
Keesokan harinya Nara meminta kepada Bima asistennya untuk mengantarkannya ke rumah sakit terlebih dahulu guna menemui dokter Andrew.
"Loe tunggu disini aja, gue gak lama." Tanpa menunggu jawaban dari sang asisten, Nara segera turun dari mobil kemudian melangkah menuju ke resepsionis.
"Permisi sus, dokter Andrew nya sudah datang?"
"Belum pak, mungkin sebentar lagi. Bapak bisa menunggu disana." Perawat tersebut menunjuk ke arah deretan kursi tunggu.
"Oke, saya tunggu di dalam saja." Nara melangkah menuju ke ruangan dokter Andrew.
Sesampainya di depan ruangan dokter Andrew, Nara langsung membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci. Mungkin sudah ada petugas kebersihan yang baru saja membersihkan dan membereskan ruangan dokter Andrew. Nara melangkah masuk kemudian duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Nara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya ternyata masih menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit.
Sekitar sepuluh menitan menunggu, akhirnya pintu ruangan tersebut dibuka dari luar dan muncullah dokter Andrew yang nampak terkejut melihat ada orang di dalam ruangannya.
"Heh, pagi-pagi udah bikin orang jantungan!" Pelototan tajam dokter Andrew layangkan ke arah Nara.
"Loe kan dokter, kalau cuma jantungan cincai lah."
"Cincai gundul mu! Gue dokter kandungan, bukan dokter jantung!" Sungut dokter Andrew seraya mendudukkan tubuhnya di depan Nara. "Ada apa pagi-pagi udah ganggu orang?"
"Istri gue udah tau semuanya." Nara tertunduk lesu.
"What?!" Pekik dokter Andrew terkejut untuk yang kedua kalinya. "Bukan gue yang kasih tau, sumpah!" Dokter Andrew mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda ia tidak melakukan hal itu.
"Gue tau, istri gue mendengar dari mulut gue sendiri."
"Kok bisa? Loe udah cerita sama istri loe?" Nara menggeleng Kemudian menceritakan semuanya kepada dokter Andrew. Dokter Andrew nampak manggut-manggut mendengarkan cerita Nara.
"Dan satu lagi," Nara sengaja menjeda ucapannya untuk memberikan efek penasaran pada dokter Andrew.
"Apa lagi? Bukannya permasalahannya udah clear sekarang?"
"Gue dilarang minta hak gue sampe nanti istri gue melahirkan dan sudah pasang KB." Sontak saja ucapan Nara barusan membuat dokter Andrew tertawa terbahak-bahak.
Braakk!
Nara menggebrak meja yang ada di depannya hingga membuat dokter Andrew seketika menghentikan tawanya. Beruntung itu bukan meja kaca melainkan meja kayu. Kalau saja meja itu terbuat dari kaca sudah ambyar, hancur berkeping-keping.
"Eh, kok bawa-bawa gue. Salah loe sendiri nggak bisa jaga mulut. Sudah sana pergi, gue mau lanjut kerja." Usir dokter Andrew. Tanpa pamit Nara langsung keluar meninggalkan ruangan dokter Andrew membuat dokter Andrew menghela nafas lega.
*****
Nara dan Bima tiba di kantor pukul delapan lebih. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki kantor kemudian menuju ke lift khusus.
Pintu lift terbuka, Nara dan Bima kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Nara. Bima segera membukakan pintu untuk bosnya tersebut. Nara tersentak kaget saat melihat bos besar alias Papa Hadi sudah duduk cantik di kursinya, begitupun Bima.
"Pa-pagi pak!" Sapa Nara dan Bima serempak seraya menunduk.
"Bukan atasan yang patut di contoh!" Bukannya menjawab sapaan anaknya dan juga asisten anaknya, Papa Hadi malah mencibir keduanya.
"Maaf pak!" Jawab keduanya kompak.
"Darimana saja kalian? Bukannya tadi kalian berangkat lebih dulu?" Sorot mata tajam mengintimidasi papa Hadi layangkan ke arah keduanya.
"Eemm, anu pa, tadi mampir beli kopi dulu." Jawab Nara mencari alasan.
"Ambil alih rapat pagi ini karena papa ada pertemuan dengan Pak Handoko."
"Siap pa!" Papa Hadi langsung melangkah keluar dari ruangan anaknya, membuat kedua anak manusia tersebut akhirnya bisa bernafas lega.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ