
"Mama sama Daddy harus pulang kak. Ingat, nggak boleh nakal. Nurut sama ayah sama Buna." Mama Anja memeluk anak gadisnya itu. Ini adalah pertama kalinya mereka berpisah. Berat rasanya, tapi demi kebaikan anaknya, apapun akan dilakukan oleh seorang ibu.
"Ingat, nggak boleh capek. Semua sudah ada yang ngurusin. Kakak bisa datang ke hotel seminggu sekali untuk mengeceknya." Dad Nara gantian memeluk anaknya setelah Radha terlepas dari pelukan mamanya. Radha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja dalam pelukan sang Daddy.
Setelah berpamitan dengan seluruh penghuni rumah dan juga penghuni rumah makan, Mama Anja dan dad Nara segera meninggalkan kediaman Laras menuju ke bandara kota Surabaya dengan diantar oleh salah satu sopir kantor yang nantinya akan menjadi sopir pribadi anaknya saat di Surabaya.
"Huh, padahal kakak bisa bawa mobil sendiri. Kenapa harus pakai sopir coba?" Gerutu Radha cemberut.
"Ya kalau kakak nggak mau pake sopir, nanti biar aku aja yang pake. Kan lumayan nggak perlu kepanasan nungguin angkot. Nggak perlu duduk bersenggol-senggolan dengan orang lain." Sahut Camelia. Ya, selama ini memang Camelia berangkat kuliah dengan menaiki angkot karena tidak bisa mengendarai mobil. Camelia selalu menolak jika ayahnya ingin mengajarinya menyetir. Alasannya karena ia takut. Sesekali Seno akan mengantarkan anaknya itu pergi kuliah jika ia tidak sibuk. Sedangkan Wisnu, meskipun ia sudah bisa mengendarai mobil, tapi anak itu lebih suka berangkat sekolah dengan menggunakan motor.
"Ambil sana!" Ketus Radha masih dalam mode kesal.
"Serius kak?"
"Iya!"
"Aaaaa terimakasih kakak ku sayang." Camelia langsung memeluk Radha.
"Tapi kalau lagi nganggur! Kalau lagi kakak pake ya sorry aja."
"Yeeee tadi katanya nggak mau." Camelia langsung mengurai pelukannya.
*****
Sebulan berlalu, hampir setiap hari Radha datang ke hotel setelah paginya membantu Bunanya di warung. Biasanya ia akan berangkat bareng Camelia yang akan berangkat ke kampus agar sekalian bisa mengantarnya.
Radha menempati salah satu kamar hotel presiden suite untuk beristirahat siang, jika ia malas untuk pulang ke kediaman Buna Laras.
Ceklek!
"Hey, siapa itu?" Teriak Radha saat sekilas melihat seseorang yang mencurigakan di ujung lorong. Bukannya menjawab, orang tersebut malah turun dengan menggunakan tangga, bukannya masuk ke dalam lift. Entah mengapa Radha merasa dalam beberapa hari ini ada yang mengawasinya. Apa mungkin itu hanya perasaannya saja? Entahlah.....
Dengan sedikit was-was, Radha melanjutkan langkahnya menyusuri lorong menuju lift. Disana nampak sepi, karena di lantai paling atas ini hanya terdapat beberapa kamar presiden suite saja. Hanya kalangan sultan lah yang biasanya menempati kamar tersebut.
Radha berdiri tepat di depan lift menunggu lift tersebut terbuka. Sambil menunggu lift terbuka, Radha kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lorong. Namun tidak ada siapapun di sana. Tapi kenapa bulu kuduknya terasa berdiri?
Tak berapa lama lift pun terbuka. Setelah mengedarkan pandangannya sekali lagi, Radha segera masuk ke dalam lift seorang diri. Namun saat lift sudah mulai kembali menutup, tiba-tiba saja ada sebuah kaki berbalut sepatu menghalangi pintu lift yang akan tertutup. Lift itu pun kembali terbuka dan masuklah seorang pria berpakaian serba hitam dan juga memakai topi dan kacamata hitam serta masker berwarna hitam yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.
Deg!
Jantung Radha rasanya ingin melompat saat menyadari siapa yang masuk ke dalam lift bersamanya. Orang itu adalah orang yang tadi sempat dilihatnya di ujung lorong dan sekarang orang itu berada tepat di depannya, di dalam satu lift dan hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ