
"Cari tahu tentang Selena!" Ujar Nara saat memasuki mobil membuat Bima terkejut.
"Hah! Untuk apa? Bukannya selama ini loe menghindarinya? Terus kenapa sekarang jadi kepo?" Bima perlahan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Wijaya.
"Loe masih ingat kalau anak gue punya teman bernama Excel?"
"Excel?" Bima mengetuk-ngetuk dagunya dengan tangan kirinya seolah mengingat nama Excel.
"Yang nama maminya Selena!" Nara mengetok kepala Bima dengan kotak tisu yang ada di atas dashboard.
"Aduh!" Bima mengusap-usap kepalanya yang terkena pukulan bosnya.
"Iya! Terus ada masalah apa?" Bima menoleh sekilas ke arah bosnya.
"Ternyata itu Selena anaknya Pak Handoko."
Ciiiiiiiitttt!
Bunyi ban mobil yang beradu dengan aspal terdengar nyaring saat Bima menginjak pedal rem tepat di lampu merah. Beruntung Nara yang sigap tidak sampai terbentur dashboard.
"Lama-lama loe minta di masukin ke kursus mengemudi lagi." Sekali lagi kotak tisu mendarat di kepala Bima.
"Makanya kalau ngomong yang sekiranya membuat orang terkejut itu jangan saat lagi berkendara kayak gini. Loe sih nggak punya kira-kira, gue kan gampang kagetnya." Sungut Bima ikutan kesal.
"Bukannya Selena belum menikah? Kok bisa punya anak?" Bima kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah berubah menjadi hijau. Nara hanya mengedikkan bahunya saat mendengar pertanyaan Bima.
"Kemarin gue dan Anja ketemu sama Selena dan anaknya di restoran yang ada di dalam mall saat kami sedang makan."
"Serius?"
"Ya! Dan loe tahu apa yang terjadi?"
"Tidak! Kan loe belum cerita." Jawab Bima polos membuat Nara geregetan. "Ya maksud gue, memangnya apa yang terjadi?" Bima segera meralat ucapannya.
"Tu bocah panggil gue Papi sambil meluk gue."
"Hah! Serius?" Bima nampak terperanjat. Nara hanya mengangguk.
"Terus, gimana reaksi Anja?" Tanya Bima kepo.
"Ya dia salah paham lah. Tapi semua udah clear, tenang aja." Nara menyunggingkan senyumnya saat mengingat perseteruannya kemarin siang dengan sang istri yang berakhir keduanya terkapar di atas ranjang.
"Yang bikin gue heran itu, tu bocah pas ketemu gue di sekolahan biasa aja. Tapi kenapa pas kemarin ketemu di restoran bisa panggil gue Papi?" Nara dan Bima bersamaan mengedikkan bahunya. "Kata tu bocah, gue ada di ponsel maminya." Lanjut Nara.
"Mungkin saja Selena menyimpan foto loe di dalam ponselnya, dan tu bocah baru saja melihatnya." Bima mengutarakan pendapatnya.
"Bisa jadi!" Nara membenarkan ucapan Bima.
Mobil yang dikendarai oleh Bima akhirnya tiba di perusahaan Wijaya Group. Nara dan Bima masuk ke dalam kantor beriringan.
Sesuai dengan permintaan bosnya, Bima memerintahkan informan kepercayaan perusahaan yang menyamar sebagai karyawan perusahaan untuk mencari tahu kehidupan Selena beserta anaknya agar tidak menjadi masalah yang berlarut-larut.
Sekitar dua jam kemudian, informan tersebut akhirnya memberikan semua data-data yang dibutuhkan oleh Bima. Bima pun segera masuk ke dalam ruangan bosnya setelah sekilas membaca data-data tersebut.
"Ini yang loe minta!" Bima meletakkan sebuah map yang di dalamnya berisikan data-data tentang Selena dan anaknya ke atas meja kerja bosnya. Informan tersebut memang sengaja meletakkan data-data tersebut ke dalam sebuah map agar tidak ada satupun orang yang curiga, karena orang pasti akan berpikir itu adalah sebuah dokumen perusahaan.
Nara menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian melirik map tersebut. Tangannya segera meraih map itu dan membukanya. Nara nampak menyunggingkan senyum kepuasan. Tertera jelas dalam data tersebut bahwa Selena memang belum pernah menikah. Namun ia sudah memiliki seorang anak yang bernama Excel E Handoko. Di dalam data tersebut tidak dicantumkan nama papinya Excel, melainkan hanya ada nama Selena seorang. Sudah bisa dipastikan bahwa anak itu memang terlahir di luar pernikahan.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ