
Sepasang pengantin baru bukannya menikmati malam pertamanya malah nampak sedang asyik menikmati angin malam di atas rooftop sambil berpelukan. Lebih tepatnya Wisnu yang memeluk istrinya dari belakang seperti biasa. Ya, setelah menyelesaikan makan malamnya tadi, Radha langsung naik ke atas rooftop tanpa sepengetahuan suaminya. Karena saat itu Wisnu sedang berada di kamar mandi. Alhasil suaminya itu kelimpungan mencari dirinya setelah keluar dari kamar mandi. Beruntung Wisnu sudah hafal tempat favorit istrinya itu.
Wisnu langsung naik ke atas rooftop dan mendapati istrinya itu sedang berdiri di ujung rooftop dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pembatas rooftop. Seperti biasa, Wisnu langsung memeluk istrinya dari belakang. Dan Radha sudah tidak kaget lagi, karena tidak ada yang berani memeluk dirinya selain suami bocahnya yang nackal itu.
Hembusan angin terasa membelai kulit keduanya. Beruntung angin malam ini tidak terlalu kencang. Cahaya nampak temaram, bukan karena tidak ada lampu di sana. Akan tetapi karena suasana di rooftop akan terasa lebih romantis dengan hanya ditemani kerlipan bintang dan juga kerlipan lampu-lampu jalanan kota Surabaya yang dapat dipandang dari atas rooftop.
"Kenapa malah disini?" Bisik Wisnu tepat di telinga sang istri. "Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Cup!" Lagi-lagi Wisnu tak tahan untuk tak mengecup pipi istrinya. Sudah berlabel halal, jadi suka-suka Wisnu mau berbuat apa. Belum halal aja berani, apalagi sudah halal, gasslah! π€
"Anginnya tidak terlalu kencang, aku hanya ingin menikmati malam ini." Radha menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Tangannya ia lipat di depan dada karena semakin malam udara terasa semakin dingin.
Wisnu yang mengerti itu semakin mengeratkan dekapannya. "Baiklah, mari kita nikmati malam ini berdua. Hanya berdua!" Wisnu menekankan kata hanya berdua dengan maksud agar istrinya itu tidak memikirkan siapapun kecuali dirinya. Karena Wisnu yakin saat ini istrinya itu pasti sedang mengingat mantan kekasihnya.
"Apa kamu serius mencintai ku Wis?"
"Hem, apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya agar kamu percaya kalau aku sangat mencintai mu."
"Sejak kapan?"
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Hanya saja aku tidak rela jika kamu dimiliki oleh laki-laki lain." Jawab Wisnu jujur. "Bukan berarti aku bahagia karena kamu batal menikah, tapi aku bahagia karena bisa memiliki mu meskipun belum seutuhnya."
"Em, yang itu, aku minta maaf!"
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku tidak akan memaksa, aku akan menunggu sampai kamu merasa siap."
"Terimakasih!"
"Ayo masuk, ini sudah larut." Kali ini Radha menurut ucapan suaminya, karena udara dingin terasa semakin menusuk ke dalam tulang-tulangnya.
Sesampainya di kamar, Wisnu langsung mengunci rapat pintu kamarnya. Radha memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sedangkan Wisnu langsung membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
Tak berselang lama Radha sudah keluar dari kamar mandi dan langsung bergabung dengan suaminya ke atas ranjang.
"Sini!" Wisnu menepuk tempat kosong yang ada di sisinya, meminta sang istri untuk lebih dekat kepadanya. Radha pun menurut. Sudah tidak ada kata canggung lagi diantara mereka, karena memang sebelumnya mereka sering kontak fisik. "Sampai kapan ingin menginap di sini?" Wisnu langsung merengkuh istrinya ke dalam dekapannya.
"Aku hanya mengambil cuti satu hari saja. Tapi tenang, tak perlu terburu-buru. Kalau kamu masih ingin di sini aku tidak apa-apa. Besok aku bisa pulang ke rumah dulu untuk ganti baju. Dan sepulang dari kuliah aku langsung ke sini lagi."
"Eem, setelah ini kita akan tinggal di mana?" Radha sedikit ragu menanyakan hal ini.
Wisnu nampak mengernyit karena tidak paham dengan maksud istrinya. "Bukannya selama ini kita tinggal di rumah Ayah sama Buna?"
"Iya, tapi kita kan sudah menikah."
"Apa kamu lupa, suami mu ini masih mahasiswa dan belum bekerja, apalagi punya rumah sendiri."
"Bu-bukan begitu maksud ku. Bagaimana kalau kita tinggal di apartemen Daddy saja."
"Terus siapa yang akan membantu di warung? Ayah sama Buna pasti juga tidak akan mengijinkan."
"Baiklah, sebagai istri yang baik aku akan menurut apa kata suami ku."
"Terimakasih sayang, cup!" Mata Radha langsung membulat sempurna saat bibirnya dikecup oleh suaminya. "Itu baru permulaan." Ucap Wisnu tanpa merasa berdosa. "Sudah, sekarang ayo kita tidur." Radha langsung menyerukan kepalanya di dada sang suami mencari tempat ternyaman. Sedangkan Wisnu semakin mengeratkan pelukannya, kemudian keduanya sama-sama terpejam bersiap untuk menjemput mimpi.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ