
Suasana ballroom hotel yang tadinya riuh mendadak hening saat mempelai wanita tiba di sana. Seluruh perhatian orang-orang yang ada di sana langsung tertuju pada pengantin wanita yang berjalan perlahan memasuki ballroom hotel dengan didampingi oleh kedua orang tuanya. Tak terkecuali Wisnu yang nampak tak berkedip saat menatap kakaknya yang terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin.
"Tuhan, kenapa bukan aku yang bersanding dan mengucap ijab kabul disana? Salahkah jika aku berdoa agar aku bisa menggantikan posisi mempelai prianya disana? Aku tidak rela kakak ku bersanding dengan orang lain, Tuhan." Ratap Wisnu dalam hati. Pandangan matanya nampak sendu menatap kakaknya yang perlahan mendekat ke arah calon suaminya.
"Ayah tau ini berat buat kamu, tapi ayah yakin kamu kuat. Mungkin kakak mu memang bukan jodoh mu." Bisik ayah Seno yang membuat Wisnu sedikit tersentak.
Degh!
"A-ayah ngomong apa sih." Sebisa mungkin Wisnu berusaha menutupinya.
"Ayah tau Wis, kamu tidak bisa membohongi ayah. Ingat! Kalian saudara, jadi buang jauh-jauh perasaan mu itu."
"Tapi di antara kami tidak ada ikatan darah!" Akhirnya pertahanannya runtuh juga.
"Ya, kamu benar! Tapi seluruh keluarga pasti akan menentang itu."
"Wisnu juga tidak ingin seperti ini ayah, tapi Wisnu juga tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh." Semakin sesak rasanya dan Wisnu memilih untuk meninggalkan tempat itu. Namun baru saja kakinya melangkah, tangannya sudah dicekal oleh ayah Seno.
"Tetap di tempat mu atau ayah akan marah!" Ayah Seno berbicara dengan nada rendah penuh penekanan. Akhirnya Wisnu hanya bisa pasrah dan kembali ke tempatnya semula.
Tangan Radha semakin dingin, debaran di dadanya pun semakin kuat. Radha mengeratkan genggaman tangannya pada daddy-nya.
"Ada Daddy, jangan khawatir!" Bisik dad Nara menenangkan putrinya. Radha mengulas senyum seraya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di depan penghulu, Radha langsung didudukkan di samping mempelai pria. Sekilas Elmer menoleh menatap calon istrinya seraya tersenyum yang dibalas Radha dengan senyuman pula.
Dad Nara langsung duduk di samping putrinya karena ia bertugas sebagai saksi bersama Om Gibran. Mama Anja, Buna Laras, dan mommy Shasa mengambil tempat duduk di belakang anaknya. Sedangkan yang lainnya segera menempati kursinya masing-masing karena acara ijab kabul akan segera dimulai. Para tamu undangan yang tadinya berdiri untuk menyambut kedatangan mempelai wanita pun segera duduk kembali.
Bukan hanya sang mempelai yang merasa deg-degan, tetapi seluruh orang yang ada di dalam ballroom hotel tersebut rasanya juga ikut deg-degan tak karuan menanti saat-saat ijab kabul diucapkan.
Tepat pukul 09.00 Ijab Kabul dimulai.
"Baik, sudah bisa dimulai?" Tanya Pak penghulu memastikan.
"Baik! Karena orang tua kandung mempelai wanita sudah meninggal, maka walinya akan diwakilkan kepada wali hakim. Dan kebetulan saya yang bertugas hari ini untuk menikahkan kedua mempelai. Maka saya yang akan mewakili almarhum Pak Zian untuk menikahkan putrinya dengan laki-laki pilihannya." Pak penghulu menjeda sejenak ucapannya. "Bagaimana mempelai pria sudah siap?"
"Sudah pak!" Jawab Elmer tegas tanpa keraguan.
"Baik, kita mulai!" Pak penghulu mengulurkan tangannya ke arah Elmer yang langsung disambut oleh Elmer.
"BISMILLAHIROHMANIROHIM, SAUDARA EXCEL ELMER HANDOKO BIN SELENA HANDOKO, SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN SAUDARI RADHANIA AZZURA ADITAMA WIJAYA BINTI ALMARHUM ZIAN ADITAMA YANG WALINYA DIWAKILKAN KEPADA SAYA SELAKU WALI HAKIM, DENGAN MAS KAWIN UANG 1 MILYAR DI BAYAR TUNAI!"
"SAYA TE-........."
"DADDY!"
*****
*****
*****
*****
*****
Jreng jreng jreng π±π±π±
Itu si Elmer bin ibunya ya, karena di dalam akta kelahirannya hanya ada nama ibunya π€π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ