I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 62



Hari berganti bulan berlalu, tak terasa usia kandungan Anja saat ini sudah mendekati hari persalinan. Dan selama itu pula Miss Lux selalu setia menemani malam-malam kelam Nara. Ya, keputusan Anja tak tergoyahkan sedikit pun meskipun suaminya itu setiap malam selalu merengek, mengeluarkan bujukan dan rayuan mautnya. Alhasil Nara hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Mungkin itu hukuman yang setimpal atas kesalahannya selama ini.


Bima dan para pegawai yang lainnya menjadi sasaran pelampiasan kekesalan Nara saat di kantor. Meskipun ingin rasanya Bima menonjok muka bosnya itu, tapi ia tak melakukan itu. Bima pun hanya bisa pasrah. Kalau saja bukan karena ia tak menghargai Papa Hadi, mungkin Bima memilih hengkang dari perusahaan itu. Bukan sehari dua hari, melainkan berbulan-bulan ia harus menekan emosinya.


Saat ini usia Radha sudah menginjak lima tahun dan sudah bersekolah di sebuah taman kanak-kanak yang lumayan dekat dengan kediaman Wijaya. Sedangkan usia baby Rendra menginjak satu tahun kurang dua Minggu lagi.


Sekitar satu minggu lagi adalah hari perkiraan persalinan Anja. Semua orang merasa deg-degan menanti hari itu tiba.


*****


Satu Minggu berlalu namun Anja belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan, membuat Nara dan mama Rosi semakin tegang. Setelah dilakukan perundingan antara Nara dengan kedua orang tuanya, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan operasi sesar keesokan harinya. Nara pun sudah menghubungi dokter Lusi untuk mempersiapkan segala sesuatunya besok.


Keesokan harinya, suasana di meja makan nampak tegang meskipun ramai dengan celotehan Radha.


"Mas mau kemana?" Celetuk Anja saat melihat suaminya beranjak dari duduknya.


"Tiba-tiba mules, sebentar ya?" Nara segera berlari menuju ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Anja hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sayang, nanti kakak di rumah aja ya main sama dedek." Anja mengelus lembut kepala anaknya.


"Iya ma, kakak akan jagain dedek."


"Mbak Tini, titip anak-anak ya?" Anja beralih menatap Mbak Tini yang sedang menyuapi baby Rendra dengan MP-ASI.


"Siap non!" Jawab mbak Tini sigap.


"Apa semua sudah siap sayang?" Mama Rosi bertanya kepada menantunya.


"Sudah ma!" Mama Rosi menggenggam tangan menantunya yang ada di atas meja bertujuan memberikan kekuatan kepada sang menantu. Sebenarnya Anja sedikit takut untuk menjalani operasi caesar, jika bisa memilih ia lebih memilih untuk melahirkan secara normal saja. Tetapi apa boleh buat, mungkin ini satu-satunya jalan terbaik untuk keselamatannya juga keselamatan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Sudah mas?" Tanya Anja saat melihat suaminya sudah kembali lagi ke ruang makan.


"Heemm!" Nara mendudukkan tubuhnya kembali ke samping sang istri.


"Perasaan tadi pagi Mas Nara lama banget di toilet, bukannya udah buang air sekalian?"


"He'em, sejak pagi perut ku nggak enak rasanya."


"Kalau sudah kita berangkat sekarang!" Putus papa Hadi beranjak dari duduknya diikuti oleh Mama Rosi. Nara pun segera membantu istrinya beranjak dari duduknya kemudian menuntun keluar menuju ke mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Mun.


Sekitar tiga puluh menit mobil yang membawa keluarga Wijaya tiba di depan sebuah rumah sakit yang akan menjadi tempat persalinan Anja. Nara langsung menyerahkan kunci mobil kepada security yang ada di sana untuk memarkirkan mobilnya.


Nara segera memapah istrinya pelan-pelan masuk ke dalam rumah sakit karena sang istri tidak mau menggunakan brankar. Anja merasa baik-baik saja dan kuat untuk berjalan hingga ke ruang persalinan.


Dari kejauhan sudah nampak dokter Lusi dan beberapa perawat yang berdiri menunggu di depan sebuah ruang operasi.


"Selamat pagi pak, Bu." Sapa dokter Lusi ramah saat mereka tiba di depan ruang operasi.


"Pagi dok!" Balas Anja dan mama Rosi serempak.


"Mari Bu, kita langsung masuk ke dalam saja." Dokter Lusi mempersilahkan Anja untuk masuk ke dalam ruang operasi yang pintunya sudah terbuka lebar. Anja pun segera masuk kedalam bersama Nara. Sedangkan Mama Rosi dan Papa Hadi menunggu di depan ruangan operasi tersebut.


"Sayang sebentar, aku ke toilet dulu." Nara langsung ngacir keluar dari ruang operasi tersebut, membuat dokter Lusi dan beberapa perawat menggelengkan kepalanya. Dokter Lusi langsung meminta kepada perawat yang membantunya untuk membantu Anja naik ke atas ranjang.


Melihat sang anak yang keluar dari ruangan operasi, Mama Rosi dan Papa Hadi langsung beranjak dari duduknya.


"Kenapa keluar lagi?" Mama Rosi mendekat ke arah anaknya, namun sang anak malah berlari menjauh.


"Mules ma!" Teriak Nara sambil berlari mencari toilet terdekat. Mama Rosi hanya bisa menepuk jidatnya.


"Ada-ada saja!" Papa Hadi kembali duduk ke kursi diikuti oleh Mama Rosi.


*****


*****


*****


*****


*****


Ini timingnya emak percepat biar sama kayak novel "Luka Hati Luka Diri" πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ