
Menjelang Maghrib Radha tiba di rumah dan langsung disambut oleh Mamanya.
"Baru pulang kak?" Anja berjalan ke arah anak perempuannya itu.
"Iya ma!" Radha mencium tangan mamanya.
"Baby, dari mana saja jam segini baru pulang?" Nara berdiri di pertengahan tangga. "Bukannya Daddy sudah bilang kalau anak-anak Daddy harus sudah ada di rumah pukul empat sore?" Nara melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
"Maaf dad!" Radha menundukkan kepalanya.
"Sudah-sudah, sana mandi." Anja melerai keduanya. Radha mengangguk dan segera menaiki tangga. Namun saat tiba di dekat daddy-nya, Radha mendongakkan kepalanya dan melihat daddy-nya itu merentangkan kedua tangannya. Radha pun langsung berhambur memeluk sang Daddy.
"Jangan ulangi lagi! Daddy tidak suka anak-anak Daddy membangkang. Apalagi baby anak perempuan." Radha mengangguk dalam pelukan daddy-nya. "Sudah sana mandi!" Nara mengurai pelukannya. Radha pun segera berlari menaiki tangga kembali dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Waktu makan malam tiba, semua penghuni kediaman Wijaya sudah berkumpul di ruang makan. Termasuk mbak Tini yang sudah dianggap ibu bagi ketiga anak Anja.
"Eemm, dad!" Ragu-ragu Radha berucap. Mendengar panggilan dari anaknya, Nara pun menoleh menatap anak perempuannya. Begitu pula yang lainnya juga ikut menoleh. "Setelah makan nanti kakak mau bicara." Radha berucap dengan menundukkan kepalanya.
"Baby mau bicara apa?"
"Dad, kita makan dulu. Kan kakak sudah bilang kalau bicaranya nanti setelah makan." Mendengar peringatan dari istrinya, Nara langsung melanjutkan makannya kembali. Ruang makan kembali hening, hanya terdengar bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Setelah makan malam usai, mama Anja dan Daddy Nara serta Radha pindah ke ruang tengah. Sedangkan Rendra dan Oka sudah kembali lagi ke kamarnya. Rendra dan Oka bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain kecuali diminta.
Saat ini Rendra baru masuk kuliah semester awal, sedangkan Oka sudah kelas XII SMK. Kedua kakak beradik itu pun memiliki sikap yang berbanding terbalik. Rendra yang ramah dan pembawaannya tenang. Sedangkan Oka yang ceroboh, keras kepala dan semaunya sendiri. Bahkan yang paling parah adalah tutur katanya yang pedas sepedas bon cabe, kata Radha. Ya, Radha sering menjuluki adiknya itu dengan sebutan boncabe.
"Apa yang ingin Baby bicarakan?" Tanpa basa-basi Nara langsung menodong anaknya saat mereka bertiga sudah duduk di ruang tengah.
"Eemm, kakak ingin mengenalkan seseorang kepada Daddy dan mama." Radha berbicara seraya menunduk takut-takut.
"Seseorang? Siapa sayang?" Anja membelai kepala anaknya yang duduk di sampingnya. Sedangkan Daddy Nara duduk di depan mereka berdua. "Apakah itu pacar kakak?" Lanjut mama Anja.
"Apa selama ini Baby diam-diam menjalin hubungan dengan seseorang tanpa sepengetahuan Daddy?" Todong Nara lagi.
"Eemm, bukan begitu dad. Kami memang menjalin hubungan, tapi kami tidak pernah macam-macam. Bahkan bergandengan tangan saja tidak pernah." Jawab Radha jujur. Bagaimana bisa bergandengan tangan kalau kekasihnya itu selalu nyelonong duluan.
"Ap-apanya dad?" Radha gelagapan.
"Berapa lama kalian menjalin hubungan diam-diam?"
"Satu tahun!" Jawab Radha akhirnya mengaku.
"Selama itu, dan Daddy tidak tau? Luar biasa anak Daddy, pandai menyembunyikan semua itu dari Daddy." Entah itu pujian atau apa, yang pasti Radha semakin menunduk ketakutan. Nara adalah sosok orang tua yang overprotektif kepada anak-anaknya, apalagi anak perempuan satu-satunya itu.
"Maaf dad!"
"Sudah-sudah, rupanya anak mama sudah dewasa. Siapa laki-laki itu kak?" Mama Anja bertanya dengan suara lembutnya agar anaknya itu tidak semakin ketakutan.
"Namanya Elmer ma, dia pindahan dari luar negeri satu setengah tahun yang lalu. Dia hanya sebatang kara di sini. Dia tinggal sendirian hanya bersama pembantu di rumahnya yang besar."
"Berapa kali baby datang ke rumahnya?" Raut wajah Nara nampak merah padam saat mendengar anaknya itu menceritakan tentang kekasihnya. Dalam pikiran Nara saat itu menganggap bahwa anaknya sering datang ke rumah laki-laki itu.
"Eemm, baru sekali dad, tadi sore." Radha kembali menunduk, Radha takut daddy-nya itu berpikiran yang macam-macam tentangnya. "Kami tidak melakukan apapun dad. Kakak hanya sebentar di sana, karena Elmer ada urusan penting."
"Ya sudah, suruh laki-laki itu datang ke rumah besok malam, biar kita bisa makan malam bersama." Putus mama Anja. Radha pun sedikit lega. Namun saat ia mendongakkan kepalanya, tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Daddy Nara yang raut wajahnya sama sekali tidak bersahabat.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ