
Nara tiba di kantor agak siangan, karena tadi pagi ia ikut mengantarkan rombongan dari Surabaya ke bandara.
Saat tiba di depan ruangannya, Nara mengernyitkan alisnya saat tidak mendapati sekretaris sekaligus asistennya itu berada di dalam ruangannya. Ruangan Bima bagian depan memang di desain hanya tembok setengah badan ke bawah dan bagian atasnya full kaca transparan sehingga bisa dilihat dari luar. Nara tak ambil pusing dengan keberadaan asistennya itu. Ia pun melangkah menghampiri pintu ruangannya.
Ceklek!
Nara terperanjat saat membuka pintu ruangannya, tatapannya tak sengaja bertemu dengan seseorang yang berada di dalam ruangannya. Bima yang mendengar pintu ruangan dibuka segera beranjak dari duduknya begitupun dengan wanita yang pandangannya tadi sempat bertemu dengan Nara.
"Pagi Ra! Oh bukan, ini hampir siang." Sapa Selena yang terdengar risih di telinga Nara.
"Selamat pagi pak!" Bima sedikit membungkukkan badannya untuk menyapa bosnya itu.
"Heemm!" Balas Nara cuek seraya melangkah ke meja kerjanya. Nara langsung mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Ada perlu apa lagi, Bu Selena datang kemari?" Tanya Nara dengan suara datarnya.
"Aku di minta papa datang kemari Ra, katanya untuk membicarakan kerjasama yang terjalin di antara perusahaan kita." Selena melangkah mendekati meja kerja Nara.
"Semua urusan yang menyangkut kerjasama di antara perusahaan kita sudah saya serahkan kepada asisten saya. Silahkan ibu membahasnya dengan asisten saya. Saya masih banyak pekerjaan, jadi saya minta kalian tinggalkan ruangan saya." Ucap Nara datar.
"Bisakah jangan memanggil saya ibu? Apa saya terlihat setua itu?" Protes Selena. Panggilan ibu yang disematkan oleh Nara untuknya itu sangat melukai harga dirinya. Ia sudah berdandan dengan sangat sempurna pagi ini, tapi seseorang menghancurkan kepercayaan dirinya begitu saja.
"Maaf bu, ini masih jam kerja. Jadi saya harus bersikap profesional." Ujar Nara. "Silahkan gunakan ruang meeting untuk membahas kerjasama ini." Lanjut Nara.
Selena yang merasa sakit hati atas sikap Nara kepadanya, membuat moodnya seketika down. Tanpa permisi ia langsung keluar dari ruangan Nara, disusul oleh Bima. Namun langkah Bima terhenti saat melihat Selena memasuki lift. Bima pun mengurungkan niatnya untuk mengejar Selena. Bima memilih kembali masuk ke dalam ruangan bosnya.
"Kenapa kembali lagi?" Nara bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
"Huuuft!" Bima mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja kerja Nara. "Dia sepertinya marah. Dia langsung pergi begitu saja."
"Biarkan saja!" Sahut Nara.
"Memangnya gue ngelakuin apa? Bukannya apa yang gue katakan semuanya benar? Bukannya loe yang gue minta untuk menangani proyek ini?"
"Iya juga sih," Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Bagaimana kalau sampai Pak Handoko membatalkan kerjasama ini? Bos besar bisa marah."
"Gue gak peduli!"
"Huuuft, baiklah terserah loe saja." Bima beranjak dari kursi kemudian segera keluar dari ruangan tersebut untuk kembali ke ruangannya. Nara pun tak peduli, ia memilih melanjutkan pekerjaannya daripada mengurusi urusan yang tidak penting baginya.
Nara Bukannya tidak tahu kalau Selena berusaha untuk mendekatinya. Oleh karena itu ia berusaha membentengi dirinya sendiri. Ia tidak mau seolah-olah memberikan harapan kepada Selena.
Dulu ia dan Selena memang satu kampus, tapi ia tak begitu mengenal Selena. Hanya beberapa bulan ini saja mereka sering bersama karena terlibat dalam kerjasama antar perusahaan mereka.
Awalnya memang Nara yang memegang proyek ini. Namun saat ia merasakan gelagat aneh dari Selena, Nara segera menyerahkan proyek yang ditanganinya itu kepada sang asisten yaitu Bima. Nara lebih memilih menangani proyek yang lainnya. Karena kerjasama yang terjalin dengan perusahaannya bukan hanya perusahaan Pak Handoko saja, melainkan banyak perusahaan-perusahaan yang lainnya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ