.
"Kakak kenapa gelisah begitu?" Queena yang sejak tadi memperhatikan Radha ikut berdebar-debar.
"Entahlah Queen, mungkin kakak hanya nervous saja!"
"Tidak papa kak, santai saja. Ini biasa dialami oleh calon pengantin." Sahut MUA tersebut seraya tersenyum menenangkan.
"Aku dulu juga begitu kak." Camelia yang sejak tadi rebahan di atas ranjang menyahut. Radha pun hanya bisa menampilkan senyum yang terkesan dipaksakan karena hatinya tidak bisa dibohongi kalau dirinya saat ini memang benar-benar sedang gelisah luar biasa, entah itu karena apa ia sendiri juga tidak tahu. Namun Radha berusaha mensugesti dirinya sendiri kalau saat ini dirinya hanya sedang nervous saja.
Ceklek!
Serempak mereka berempat menoleh kearah pintu. Nampak mama Anja, Buna Laras dan mommy Shasa masuk ke dalam kamar.
"Sudah selesai?" Mama Anja mendekati sang putri.
"Cantiknya anak Buna." Buna Laras ingin mencium Radha namun di halangi oleh tukang make-upnya.
"Eeiits, nanti saja ya Bu peluk ciumnya." Membuat mereka semua yang ada di sana terkekeh saat melihat Buna Laras yang cemberut.
"Kakak mau kado apa dari mommy?" Mommy Shasa mendudukkan tubuhnya di samping Camelia.
"Eeem, apa ya?" Radha nampak berfikir. "Nanti saja deh mom, kakak lagi ngeblank gak bisa mikir."
"Ya sudah kadonya nyusul." Mommy Shasa beralih mengelus perut buncit Camelia. "Sehat-sehat ya cucu Omi."
"Iya Omi!" Jawab Camelia menirukan suara anak kecil seraya mengelus perutnya.
"Apa gak berat kak?" Celetuk Queena.
"Apanya yang berat Queen?" Mommy Shasa langsung mengalihkan pandangannya ke anak gadisnya itu.
"Ya itu mom, perut Kak Camel." Queena menunjuk perut besar Camelia. Entah mengapa ia merasa ngeri saat melihat perut kakak iparnya itu.
"Nanti kalau kamu sudah menikah pasti juga merasakannya Queen." Mom Shasa mengulas senyum lembut seolah mengatakan kepada Queena bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tak berselang lama pintu kamar kembali di buka. Dan kali ini muncullah dad Nara yang nampak gagah di usianya yang tak lagi muda.
"Sudah siap?" Dad Nara melangkah mendekati putrinya.
"Sudah pak!" Sahut penata riasnya.
"Iiish dad, kakak cuma nervous saja!" Radha mencebikkan bibirnya membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Daddy serius baby, takutnya nanti kamu pingsan di jalan." Gelak tawa kembali memenuhi ruangan tersebut.
"Sudah, sudah! Ayo jalan pelan-pelan!" Mama Anja segera menengahi, kalau seperti ini terus yang ada nggak bakalan keluar-keluar dari kamar.
Perlahan Radha melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan diapit oleh kedua orang tuanya. Sedangkan yang lainnya mengekor di belakang mereka.
*****
Suasana ballroom hotel tempat diadakannya pesta pernikahan Radha dan Elmer nampak riuh oleh para tamu undangan yang berdatangan silih berganti.
Elmer nampak sudah duduk di depan penghulu dengan di dampingi oleh om Gibran papanya Anita. Ya, Elmer hanya datang berempat bersama Anita sepupunya dan juga kedua orang tua Anita yang tak lain adalah adik sepupunya mami Selena. Sedangkan mami Selena sudah tidak peduli lagi dengannya.
Semua tamu undangan sudah menempati kursinya masing-masing. Terkhusus untuk kursi yang ada di deretan paling depan adalah untuk keluarga sendiri. Wisnu yang duduk di deretan kursi terdepan lebih tepatnya duduk di samping ayah Seno nampak gelisah. Gemuruh hebat di dadanya sejak kemarin sore saat ia bersama Radha di rooftop tak mampu ia redam. Mungkin itu terakhir kalinya ia bisa bersama kakaknya dan bisa memeluk kakaknya itu. Setelah ini mungkin ia hanya dapat melihat dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya apalagi memeluknya.
Ayah Seno yang menyadari dan mengerti anaknya saat ini hanya bisa menepuk pelan punggung sang anak seolah menguatkan.
Wisnu menoleh. "Apa boleh Wisnu di luar saja yah? Disini sesak!"
Ayah Seno tersenyum. "Apa kau tak ingin menyaksikan pernikahan kakak mu?"
"Bu-bukan begitu, hanya saja Wisnu tidak suka suasana seperti ini." Elak Wisnu.
"Duduk diam, kita harus menghormati dad Nara." Akhirnya Wisnu hanya bisa pasrah, duduk diam seraya menundukkan pandangannya.
"Kalian semua tidak mengerti, bagaimana aku menahan mati-matian untuk tidak meledak." Wisnu hanya bisa membatin seraya menahan semua gejolak dan gemuruh di dadanya yang hampir meledak. Bagaimana tidak, ia harus menyaksikan orang yang dicintainya menikah dengan orang lain di depan matanya sendiri dan ia hanya menjadi tamu undangan.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ