
Pagi-pagi sekali Radha sudah meminta Pak Selamet untuk mengantarkannya pergi ke hotel, membuat semua orang yang ada di rumah dan juga yang ada di warung nampak keheranan. Kecuali satu orang yang nampak menatap sendu kepergian kakaknya, siapa lagi kalau bukan Wisnu.
Bagaimana tidak keheranan, biasanya Radha selalu berangkat ke hotel setelah terlebih dulu membantu di warung. Karena di jam sarapan Rumah makan selalu ramai.
"Wis, memangnya pekerjaan kakak mu banyak ya sampe gak sempat sarapan? Kalau nggak bisa bantu di warung sih nggak masalah, tapi dia melupakan sarapannya lho." Tanya Buna Laras keheranan.
"Ya mana aku tau Bun." Wisnu memilih melanjutkan langkahnya mengantarkan pesanan ke meja pengunjung. Begitulah Wisnu, waktunya selalu digunakan untuk membantu di warung sebelum berangkat kuliah.
*****
"Apa kamu tidak ingin menemui orang tua ku El?" Radha menatap ke arah Elmer. Saat ini mereka sedang berada di tempat favorit mereka berdua, yaitu rooftop. Selepas sarapan berdua di restoran hotel, mereka memilih naik ke atas rooftop karena tempat itulah yang paling nyaman untuk mereka berdua.
"Sepertinya ada yang sudah tidak sabar." Goda Elmer membuat pipi Radha bersemu merah layaknya kepiting rebus.
"Bu-bukan begitu!" Elak Radha mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Umur ku sudah tidak lagi muda El, Daddy sama mama meminta ku untuk segera menikah."
Perlahan Elmer memeluk Radha dari belakang. "Kapan pun aku siap jika kamu meminta ku untuk bertemu dengan kedua orang tua mu." Ucap Elmer mantap tanpa keraguan sedikitpun.
Mendengar ucapan kekasihnya itu, Radha langsung membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk sang kekasih. "Terimakasih El, terimakasih!"
"Apa pun untuk mu baby." Elmer mengeratkan pelukannya seraya menciumi puncak kepala sang kekasih.
*****
Malam pun tiba. Namun sepertinya ada yang berbeda dengan malam ini. Nampak sebuah mobil memasuki area parkir rumah makan. Tak berselang lama turunlah seorang gadis cantik dari mobil tersebut yang tak lain adalah Radha. Kemudian disusul oleh seorang laki-laki yang keluar dari pintu samping kemudi yang tak lain adalah Elmer. Ya, Radha menyuruh pak Selamet untuk pulang terlebih dahulu, karena ia akan pulang bersama sang kekasih. Radha ingin memperkenalkan kekasihnya itu kepada ayah dan Bunanya.
Radha membawa Elmer masuk lewat lorong kecil samping rumah makan menuju ke rumah yang ada di belakang rumah makan.
"Ayo El masuk dulu. Kamu tunggu disini dulu ya, aku mau panggil ayah sama Buna di depan." Radha segera meninggalkan rumah setelah memastikan kekasihnya itu duduk dengan nyaman di ruang tamu.
Tak berselang lama, Radha sudah kembali bersama ayah Seno dan Buna Laras.
"Eh ada tamu." Sapa Buna Laras saat memasuki rumah.
Elmer langsung bangkit dari duduknya dan menyapa balik sang tuan rumah. "Malam Tante, Om." Tak lupa Elmer menyalami keduanya.
"Ayo duduk dulu." Ucap Buna Laras. Mereka berempat pun langsung duduk kembali di ruang tamu.
"Eem, ini Elmer Yah, Bun." Radha memperkenalkan kekasihnya kepada Ayah Seno dan Buna Laras.
Braakk!!
Tiba-tiba saja ayah Seno menggebrak meja dengan keras hingga membuat mereka bertiga terlonjak kaget.
"Br3n9$3k!" Ayah Seno bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Elmer dan langsung mencengkram kerah kemeja Elmer. Hampir saja ayah Seno mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Elmer jika tangannya tidak ditahan oleh Radha.
"Ayah jangan!"
"Mau apa b@jin9@n itu datang kesini!" Teriak ayah Seno yang rupanya amarahnya masih belum mereda. Dari sini Radha dapat mengambil kesimpulan, bahwa ayahnya itu sudah mengetahui tentang kejadian yang menimpa dirinya dulu.
"Ayah maaf kalau selama ini kakak nggak cerita. Kakak sudah putuskan untuk kembali bersama El. Kakak mencintainya yah, kami saling mencintai. Kakak membawa El ke sini untuk memperkenalkannya kepada ayah dan Buna."
"Apa tidak ada laki-laki lain Kak?" Ayah Seno sedikit kecewa dengan keputusan anaknya itu.
"Tidak yah, kakak hanya mencintai El."
"Sudah yah, mungkin memang ini yang dinamakan jodoh. Sejauh apapun mereka terpisah pasti akan bersatu kembali." Ucap Buna Laras bijak.
"Huuuuuft!" Helaan nafas kasar terdengar dari mulut ayah Seno. "Baiklah, mintalah secara baik-baik kepada kedua orang tua Radha jika kamu memang bukan b@jin9@n!"
"Baik Om! Saya akan menemui Papi besok! Eh, maksud saya Om Nara." Elmer langsung meralat ucapannya.
"Besok?" Radha nampak terkejut.
"Ya baby, besok kita akan terbang ke Jakarta."
"Semakin cepat semakin baik, karena usia kalian tidak lagi muda." Ayah Seno masih melayangkan tatapan tajam ke arah Elmer.
"Baik Om!" Jawab Elmer tanpa keraguan sedikitpun.
Setelah perdebatan alot yang terjadi di ruang tamu tadi, sekarang mereka semua berkumpul di ruang makan menikmati makan malam.
Wisnu nampak tak berselera karena sejak tadi ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa menyuapnya sedikitpun.
"Wis, kamu kenapa? Apa masakan Buna malam ini tidak enak?" Tanya Buna Laras yang sejak tadi memperhatikan anak laki-lakinya itu.
"Eh, nggak kok Bun. Hanya Wisnu lagi malas saja. Wisnu ke kamar dulu semua." Pamit Wisnu beranjak meninggalkan ruang makan dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan makannya." Ucap Buna Laras. Mereka pun kembali melanjutkan makan malam dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya oleh sikap Wisnu barusan.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ