
Tepat pukul sebelas malam pesta telah usai. Para tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara. Begitu pula dengan keluarga Shasa dan Sarah. Tertinggal keluarga inti saja dan juga ketiga karyawan Bu Mayang yang nampak kebingungan mencari majikannya.
"Mak Rat, Bu Mayang mana kok nggak kelihatan? Apa sudah istirahat di atas?" Anja menghampiri karyawan bu Mayang tersebut.
"Emak gak tau Nja, tadi pamitnya mau lihat Laras dulu ke atas. Soalnya tadi Entah kenapa Laras tiba-tiba lari dan Radit mengejarnya."
"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu antara Radit dan Laras?" Batin Anja bertanya-tanya.
"Sayang, aku ke atas dulu ya? Pegel ini, baby udah tidur dari tadi kasihan." Nara menghampiri istrinya dengan Radha yang tertidur lelap di gendongannya.
"Iya mas, nanti aku nyusul."
Nara pun akhirnya meninggalkan istrinya di ballroom hotel tersebut bersama ketiga karyawan Bu Mayang yang kebingungan mencari induknya. Papa Hadi dan mama Rosi sudah naik ke atas sejak tadi untuk beristirahat. Sedangkan mbok parni dan Mbak Tini sudah kembali ke rumah bersama Pak Mun. Bima pun juga sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Tinggal mereka berempat, yaitu Anja, Mak Rat, Mbak Ti dan Mbak Sih.
Tak berselang lama Seno memasuki ballroom hotel tersebut dengan menggendong baby Camelia. Anja segera menghampiri Seno, takutnya baby Camelia rewel karena tidak betah berada di sini.
"Ada apa mas? Camel rewel?" Anja mengusap pelan kepala baby Camelia.
"Bukan! Aku baru saja dari rumah sakit Nja!" Sontak saja ucapan Seno barusan membuat ke empat orang tersebut terkejut.
"Rumah sakit?" Beo ke empat orang tersebut.
"Iya, Laras tadi dibawa ke rumah sakit."
"Hah, ada apa dengan Laras Mas?" Anja seketika panik.
"Laras keguguran!" Ucap Seno sendu.
"Lagi?" Air mata Anja sudah merembes membasahi kedua pipinya. Seno mengangguk lemah.
"Kok bisa, apa yang terjadi?" Suara Anja terasa tercekat di tenggorokan.
"Gak tau Nja, tadi aku ketemu mereka di depan lift. Laras sudah berada di gendongan Radit dengan darah yang mengalir di kedua kakinya. Ada Bu Mayang juga, tapi sepertinya Bu Mayang juga tidak tahu apa yang terjadi. Tadi aku ikut ke rumah sakit terus disuruh pulang sama Bu Mayang. Laras sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah dikuret." Pecah sudah tangisan ke empat wanita tersebut saat mendengar penjelasan dari Seno.
"Sebaiknya kalian istirahat saja, besok kita bisa datang ke rumah sakit sama-sama. Ayo kita istirahat dulu." Seno melangkahkan kakinya meninggalkan ballroom hotel diikuti oleh Anja, mak Rat, Mbak Sih, dan juga Mbak Ti.
*****
"Sayang kok lama?" Nara mendekati istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
"Hey, kok nangis ada apa?" Tanya Nara kebingungan. Nara kemudian mengurai pelukannya lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Ada apa?" Nara mengecup kedua mata Anja yang masih berlinang air mata.
"Laras di bawa ke rumah sakit."
"Hah, kok bisa? Kapan? Kenapa?" Rentetan pertanyaan langsung keluar dari mulut Nara tanpa jeda. Anja pun langsung menceritakan semua yang tadi sempat diceritakan Seno kepadanya.
"Apa tadi Laras sempat bertengkar dengan Radit?" Nara mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Mungkin!" Jawab Anja sendu. Tanpa ditanya sekali pun semua orang pasti tahu saat melihat wajah baby twins dan Radit yang seperti pinang dibelah dua.
"Ya udah, besok kita ke rumah sakit. Sekarang istirahat dulu."
"Dedek mana mas?" Tanya Anja saat menyadari ranjangnya yang kosong.
"Sudah aku amankan tadi." Nara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu pikir dedek benda berbahaya sampai diamankan segala." Gerutu Anja.
"Hehe, iya maaf. Tadi mama yang minta agar baby tidur dengannya malam ini. Jadi aku iyain aja. Bukannya itu bagus buat kita?"
"Huuuft, terserahlah." Anja masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.
"Yess!" Teriak Nara pelan saat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ